iklan zonasultra

iklan zonasultra

Harga Kedelai Naik, Tempe di Kendari Masih Stabil

Tempe

ZONASULTRA.COM,KENDARI– Melojaknya harga kedelai di pasaran yang mencapai Rp9 ribu per kilogram, tidak serta merta membuat harga tempe di sejumlah pasar di Kota Kendari juga ikut naik.

Salah satu suplier tempe di Pasar Korem Kendari La Upa (38) mengatakan, menaikan harga tempe akan membuat dirinya dan para pedagang eceran (papale) merugi. Pasalnya, dengan harga normal saja pihaknya kadang masih mengalami kerugian.

Kerugian yang biasanya dialami pedagang eceran adalah tempe yang tidak bertahan lama karena mereka tidak tahu melakukan perawatan. Jika dirawat dengan baik pun, tempe hanya akan bertahan selama 2 hingga 4 hari kedepan.

“Misalnya mas tempe masuk hari ini. Ini kalau nda laku sampe sore, besok dijual lagi. Tapi kalau sudah tidak laku beberapa hari kedepan, biasanya saya sumbangkan ke panti asuhan,” ungkap La Upa kepada zonasultra saat ditemui di sela-sela kesibukannya mengatur tempe, Kamis (14/9/2018) kemarin.

Untuk mengatasi lonjakan harga kedelai, La Upa terpaksa memperkecil ukuran ketebalan tempe yang dijualnya. Pasalnya. untuk sekali produksi saat harga kedelai normal, pihaknya bisa menghabiskan 500 kg. Namun ketika harga kedelai naik, prodkusi tempenya menurun hingga 300 kg.

“Belum lagi bahan lainnya mas, plastik, cuka dan ragi serta bahan tambahan lain untuk menghasilkan tempe berkualitas. Ditambah lagi gaji karyawan selalu naik,” tukasnya.

Saat ini harga tempe yang dijual suplier kepada pedang eceran sebesar Rp1.000 per buah. Kemudian, papale menjual ke masyarakat/pembeli dengan harga Rp5.000 per empat buah.

“Kalau modalnya mereka beli di kita Rp100 ribu, terus dijual Rp5.000 empat buah untungnya tidak banyak, hanya 10 ribuan, belum lagi modal kantongnya,” ujarnya.

Salah satu pedagang eceran Linda (40) mengatakan, sekali mengorder tempe, dirinya mengeluarkan biaya sekitar Rp200 ribu, kemudian dijual dengan harga normal 4 buah Rp5.000, ada juga dijual Rp5.000 per buah yang ukurannya lebih besar.

Besar harapan dari para pedagang, agar pemerintah segera menstabilkan harga dari kedelai di pasaran, agar suplier dan pedagang terbawah yang menjual tempe tidak menelan kerugian.

Harga Kedelai Naik, Tempe di Kendari Masih Stabil“Bisa jadi ada permainan di tingkat pemborong kedelai yang mainka harga, atau hasil panen kedelai juga kurang. Soalnya saya tahu mas, saya juga pernah bertani kedelai itu rawatnya sangat susah, apalagi obatnya sangat banyak,” kata La Upa.

Sebelumnya, Salah satu pengusaha tempe Hijar (75), mengaku telah membuka usaha produksi Tahu dan Tempe sekitar 20 tahun lalu di Desa Lambusa untuk dijual di Kota Kendari.

Pria paruh baya ini juga mengaku cemas dengan pelemahan Rupiah terhadap Dollar saat ini, sebeb berimbang pad harga bahan baku tahu yakni kacang kedelai yang impor dari Amerika.

“Itu, Katanya dengar-dengar mau naik lagi harga kedelainya, pusing mikirinya, kalau nilai tukar rupiah udah tembus sampai 15.000 lebih, bahanya naik sampai sembilan atau sepuluh ribuan, mending tutup produksi, mau dapat apa, sekarang saja sudah tipis untungnya,” curhat Hijar.

Saat ini, dirinya bersama dengan rekan-rekan pengusaha Tempe Tahu terus melakukan strategi untuk tetap dapat meraup untung dalam penjualan.

“Ya harus disiasati, seperti kita permainkan, kurangi isi dan ukuranya (Tahu, Tempe) kalau tidak begitu tidak dapat, kalau naikan harga,konsumen nggak mau tau, paling mereka pindah langganan,” keluhnya.

Menyangkut jumlah kebutuhan bahan baku, Hijar menambahkan, dirinya membutuhkan tiga karung kedelai untuk membuat Tempe dan Dua karung untuk pembuatan Tahu, setiap harinya memproduksi.

Olehnya itu, ia berharap pemerintah bisa turun tangan membantu menurunkan harga kedelai impor. Jika tidak, dikhawatirkan akan banyak usaha kecil produksi tahu tutup atau bangkrut. (A)

 


Reporter: Ilham Surahmin
Editor: Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib