iklan zonasultra

Derita Warga Desa Walai di Konawe, Mencari Air Bersih di Lereng Gunung

Derita Warga Desa Walai di Konawe, Mencari Air Bersih di Lereng Gunung
AIR PEGUNUNGAN - Warga Desa Walai, Kecamatan Abuki, hingga saat ini masih mengandalkan air bersih dari pegunungan. Salah satu Warga terlihat sedang menampung air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. (Dedy Finafiskar/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, UNAAHA – Ripin (40) Warga Desa Walai, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) terlihat lesu saat tetesan air mulai mengeluarkan suara tak beraturan dari atas atap rumahnya.

Sepatah kata sempat terucap dari bibirnya yang kehitaman, “Ousa Toka Hae (bahasa Tolaki), artinya: hujan lagi.” Kalimat itu selalu terucap dari mulutnya setiap kali memasuki musim penghujan.

Terasa malas, dia beranjak dari duduknya menuju dapur. Ia menggambil kain lalu membalutinya dengan karet ban pada ujung selang yang mengarah ke tong penampungan air. Selang itu dipasang terangkai dengan saluran air milik warga lainnya dan sumbernya dari lereng gunung di desa itu.

iklan zonasultra

Ini adalah salah satu cara Ripin mendapatkan air dengan kualitas yang baik untuk dikonsumsi. Kain pada ujung selang itu menjadi penyaring lumpur dan kotoran lain yang terbawa aliran air dalam saluran air.

“Kalau musim hujan, air kebutuhan sehari-hari kami menjadi kabur, sehingga harus disaring dulu supaya jernih. Kan air ini mau digunakan untuk keperluan minum dan memasak,” katanya.

Bagi warga di desa Walai, musim penghujan menjadi petaka bagi mereka dalam mendapatkan air bersih yang hanya mengandalkan mata air di lereng gunung. Karena saat itu, wana air dari lereng gunung berubah menjadi keruh kekuning-kuningan.

Ketergantungan sumber air bersih dari mata air di lereng gunung ini telah dilakukan warga secara turun temurun. Diperkirakan kebiasaan ini sudah berlangsung sejak tahun 1960-an.

Saat itu, warga setempat memperoleh air bersih dengan cara mengangkutnya langsung dari lereng gunung yang jaraknya empat kilo meter dari lokasi pemukiman mereka. Air diangkut dengan Hialu (baca: Kendi) lalu dipikul menuju rumah warga. Untuk kebutuhan waktu lama, air tersebut ditampung dalam bak penampungan yang sudah tersedia di setiap rumah warga.

Dengan mengandalkan iauhu, air yang sudah diisi lalu dipikul hingga mancapai rumah, bahkan dan ini pun dilakukan berjam-jam dan berkali-kali hingga bak penampungan air menjadi penuh.

Lambat laun warga menemukan cara terbaik memperoleh air bersih tanpa harus bolak-balik mengangkutnya dari pengunungan. Dengan bermodalkan bambu yang disambung-sambung, air bersih akhirnya dapat dialirkan sampai ke rumah warga.

Namun pada musim kemarau, warga akan mendapati kendala dimana bambu yang dijadikan saluran air akan mengalami keretakan karena tidak tahan panas secara terus menerus. Hingga akhirnya bamtu itu diganti dengan selang.

“Sekitar tahun 60-70 an, orang tua kami mengandalkan bambu untuk mengairi air bersih. Tapi lama kelamaan kami menggantinya dengan selang. Tapi kendalanya jika selang bocor karena terinjak hewan peliharaan,” kata Ripin.

Walau begitu, musim kemarau belum tentu menjadi waktu yang baik bagi warga mendapatkan air bersih. Karena di musim ini, tak jarang sumber mata air di lereng gunung akan kering. Jika sudah begitu, mereka akan mencari sumber mata air baru.

Meski jaraknya sangat jauh dari lokasi pemukiman, namun mencari sumber air harus dilakukan. Karena hal itu menjadi kebutuhan dasar mereka untuk hidup. Dan ini dilakukan setiap hari tanpa mengenal lelah.

Mereka ibarat para pencari mata air. Karena sesekali tempat penampungan warga kadang ada yang mengalami kekeringan, maka warga yang mengalami kekeringannya di penampungan air bersihnya, akan kembali mencari sumber mata air baru di tempat lain.

Tak hanya itu, setiap kali aliran air mengalami macet, warga dengan terpaksa menyusuri selang. Mereka berjalan dengan membungkuk untuk memperhatikan dengan seksama alur selang air. Tak jarang, mereka menjumpai selangnya bocor. Perjalanan menyusuri selang ini dilakukan hingga ke lereng gunung.

Di lokasi sumber mata air yang ada di lereng gunung, berjejer ratusan selang dengan warna yang bervariasi menempel di lereng gunung. Selang-selang itu terpancang ke dalam mata air.

Bahkan ada beberapa selang ditempatkan pada kolam kecil yang dibuat secara manual dengan susunan batu dilapisi tanah liat. Kolam kecil itu menjadi sumber mata air yang sengaja dibuat warga.

Berpuluh tahun warga desa mempraktekan cara mendapatkan air bersih yang sangat sederhana, ala kadarnya. Di musim kemarau, sumber mata air jadi kering. Sementara musim hujan, air keruh.

Setiap kali air keruh, warga harus mengintari lereng gunung untuk mengecek penampungan airnya agar tidak tersumbat dengan dedaunan. Pun begitu, air yang mengalir dari lereng gunung ke rumah warga, debitnya juga dari hari ke hari kian menurun.

“Untuk mengisi satu tempat penyimpanan air membutuhkan warga berjam-jam. Kadang juga pada jam 2 subuh kami sering ke gunung untuk mengecek ketersediaan air, jika sewaktu-waktu selangnya macet,” kata Ripin.

Sebenarnya, di tahun 1990 an lalu, pemerintah pusat telah menyalurkan bantun bagi warga dengan membangun bak penampungan air bersih di desa itu. Sayagnya, bantuan itu tak dikelola dengan baik sehingga tak bisa berfungsi lagi.

Lalu pada tahun 2006 lalu, Pemerintah Daerah (Pemda) Konawe melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat telah menyediakan aliran air bersih. Namun sebagian warga tetap masih bertahan dengan pola pengambila air dari lereng gungung karena aliran air dari PDAM terkadang macet juga.

“Dulu saya juga mengandalkan air dari pegunungan, tapi karena tidak mau repot setiap musim hujan dan kemarau, makanya saya beralih ke PDAM,” kata Husman (30) warga setempat.

Sayangnya, ketersedian air PDAM ini tidak sesuai harapan warga. Karena air PDAM tidak mengalir setiap hari. Sehingga setiap kali air PDAM tidak mengalir, warga terpaksa sesekali kembali menggunakan air pegunungan.
“Tidak mengalir setiap hari, jadi saya sering menyambung air dari gunung di selang milik tetangga saya,” jelas Husman.

Apa yang dialami Ripin dan Husman adalah potret perjuangan warga desa Walai untuk mendapatkan air bersih. Desa ini merupakan salah satu perkampungan tertua dan memiliki wilayah yang sangat luas di kecamatan Abuki.

Dalam sejarahnya, perkampungan ini sudah empat kali dilakukan pemekaran wilayah dengan melahirkan desa-desa baru yakni Arubia, Epeea, Kumapo, dan Unaasi Jaya.

Desa Walai sendiri dihuni 840 jiwa, dimana sebagian warganya memiliki mata pencaharian yang beragam. Mulai dari petani, buruh bangunan, pekerja serabutan hingga pencari rotan.

Desa ini diperkirakan berjarak 10 Kilometer dengan Unaaha, ibukota Kaabupaten Konawe, memiliki Sumber Daya Alam memadai, utamanya peotensi pertanian dan perkebunan.

Beberapa tahun lalu, salah satu perusahaan perkebunan sawit hendak berinvestasi di desa tersebut, namun langsung ditolak mentah-mentah oleh warga, karena oleh warga dinilai kehadiran sawit akan menjadi petaka bagi kehidupan mereka. (B)

Penulis : Dedi Finafiskar
Editor : Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib