Tampilan Desktop


Guo Vadis Wakatobi?
51 Dibaca

OPINI – Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) di Kabupaten Wakatobi yang dilaksanakan 9 Desember 2015 lalu telah usai. Sebentar lagi, Bupati dan Wakil Bupati Wakatobi terpilih akan dilantik dan diambil sumpahnya guna menjalankan amanah rakyat untuk lima tahun kedepan.

Guo Vadis Wakatobi?

Duriani

Lima tahun adalah masa jabatan namun saat menjabat lima tahun itu diharapkan bisa membawa dampak positif bagi masyarakat Wakatobi untuk tenggang waktu panjang. Menjelang pelantikkan dan pengambilan sumpah jabatan Bupati dan Wakil Bupati nanti nampaknya amat penting bagi masyarakat untuk menyiapkan ruang pribadi untuk membuat semacam perenungan dan refleksi pribadi dengan mencoba membaca secara jujur dan perpikir jernih.

Berpikir jernih dan jujur maksudnya adalah titik tolak menerawang arah program dan kebijakan pemimpin baru hasil demokrasi lima tahunan itu seperti yang tercantum dalam visi misi saat mencari simpatik masyarakat. Pemimpin baru kedepan hendaknya menempatkan diri bahwa jabatannya adalah hasil demokrasi pilihan rakyat, bukan kelompok atau milik simpatisan saja.

Hal ini mengandaikan bahwa sekalipun posisi pribadi kita dalam keadaan kecewa, sakit hati, marah, jengkel namun harus tetap menempati posisinya masing-masing tanpa harus mereduksi maknanya masing-masing.

Berpikir jernih dan jujur  berarti makna dari kebaikan dan keburukan tidak akan pernah dipengaruhi oleh kepentingan kita. Sebagai contoh kita menilai seseorang baik atau tidak baik titik tolaknya adalah dia baik jika memenuhi semua kepentingan pribadi kita dan dia tidak baik apabila kepentingan pribadi kita tidak dipenuhi. Jadi kebaikan yang dimaksud di sini adalah kebaikan universal.

Penting untuk diingat bahwa ketika proses Pemilukada berjalan, kita berpikir mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin daerah ini ke depan. Konteksnya harus melihat Wakatobi sebagai keseluruhan yang terdiri dari 4 pulau yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Dan tidak melihat Wakatobi hanya dari lingkungan dimana kita berada.

Dengan berpikir seperti itu kita sedikit tertolong untuk belajar obyektif dan menyadari tanggung jawab menjadi kepala daerah itu tidak mudah. Ada sekian ribu atau ratusan ribu orang yang kepentingannya harus dijawab. Tetapi dilain sisi kita juga harus menyadari bahwa seorang kepala daerah bukanlah malaikat, ia tetaplah seorang manusia yang mempunyai keterbatasan sama seperti anda semua yang membaca tulisan ini.

Hasil Pemilukada bagi masyarakat  harus benar-benar dimaknai secara mendalam sebab sadar atau tidak sadar masyarakat telah mempertaruhkan nasib dan masa depan daerah ini paling tidak dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Begitu pula bagi semua team suksesi yang telah bekerja untuk memenangkan calon Bupati dan Wakil Bupati terpilih hendaknya meninggalkan ego dan sentiment politik guna pembangunan lima tahun kedepan.

Sekuat dan secerdas apa pun Bupati dan Wakil Bupati hasil demokrasi, tanpa dukungan masyarakat secara umum maka akan meninggalkan kesan buruk bagi daerah. Team suksesi hendaknya kembali mensosialisasikan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih secara jujur dan obyektif agar masyarakat paham dan mendukung demi kepentingan bersama bukan kelompok.

Begitu pula kepada masyarakat terlebih kepada simpatisan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang belum beruntung untuk memberikan dukungan kepada pemimpin baru. Sebagai warga yang taat dan paham betapa pentingnya kedamaian demi kemajuan daerah, maka pendidikan untuk menghargai hasil demokrasi sangatlah penting. Semoga pemimpin kedepan tetap memiliki sifat sifat seperti jujur, adil, transparan dan minimal menyadari tanggung jawab moralnya untuk mensejahterahkan masyarakat sesuai dengan janji politiknya yang diumbar menjelang momen Pemilukada.

Sebagai masyarakat siapapun pemimpin hasil demokrasi, itulah pimpinan daerah yang syah yang akan berjuang membangun daerah ini ke arah yang lebih sejahtera. Namun dalam proses perjalanan demokrasi, patut juga ditilik bahwa masyarakat juga sebenarnya mempunyai keputusan bebas untuk menentukan figure mana menurut mereka yang patut untuk dipilih. Mengapa ? disitulah letak partisipasi masyarakat. Disitulah letak keikutsertaan masyarakat untuk turut berpikir dan berpendapat dengan bebas kemanakah daerah ini nantinya akan dibawa oleh pemimpin baru. Bila diibaratkan dengan sebuah kapal, kepala daerah ibarat seorang nakhoda yang akan menentukan arah, ke arah mana kapal Wakatobi ini akan dibawa.

Dalam tulisan ini saya tidak membangun polemic mengenai figure pemimpin baru hasil demokrasi tetapi  lebih kepada mengajak masyarakat untuk bermenung dan berefleksi bahwa Pemilukada telah usai. Saatnya kita semua bergandeng tangan, bahu-membahu mendukung pemimpin baru. Tidak ada lagi team suksesi, tidak ada lagi kelompok-kelompok dan lain sebagainya. Yang ada hanyalah semangat kebersamaan untuk membangun Wakatobi agar lebih jaya dan tetap dikenal dunia sebagai daerah pariwisata.

Semoga pimpinan daerah yang baru mampu mengemban amanah rakyat sebagai tanggung jawab moral dan amanah yang perlu ia pertanggungjawabkan  baik saat di dunia maupun saat di akherat nanti.

Oleh: Duriani
Penulis Merupakan Wartawan Daerah Wakatobi, Pendapat Pribadi

Tagged with:
HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PROMOSI & IKLAN

0821 1188 2277
redaksizonasultra@gmail.com
Marketing:
marketingzonasultra@gmail.com