Tampilan Desktop



Balitbang Sultra Gelar FGD Pemanfaatan Material Slag Nikel Sebagai Bahan Konstruksi Jalan
258 Dibaca

Balitbang Sultra Gelar FGD Pemanfaatan Material Slag Nikel Sebagai Bahan Konstruksi JalanFGD – Kepala Balitbang Sulawesi Tenggara (Sultra) Sukanto Toding (tengah), didampingi Ketua Dewan Riset Daerah Sultra Andi Bahrun, saat membuka kegiatan Focus Grup Discussion (FGD) tentang kajian pemanfaatan material slag nikel sebagai bahan konstruksi jalan aspal, di salah satu hotel di Kendari, Rabu (19/7/2017). (RAMADHAN HAFID/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengelar Focus Group Discussion (FGD) tentang kajian pemanfaatan material slag nikel sebagai bahan konstruksi jalan aspal, di salah satu hotel di Kendari, Rabu (19/7/2017).

Kepala Balitbang Sultra, Sukanto Toding menyampaikan bahwa FGD ini bertujuan untuk mengkomunikasikan kajian pemanfaatan material slag nikel sebagai bahan konstruksi jalan aspal, agar penelitian tersebut bukan hanya menjadi laporan akhir atau berhenti di laboratorium. Tetapi penelitian itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kegiatan ini diharapkan dapat mendiseminasikan pemahaman bahwa jangan tambang itu menjadi cerita buruk. Nah pemerintah melalui Balitbang Sultra bertanggungjawab untuk itu dan kalau memang dampaknya buruk kita akan melakukan semacam mitigasi untuk mengurangi dampaknya, bahkan kita balik menjadi sebuah yang menguntungkan,” tutur Sukanto ditemui usai kegiatan.

Menurutnya, slag nikel ini sebenarnya buangan Sumber Daya Alam (SDA) yang cukup besar dan bagaimana buangan itu bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Tambang ini masa depan kita, problemnya itu adalah bagaimana ketika semua tambang ini bekerja. Itukan buangannya besar, sehingga sekarang kita harus sudah antisipasi untuk bagaimana buangan itu bisa bermanfaat,” jelasnya.

Ternyata slag nikel ini secara konstruktif, kata Sukanto, cukup kuat untuk konstruksi jalan maupun beton. Selain itu, penelitian-penelitian tentang ini sudah banyak berkembang. Tetapi, lanjut Sukanto, Balitbang Sultra lebih fokus lagi agar slag nikel ini bukan saja sebagai bahan baku, tapi juga bisa sebagai bahan baku substitusi yang digunakan masyarakat untuk dimanfaatkan.

Lebih lanjut Sukanto menjelaskan, memang yang menjadi persoalan sekarang bahwa slag nikel ini masih masuk kategori bahan berbahaya dan beracun (B3). Tapi kata dia, pihaknya sudah mengeksplor bahwa sebenarnya secara konsentrat, slag nikel tidak terlalu berbahaya, hanya saja sudah terlanjur dikelompokkan di kategori B3.

Balitbang Sultra Gelar FGD Pemanfaatan Material Slag Nikel Sebagai Bahan Konstruksi Jalan

“Olehnya itu, kita akan berupaya ajukan di Kementerian agar bisa dikeluarkan dalam list B3. Dan sebenarnya kita juga jangan terlalu risau, kan ini toh bukan sesuatu yang bersentuhan langsung dengan kulit, seperti makanan atau mandi,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk saat ini penelitian tersebut akan dicoba di jalan lingkungan perumahan atau di sekitar daerah pertambangan. Sebab, dari sisi kepadatan slag nikel masih rendah dari Batu Moramo.

Sementara, untuk slag nikel yang akan dimanfaatkan adalah yang ada di PT Antam. Tetapi kedepannya perusahaan pertambangan yang lain juga akan disasar untuk pengembangan dari penelitian ini.

“Pertama mungkin untuk jalan lingkungan di perumahan. Sebab sangat mungkin karena tidak dilewati oleh truk besar, dari pada selalu ketergantungan terhadap aspal atau minyak. Itukan mahal,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Sultra Andi Bahrun, sangat mengapresiasi ide dari Balitbang Sultra terkait pemanfaatan slag nikel sebagai bahan konstruksi jalan aspal.

Menurutnya, potensi limbah slag nikel yang dihasilkan dari pertambangan di Sultra setiap tahunnya sangat besar. Sehingga sudah saatnya, limbah yang besar itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Tetapi yang menjadi persoalan kata Andi Bahrun, slag nikel masuk kategori B3. Itu sesuai aturan PP nomor 101 tahun 2014. Tapi kalau melihat potensi dan pemanfaatannya, meskipun masih perlu pengujian dan kajian lebih lanjut, Andi mengatakan, pihaknya melalui DRD Sultra bersama Dewan Riset Nasional (DRN) akan menyampaikan di Kementerian agar slag nikel dihilangkan dalam kategori B3.

Pasalnya, berdasarkan informasi yang berkembang nikel yang berbahaya hanya nikel sulfida. Sementara nikel oksaid atau lateri tidak terlalu berbahaya.

Dalam kegiatan ini turut hadir beberapa utusan dari instansi lingkup Pemerintah Provinsi Sultra seperti, Dinas ESDM, Dinas Perhubungan, Dinas Cipta Karya, dan Badan Lingkungan Hidup. (A)

 

Reporter : Ramadhan Hafid
Editor : Kiki

DY ZonaSultra

View all contributions by DY ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & Iklan

0821 1188 2277

redaksizonasultra@gmail.com marketingzonasultra@gmail.com

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free