Tampilan Desktop


Ada Apa dengan Bahasa Wolio
247 Dibaca

Ini adalah sebuah tulisan yang sudah lama, namun saya ingin mengangkatnya kembali karena keprihatinan saya akan daerha saya. Tulisan ini diawali saat saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Halu Oleo Kendari yang sekarang dikenal dengan OHO. Saat itu saya merasa malu ketika suatu saat membaca sebuah tulisan di tabloid kampus dalam hal ini OASE. Dalam tabloid tersebut tertulis bahwa Bahasa Wolio Terancam Punah, Saat itu saya lupa siapa penulis dan terbit pada edisi keberapa. Pada saat itu pula bertepatan dengan diselenggarakan kongres internasioanl bahasa-bahasa daerah. Di Aula Kantor Walikota Baubau, tepatnya tahun 2010. Kegiatan besar tersebut diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara bekerjasama dengan Pemerintah Kota Baubau. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan tahunan Kota Baubau saat itu, Festival Perairan Pulau Makasar ( FPPM)

Ada Apa dengan Bahasa Wolio

Muhamad Asrul Salam

Saya tidak ingin mengajak pembaca untuk terlena pada keindahan penyelenggaraan FPPM saat itu, tetapi saya ingin mengajak pembaca untuk memfokuskan perhatiannya pada bahasa daerah dan pemuda. Saya berpikir bahasa daerah dan pemuda merupakan hal yang cukup bagus untuk diperbincangkan terlebih ketika melihat perkembangan zaman atau mungkin dalam istilah gaulnya disebut Globalisasi.

Saya melihat penyelenggaraan kegiatan Kongres Bahasa-Bahasa Daerah dulu membawa kesan tersendiri bagi kota pemilik benteng terluas di dunia ini. Pasalnya ini merupakan kegiatan internasional, memang sih kota Baubau bukan baru kali ini dikunjungi oleh orang-orang asing dalam hal ini turis, orang Korea dan sebagainya. Namun di sisi lain sebenarnya saya melihat bahwa Baubau seharusnya sedih. Mengapa? Baubau yang menjadi tuan rumah dalam perhelatan internasional tersebut sebenarnya perlu merasa sedih karena dari pemaparan beberapa pemateri mengatakan bahwa bahasa daerah Baubau atau disebut juga Bahasa Wolio ternyata adalah bahasa yang terancam punah. Sekian banyaknya bahasa daerah di bumi Sulawesi Tenggara ini, Bahasa Wolio adalah bahasa terancam punah. Apakah tidak pantas kita bersedih dengan hal tersebut?

Saya sepakat dengan apa yang telah dikatakan Asrif dalam tulisannya pada media online (www.baubaupos.com) yang terbit pada tanggal 04 Desember 2010 yang mengatakan bahwa bahasa wolio merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat yang mendiami pusat kesultanan Buton. Dalam hal ini Bahasa Wolio adalah bahasa resmi yang digunakan oleh kerajaan Buton pada masa lampau. Bahasa Wolio mestinya jangan hanya menjadi kenangan akan kejayaannya dulu tetapi Bahasa Wolio harusnya menjadi bahasa yang tetap eksis sampai saat ini. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang pemateri yang tidak lain adalah ketua DPRD kota Baubau, beliau mengatakan bawa ” wolio siy amaid̄i-id̄i maka membali ab̄ongka-b̄ongka dhunia..”. artinya bahwa wolio ini kecil tetapi bisa membongkar dunia, saya mengartikan kata tersebut dengan penafsiran bahwa meskipun wolio ini kecil tetapi dengan eksisnya bahasa wolio maka wolio akan terkenal dengan terpeliharanya bahasa daerahnya, dengan eksisnya tersebut maka dunia akan tahu. Namun pertanyaanya adalah apakah kata-kata tersebut hanya

sebatas ungkapan saja? Apakah dengan tuan rumahnya kota Baubau dalam event Internasional tersebut akan dapat mewujudkan hal tersebut? Ataukah bahasa wolio akan tetap eksis bertahan dengan gelarnya yang terancam punah?

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan bahwa ternyata generasi muda saat ini adalah yang akan mempertahankan bahkan menambah gelar yang disandang oleh bahasa wolio menjadi punah. Pemaparan materi dalam kongers tersebut generasi muda adalah yang disebut-sebut berperan penting dalam mempertahanakan bahasa wolio, atau mungkin dapat dsebut bahwa generasi muda adalah ujung tombak demi eksisnya bahasa wolio yang terancam punah. Dalam pemaparan materi oleh seorang pemateri yang berasal dari luar Sultra megatakan bahwa sebelum menulis materinya maka beliau melakukan terlebih dahulu observasi. Dalam observasinya beliau mengambil sampel sebuah keluarga yang berdomisili di Keraton. Dalam keluarga tersebut nampak bahwa generasi pertama masih pandai/fasih dalam berbahasa wolio, generasi kedua, yang memilki dua anak. Anak pertama pandai berbahasa wolio sedangkan anak kedua tidak pandai berbahasa wolio, sedangkan pada generasi ketiga maka sama sekali tidak ada yang fasih dalam berbahasa wolio.

Hal tersebut memang bukanlah hal yang tidak bisa dipungkiri, generasi-generasi buton sangat mudah tercemar dengan bahasa-bahasa asing, bahasa-bahasa gaul daerah lain. Untuk kawasan dalam benteng Keraton dan Baadia saja ada juga generasi muda yang tidak fasih berbahasa wolio padahal kalau mau dibilang kawasan benteng Keraton adalah kawasan pusat Kerajaan Buton yang notabenenya dulu bahasa Wolio menjadi bahasa resmi tempat tersebut, itu untuk kawasan benteng, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan kawasan luar benteng yang notabene adalah pusat kota. Apakah bahasa wolio masih digunakan sebagai alat komunikasi atau tidak lagi?Mudah-mudahan itu hanya kecemasan saya.

Berbicara panjang lebar tentang pemuda buton (khususnya pengguna bahasa wolio) dan bahasa daerah wolio membuat saya berpikiran semakin cemas akan eksistensinya bahasa daerah tesebut. Mengapa tidak? Sebagian dari pemuda sekarang merasa malu menggunakan/berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Wolio sesame orang wolio. Inikan merupakan suatu hal yang sangat mengherankan, bahasa sendiri kok malu untuk digunakan? Saya mengutip apa yang dikatakn oleh Asrif bahwa “kondisi seperti ini merupakan tanda-tanda suatu masyarakat yang akan bergeser menggunakan bahasa lain yang dianggapnya lebih berprestise. Jika suatu masyarakat cenderung menganggap bahasa lain lebih berprestise dan bahasa yang berprestise itu telah mengambil alih wilayah bahasa pertama, maka bahasa Wolio sedang berjalan menuju ambang kepunahan”.

Selain mengupas permasalahan kebahasaan, dalam kongres juga menyajikan berabagai macam solusi. Solusi yang banyak disebut-sebut dalam event Internasional tersebut adalah “Baubau harus melahirkan sebuah Peraturan Daerah(PERDA) tentang kebahasa daerahan dalam hal ini bahasa wolio. Saya sepakat dengan hal itu, tapi menurut saya kalau menunggu perda kayaknya lama, perlu godokan lagi. Saya hanya berpikiran sederhana saja. Mulai saja melalui pendidikan. Terutama dalam lingkungan keluarga,jadikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Pertanyaanya adalah bagaimana dengan yang berkeluarga bukan sesuku? Saya beranggapan bahwa alangkah kayanya anak yang lahir dari keluarga tersebut, betapa tidak anak tersebut dapat menguasai dua bahasa daerah sekaligus.

Kata seorang pemateri dalam kongres tersebut bahwa pembelajaran bahasa daerah dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan secara pragmatis saja, artinya bahwa secara biasa saja, santai tidak usaha menekan anak, karena jangan sampai anak akan merasa tertekan yang pada akhirnya ketika keluar rumah atau dalam lingkungan formal maka anak tersebut tidak dapat juga berbahasa Indonesia. Jadi intinya diatur sebaik mungkin dalam pambelajaran bahasa daerah tersebut.

Tak kalah pentingnya penddikan formal SD, SMP, SMA bahakan menurut saya Perguruan Tinggipun perlu pembelajaran bahasa daerah. Selain itu pemerintah perlu mengadakan perekrutan dan pelatihan guru-guru bahasa daerah setempat. Saya juga menawarkan beberapa solusi yaitu pemanfaatan media, baik mecatak maupun online, saya kira memasyarakatkan bahasa wolio sangat efektif melalui media tesebut. Mungkin bisa menulis status dengan menggunakan bahsa wolio membuat bahasa wolio lebih terpublikasi dan memancing para pengguna facebook lainnya untuk memberikan komen terhadap apa yang telah ditulis. Dengan demikian bagi orang yang bukan atau tidak tahu berbahasa wolio akan merasa penasaran ingin mengetahui apa arti dari apa yang dituliskan pada status tersebut. bahsa wolio bisa mendunia dengan meodel semacam itu.

Saya piker tidak ada salahnya kalu Baubau mengikut Kota Bandung. Bandung melalui Peraturan Daerahnya menetapkan sehari bahasa sunda, RABU NYUNDA, bahkan Bukan hanya bahasanya tetapi pakaiannya, pakaian sunda. Tidak usah terlalu jauh, saya mengapresiasi apa yang dilakukan Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun, S.H. beliau menetapkan sehari itu berpakaian adat buton, bahkan juga terobosannnya mentapkan hari POBIA.

Aturan bahwa dalam sehari itu harus menggunakan bahasa daerah. Terutama di instansi-instansi dan yang tidak kalah pentingnya menginstruksikan kepada penyelenggara kegiatan seperti festival musik bahwa dalam melangsungkan kegiatan tersebut harus diwajibkan ada lagu bahasa daerah. Bukan hanya penyelenggaraan festival musik tetapi lomba-lomba tentang bahasa daerah perlu ditingkatkan seperti berpidato dalam berbahasa wolio, pembacaan puisi dalam bahasa wolio, mengarang dalam bahasa wolio dan masih banyak lagi kegiatan lainnya yang pada intinya adalah untuk melestarikan penggunaan bahasa wolio itu sendiri. Dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Selain itu menurut saya perlunya penataan ulang papan-papan nama seperti restoran. Apa salahnya kalau “xxxxxx restaurant” ditulis dalam bahasa daerah Banua Kande xxxxxx atau sejenisnya yang tidak lain artinya adalah rumah makan, kalaupun misalnya ingin ditambah dengan tulisan bahasa asing supaya kelihatan gaul mungkin saya kira tidak ada salahnya kalau tulisan tersebut ditulis dengan diberi tanda kurung saja setelah bahasa daerah.

Perlu juga didirikannya lemabaga tentang bahasa daerah, lembaga tersebut tentunya bergelut menjalankan program-program tentang bahasa daerah seperti mengadakan/ mencetak buku-buku, tabloid, kamus yang bernuansa bahasa daerah, melaksanakan seminar, sosialisai atau sejenisnya tentang bahasa daerah dan setelah itu mengevaluasi program-program yang telah dibuat oleh lemabaga tersebut serta melakuakan penelitian-penelitian tentang bahasa wolio itu sendiri.

Kemudian seperti yang disebutkan tadi adalah Peraturan Daerah(Perda). Bandung salah satu contohnya. Harapan saya bahwa bahasa wolio dapat eksis meskipun dalam era globalisasi saat ini. Saya
sadar bahwa solusi yang disebutkan di atas bukanlah harga mati artinya bahwa mungkin masih banyak lagi solusi yang bisa ditawarkan. Apapun solusinya selama itu bersifat membangun dan demi kebaikan saya pikir harus diperhatikan dan dilaksanakan. Saya berharap tulisan sederhana ini dapat dibaca oleh pemerhati dan pengguna bahasa khususnya bahasa daerah Wolio. Saya mengajak seluruh komponen pengguna bahasa wolio terlebih saudara-sadaraku generasi muda untuk meningkatkan kesadaran dan kebanggaan dalam bahasa wolio demi eksisnya bahasa wolio. Banggalah selalu menggunakan bahasa daerah mu sebab bahasa daerah menunjukkan identitas daerah Anda.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan-kegiatan hari ini sudah mulai Nampak diselipkannya bahasa wolio dalam kegiatan, tetapi harus lebih ekstra lagi, karena sekali lagi Bahasa Wolio ini menurut saya sudah di ujung tanduk. Lantas kalau bukan kita yang merawat, memeliharanya siapa lagi?

MAI KOMIU TAPOSA:NGU TALAPE-LAPE WOLIO, MAI KOMIU TAPOSA:NGU TADHAMBAKA POGAU WOLIO. TANGKANAPO!
(MARI SEMUA KITA BERSATU MEMPERBAIKI WOLIO, MARI SEMUA KITA BERSATU MEMELIHARA BAHASA WOLIO. SEKIAN !)

 

Oleh :
Muhamad Asrul Salam
(ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Butuni Mainawa(LSM BUMI)

Tagged with:
HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277

redaksizonasultra@gmail.com

Marketing:

marketingzonasultra@gmail.com