Tampilan Desktop

HARAPAN SANG AWAM (ketika orang awam bicara politik)
118 Dibaca

Tulisan ini awalnya ditulis dalam sebuah blog, buri mantale.blogspot.com Dalam Bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah tulisan yang tidak teratur, terhambur. Sesuai dengan judunya jadi tulisan yang hadir tidak mesti tulisan yang bertema politik, tulisan yang tidak mesti baku, tulisan yang tidak mesti menyindir, mengkritik dan sejenisnya. Tulisan yang hadir ini hanyalah pelampiasan, gejolak jiwa yang ingin mengeluarkan unek-unek, kalau di stasiun TV mungkin lewat Uya Kuya, Kesana, kemari, dan hampir dimanapun masih tetap saja pembahasannya. “POLITIK”.

HARAPAN SANG AWAM (ketika orang awam bicara politik)

Aan

Kalau bicara politik itu katanya orang bicara Negara, berat pembahasannya, kalau orang awam seperti saya bicara politik maka kening harus mengkerut sekerut-kerutnya, hal tersebut saya lakukan untuk bisa memahami apa maksud dari pembicaraan para politisi karena memang pembahasannya berat, bahasa yang keluar dari mulut para merekapun ilmiah, mulai dari “sosialisasi, interfensi, komunikasi, sampai reboisasi,
kebunisasi, cangkulnisasi, responisasi” dan isasi-isasi lainnya, pokoknya semua bisa jadi beujung dengan “sasi”. Luar biasa(isasi).

Katanya sih politik itu tidak baik, politik itu kotor, politik itu busuk, politik itu kejam, pokoknya katanya berpolitik itu tidak baik. Tapi menurut saya yang awam akan hal-hal tersebut, politik itu seperti pisau, tergantung siapa yang memegang pisau itu, apakah digunakan untuk kepentingan yang baik atau sebaliknya untuk hal-hal yang buruk. Jadi politik itu yang bikin kotor adalah oknum para politikus. Bukan politiknya, tapi orangnya.

Bicara politik ini hampir sama bicara bola, hampir disetiap sudut bahas Messi, Ronaldo pokoknya orang semua cerdas kalau sudah bicara 2 topik itu. Katanya orang pembicaraan hangat, tapi menurut saya itu bukan lagi hangat namanya, mendidih. Itu yang tepat. Bicara politik identik dengan pemilihan, PILKADA, PILCALEG, PILKADES, PILPRES (yang penting jangan PIL-KB ini berbeda dan
pembahasanya juga berbeda).

Baubau sedkit tahun lagi akan menyelenggarakan “PIL” tersebut, tepatnya PILWALI (Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota). Pemerintahan sekarang baru berjalan 3 tahun, bahkan “ITIK” pun dihadirkan untuk menggoyangkan “pantatnya” di kotamara. Baubau 3 tahun lamanya dipimpin pasangan mesra, katanya banyak
keberhasilan, tapi soal itu biar rakyat lain yang berkomentar, orang awam tidak paham soal itu.

Meskipun masih 2 tahun lagi pemerintahan mesra, namun Baubau hari ini sudah mulai hampir dipenuhi iklan, baleho orang-orang yang akan bertarung dalam kontes PILWALI. Ada yang sudah terang-terangan menyatakan sikap untuk bertarung, ada juga yang masih diam-diam, malu-malu hanya sekedar pasang wajah, ada yang baru
sebatas wacana, bahkan di media sosial (Medsos) pun sudah terbentuk beberapa grup yang lebih khusus membahas tentang pemilihan walikota. Ironisnya, sudah mulai ada pembicaraan menjatuhkan satu sama lain, bahkan terkadang bercampur emosi dalam komentar, masing-masing punya jagoan dan siap untuk dibela mati-matian.

Saya bukan orang politik tapi melihat fenomea tersebut saya pikir adalah hal yang wajar, setiap insan punya hak konstitusi, yang tidak wajar itu menurut saya kalau baleho atau iklanya sampai mengotori kota, memasang baleho di sembarang tempat, menghina atau menjatuhkan yang lain, baleho atau iklan juga jangan sampai menjadi pemicu kecelakaan, itu yang tidak wajar dan itu yang memang harus ditindak dengan tegas. Tentunya dalam memasang iklan dan sebagainya pasti ada aturannya, itulah yang semestinya menjadi acuan para petarung politik ini dalam bertindak.

Sebagai orang awam yang tidak paham tentang “PIL” tersebut, saya meyakini bahwa setiap kandidat tentunya sudah punya bayangan mau dijadikan apa daerah yang dipimpinnya ketika terpilih, punya visi misi dan pasti bagus semua, orang-orang hebat, orang yang berjiwa besar mementingkan kepentingan rakyat dibanding dirinya sendiri.

Harapan orang awam, siapapun anda yang terpilih nanti, berbuatlah, bekerjalah demi kepentingan rakyat, rakyat hanya ingin diperlakukan secara manusiawi, rakyat butuh lapangan pekerjaan, rakyat butuh bahan
pokok yang murah, rakyat butuh kedamaian, keamanan, rakyat butuh kesejahteraan. Rakyat tidak butuh JANJI, OMONG KOSONG.

Jadi wahai para petarung politik, sanggup Anda menjadi “pelayan” Rakyatmu?? Kalau tidak sanggup, kalau hanya berpikir untuk kepentingan dirimu, jangan calonkan dirimu, akan lebih sakit jika sudah terpilih kemudian turun jabatan dengan tidak terhormat karena ulahmu sendiri, kalau tidak sanggup jangan kotori bumi ini dengan balehomu, jangan kotori pendengaran ini dengan Kebohonganmu!!!

 

(ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Butuni Mainawa(LSM BUMI))

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PROMOSI & IKLAN

0821 1188 2277
redaksizonasultra@gmail.com
Marketing:
marketingzonasultra@gmail.com