Tampilan Desktop


Animal Politik dalam Animo Politik Pilkada
157 Dibaca

Partisipasi politik masyarakat dalam sebuah sistem pemerintahan demokrasi merupakan suatu hal yang niscaya. Di Indonesia, kran demokrasi mulai terbuka pasca reformasi 1998 yang ditandai dengan runtuhnya rezim Orba. Salah satu dari langkah dalam mewujudkan partisipasi politik itu melalui otonomi daerah. Melalui otonomi daerah ini lah masyarakat di setiap daerah diikutsertakan dalam menentukan pemimpinnya di daerah melalui Pilkada.

Animal Politik dalam Animo Politik Pilkada

Falihin Barakati

Pilkada menjadi salah satu momentum politik masyarakat lokal untuk memilih pemimpin daerahnya secara langsung dalam bingkai demokrasi. Berbagai elit lokal berebut kuasa dengan bekal masyarakat melegitimasi. Legitimasi masyarakat menjadi begitu berharga sebagai obyek utama sehingga masyarakat pun disuguhkan dengan berbagai opera politik para elit lokal guna menarik simpati.

Masyarakat menyaksikan itu dengan berbagai respon dan ekspresi yang membuat masyarakat juga ikut mengambil peran di dalam opera politik ini. Lahirlah Animo politik masyarakat yang tidak hanya menjadikannya sebagai obyek politik tetapi juga sebagai subyek politik dalam Pilkada untuk sebuah suksesi.

Lahir dan berkembangnya animo politik masyarakat akan dimanfaatkan segelintir elit lokal yang mengambil peran sebagai animal politik dalam masyarakat. Animal politik dalam animo politik masyarakat menjelang Pilkada mampu menerkam demokrasi sehingga nilai-nilai demokrasi itu sendiri tak bisa dirasakan oleh masyarakat. Tidak hanya itu, animal politik mampu memangsa hingga ke berbagai sendi-sendi kehidupan masyarakat. Hebatnya animal politik akan tampak laksana malaikat yang baginya tak ada laknat.

Animo politik dan animal poitik didukung oleh pendapat seorang filsuf besar Yunani, Aristoteles mendeskripsikan manusia sebagai zoon politicon yang bermakna bahwa manusia adalah makhluk sosial yang dalam arti sempitnya makhluk politik yang dalam menjalani kehidupannya untuk mencapai tujuan-tujuan dan cita-citanya membutuhkan kerjasama antara satu dan lainnya. Sebagai makhluk politik inilah kemudian animo politik masyarakat begitu tinggi dan ditambah lagi munculnya animal politik yang memiliki kepentingan-kepentingan terselubung dalam kuasa.

Dalam menjalani eksistensi sebagai obyek sekaligus subyek politik dalam Pilkada, masyarakat di luar kelompok elit lokal melakukan berbagai peran dalam opera politik yang didesain sedemikian rupa oleh elit lokal. Berbagai isu dan wacana dimainkan sebagai upaya menggiring opini publik yang mampu meningkatkan animo politik masyarakat. Salah satu jenis isu dan wacana yang mampu meningkatkan animo politik masyarakat dalam Pilkada yaitu isu primodialisme yang digiring ke wilayah politik yang dalam bahasa politiknya biasa disebut dengan politik identitas.

Saling mempengaruhi dengan melakukan pendekatan kesamaan kultur atau daerah menjadi salah satu bagian dari politik identitas dimana ego kedaerahan dijunjung tinggi. Politik identitas seperti ini penulis sebut sebagai sikap politik primodial buta. Animal politik akan memanfaatkan isu ini untuk menghancurkan persatuan dan kebersamaan masyarakat plural demi suatu kepentingan pribadi dan golongannya sendiri.

Selain dari isu primodialisme, salah satu isu yang mewarnai animo politik masyarakat dalam Pilkada adalah saling menjatuhkan pribadi yang sifatnya privasi antar elit lokal yang digiring ke publik. Saling mengumbar aib sana-sini dan hal sekecil apapun yang menyangkut pribadi diangkat tanpa peduli. Dalam bahasa politiknya biasa disebut dengan the black campaign.

Suka atau tidak suka, cara seperti ini mampu meningkatkan animo politik masyarakat khususnya di luar perkotaan yang masyarakatnya mayoritas memiliki tingkat pendidikan minim. Dalam keadaan seperti ini, animal politik berperan sebagai tokoh tanpa celah pribadi yang sempurnah laksana malaikat yang suci. Padahal sejatinya animal politik itulah yang mendasain the black campaign tersebut sebagai sebuah strategi untuk merebut simpati.

Satu lagi yang menjadi pemantik animo politik masyarakat ketika kapitalis menyusup dalam Pilkada. Dengan memanfaatkan nalar pragmatis masyarakat di tengah lemahnya ekonomi masyarakat, kapitalis bisa menjadi animal politik yang kemudian menggunakan kekuatan kapitalnya untuk meningkatkan animo politik masyarakat untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan elit-elit lokal termasuk para kapital di dalamnya.

Ketika pemimpin yang dilahirkan dari proses Pilkada ditunggangi oleh kepentingan capital, maka animal politik memangsa berbagai kebijakan yang seharusnya pro masyarakat menjadi pro kapital yang menjadi penyumbang dana.

Menurut kacamata politik penulis, animal politik memberi pendidikan politik yang sesuai dengan kepentingan. Primodialisme buta, the black campaign termasuk money politic merupakan beberapa diantara banyaknya pendidikan politik yang dilakukan oleh animal politik. Hal ini melahirkan sikap primodial yang tinggi, politik yang tidak santun dan sikap pragmatis masyarakat. Ketika hal ini terus dibiarkan, maka animal politik telah betrhasil mencengkram dan menerkam nilai-nilai demokrasi masyarakat.

Perlu suatu langkah agar animo politik masyarakat dalam Pilkada tidak serta merta dipicu oleh animal politik, tetapi juga harus dilawan atau paling tidak diimbangi oleh kelompok intelektual-independen dengan pendidikan politik yang orientasinya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dalam animo politik.

Kelompok ini selanjutnya penulis sebut sebagai Angel Politik (Malaikat Politik) yang coba menyelamatkan nilai-nilai demokrasi yang dicengkram dan diterkam oleh animal politik dalam animo politik masyarakat khususnya dalam momentum Pilkada. (***)

 

Penulis : Pengamat Politik Muda dan Wakil Ketua PKC PMII Sultra

Redaksi ZonaSultra

View all contributions by Redaksi ZonaSultra

Website: http://zonasultra.com

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277 redaksizonasultra@gmail.com Marketing: marketingzonasultra@gmail.com