Tampilan Desktop



Kaleidoskop 2016: Kilas Balik Pencalonan Walikota, Terpental Keluar Arena dan Kejutan Kunci
530 Dibaca

Kaleidoskop 2016: Kilas Balik Pencalonan Walikota, Terpental Keluar Arena dan Kejutan Kunci

Kaleidoskop 2016 Berita zonasultra.com

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Sepanjang tahun 2016 suhu politik di Kota Kendari diwarnai sengitnya persaingan bakal calon (balon) walikota untuk mendapat pintu pencalonan dalam pemilihan walikota 2017. Mulai dari legislator, birokrat, sampai pebisnis beradu taktik dan bersaing di arena partai-partai politik.

Dari DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) ada nama Abdurrahman Saleh (ketua), Sudarmanto, dan Adriatma Dwi Putra. Dari DPRD Kota Kendari Abdul Rasak (ketua), Amarullah, dan Normadia Mashur Masie.

Sementara dari kalangan pebisnis terdapat nama Ishak Ismail yang mempopulerkan tagline Anak Lorong. Pebisnis lainnya adalah Sulkarnain, Musakir Mustafa, dan Yani Kasim Marewa. Dari birokrasi pemerintahan ada Kepala Biro pemerintahan Sultra Muhammad Zayat Kaimoeddin dan Wakil Walikota Kendari Musadar Mappasomba.

(Baca : Jelang Pilwali, Ini Komitmen Tiga Paslon Walikota)

Adriatma Dwi Putra

Adriatma Dwi Putra

Figur-figur tersebut berebut rekomendasi partai yang memiliki kursi di DPRD Kota Kendari. Terdapat 35 kursi, yang mana harus mengumpulkan minimal 7 kursi koalisi sesuai aturan 20 persen dari total jumlah kursi. PAN memiliki kursi terbanyak 6 kursi, Gerindra 5, PDIP 4, Golkar 4, PKS 4, Demokrat 4, Nasdem 3, Hanura 2, PKB 1, PBB 1, dan PPP 1.

Terpental Keluar Arena

Dari nama-nama yang mencuat tersebut, Abdurrahman Saleh (ARS) jadi jawara pertama yang mengangkat bendera putih. Sikap mantan Sekretaris PAN Sultra ini diambil tak lama setelah pergantian struktur di tubuh PAN Sultra, Umar Samiun menjadi Ketua dan Sekretarisnya Adriatma Dwi Putra.

(Baca : Abaikan Hasil Survey, PAN Tetap Calonkan ADP di Pilwali Kendari)

Padahal saat itu, ARS telah mendaftar dan mengikuti presentasi visi misi di sejumlah partai politik seperti di Golkar dan Demokrat. Dia beralasan mundur karena melihat perkembangan dan konstelasi politik yang ada. Mundur menjadi pilihan terbaik untuk memberikan kesempatan kepada yang lain.

Abdul Rasak

Abdul Rasak

“Telah terjadi turbulens politik. Nggak ada rivalitas dengan Rasak. ADP jugakan baru di partai, jadi nda ada itu (rivalitas), saya lebih senior dari semuanya itu. Tidak ada juga hubungannya dengan penunjukkan Umar dan ADP sebagai Ketua dan Sekretaris PAN Sultra, tapi silahkan saja masyarakat menilainya seperti apa,” kata ARS, di Kendari, Rabu (25/5/2016).

Figur lainnya, Sudarmanto, Amarullah, Musakir Mustafa, Yani Kasim Marewa, dan Normadia tidak pernah membuat pernyataan terbuka bahwa mereka mundur dari pertarungan. Namun, pada akhirnya tidak satupun yang mendapat rekomendasi partai. Sehinggga otomatis keluar arena dan menjadi penonton. Selain itu, tak ada upaya untuk maju menggunakan jalur independen/perseorangan.

(Baca : Elektabilitas Tinggi, Alasan Golkar Usung Rasak Pada Pilwali Kendari)

Cerita yang hampir sama juga dialami Musadar Mappasomba. Ia mengikuti proses penjaringan hanya di dua partai yakni PKS dan Demokrat. Namun tak satupun yang memberikan restu.

pasangan-calon-walikota-dan-wakil-walikota-kendari-periode-2017-2022-zayat-suriyah-saat-diperkenankan-berdiri-dihadapan-awak-media-oleh-ketua-dpd-pdip-sultra-hugua

PILWALI KENDARI– Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Kendari periode 2017-2022 Zayat-Suriyah saat diperkenankan berdiri dihadapan awak media oleh Ketua DPD PDIP Sultra Hugua, Selasa (20/9/2016) di Grand Clarion Hotel Kendari. Tampak wajah semangat Derik dan senyum manis Suriyah saat melantangkan ucapan kata merdeka. ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM

 

Sempat disebut-sebut akan maju lewat jalur independen. Sayangnya hingga penutupan pendaftaran di KPU Kendari Musadar tak kunjung menyetor formulir pendaftaran calon independen.

(Baca : Akhirnya PDIP Milik Derik Kaimoeddin-Syahriah)

Kisah cukup tragis dialami Ishak Ismail yang membangun komunikasi di lima partai politik, Nasdem, PDIP, Gerindra, Golkar, dan Demokrat. Dia berhasil mendapatkan SK rekomendasi dari Gerindra (5) dan surat tugas dari PDIP. Sayangnya PDIP mengalihkan dukungan. SK Gerindra yang tak mencukupi koalisi akhirnya mengandaskan impian dan segala asa si Anak Lorong.

3 Pasangan Calon Walikota dan Kejutan Kunci

Berbulan-bulan para balon walikota beradu taktik dan jaringan, bahkan beberapa bergerilya ke Jakarta. Hasilnya sungguh mengejutkan dan di luar prediksi. Dua nama secara diam-diam dan rahasia mendadak muncul dan menjadi aktor kunci pertarungan. Haris Andi Surahman dan Suri Syahriah Mahmud, dua nama yang sebelumnya tidak disebut-sebut dan tak pernah bersosialisasi maupun mensosialisasikan diri untuk maju pertarungan.

Entah komitmen politik seperti apa yang dibangun, Abdul Rasak yang gagal mendapatkan rekomendasi PAN tiba-tiba muncul bersama Haris Andi Surahman, kader Golkar pusat yang selama ini lama berproses di Jakarta. Pasangan ini memperkenalkan akronim Rasak-Haris dengan koalisi Golkar (4) dan Nasdem (3). Pas 7 kursi sesuai syarat minimal koalisi pencalonan.

Nur Alam

Nur Alam

Kejutan lainnya datang dari putra mantan Gubernur Sultra La Ode Kaimoeddin, Muhammad Zayat Kaimoeddin (Derik). Tali-temali politik memaketkannya dengan Suri Syahriah Mahmud yang juga legislator Demokrat di DPRD Kendari.

Pasangan tersebut memperkenalkan tagline “Solusi Untuk Semua Golongan” dengan logo bergambar 4 tangan saling berpegangan membentuk persegi. Koalisi partainya lebih dari cukup dengan menggabungkan PDIP (4), Demokrat (4), Hanura (2), dan PPP (1).

Sementara putra Walikota Kendari Adriatma Dwi Putra (ADP) berjodoh dengan kader PKS Sulkarnain dengan akronim ADP-Sul. Koalisi partai pendukungnya cukup komplit PAN (6), Gerindra (5), PKS (4), PKB (1), dan PBB (1).

(Baca : Nur Alam Nyatakan Dukung Abdul Rasak di Pilwali Kendari)

Namun demikian, yang terdaftar sebagai partai pengusung hanya PAN, PKS, dan PKB. Gerindra dan PKB berakhir sebagai penggembira akibat langkah politik kedua partai tersebut di akhir masa pendaftaran.

PBB awalnya merekomendasikan Abdul Rasak dan Gerindra merekomendasikan Ishak Ismail, namun langkah Ishak  terhenti karena tidak mendapatkan partai koalisi yang tak cukup.

Pertarungan Dimulai dan Perubahan Taktik

Pada 24 Oktober 2016, ketiga paslon walikota diplenokan oleh KPU yang menjadi tanda dimulainya babak baru pertarungan. Kemudian, 25 Oktober 2016 pengundian nomor urut, Rasak-Haris mendapat no. urut 1,  ADP-Sul no. urut 2, dan Derik – Syahriah no. urut 3. Ketiganya mulai berkampanye sejak 28 Oktober 2016 sampai 11 Februari 2017 mendatang.

(Baca : Amarullah Tetap Optimis Maju di Pilwali Kendari)

Di tengah-tengah masa kampanye, suhu politik dipanaskan dengan adanya aksi lapor dan temuan panitia pengawas pemilihan (Panwaslih). Alhasil, Wakil Walikota Musadar Mappasoba ditegur Panwas, Lurah Punggaloba dilapor ke komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) RI, dan Walikota Kendari Asrun juga dilaporkan ke Panwaslih.

Jelang Pilwali, Ini Komitmen Tiga Paslon Walikota

PASLON WALIKOTA – Saat KPU Kota Kendari memplenokan 3 pasangan calon (paslon) walikota Kendari di Sekretariat KPU Kendari, Senin (24/10/2016). Pleno penetapan dipimpin langsung oleh Ketua KPU Kendari Hayani Imbu didampingi komisioner lainnya. (Muhamad Taslim Dalma/ZONASULTRA.COM)

 

Namun demikian, gerakan politik paslon walikota seolah tak terpengaruh. Mereka makin gencar turun ke masyarakat dengan mengandalkan kampanye dialogis. Turun langsung ke rumah-rumah warga menjadi ciri khas tersendiri di Pilwali kali ini. Akhir Desember 2016 ini paslon Wali Kota Rasak-Haris dan Derik-Syahriah mulai merubah taktik sosialisasinya.

Rasak-Haris menggelar kejuaraan futsal Abdul Rasak Cup di lapangan futsal Mall Mandonga Kendari. Kejuaraan berlangsung 21-22 Desember 2016. Sementara Derik-Syahriah bekerja sama dengan Rumah Aspirasi Umar Arsal menggelar sunatan massal dan pelayanan kesehatan 21 Desember 2016 di Kelurahan Lapulu dan 22 Desember 2016 di kelurahan Benu-Benua.

(Baca : Gagal Nyalon Walikota Ini Cerita Ishak Ismail Berburu Dukungan Partai Politik)

Lalu siapa yang bakal menahkodai Kota Kendari lima tahun kedepan, akan ditentukan lewat pemungutan suara 15 Februari 2017 mendatang. Bagi paslon yang tak puas dengan hasilnya, pintu gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) terbuka lebar. Bercermin pada hasil Pilkada serentak 2015 lalu, rata-rata paslon yang kalah mengajukan gugatan ke MK. (A)

 

Penulis: Muhammad Taslim Dalma
Editor : Kiki

Tagged with:
HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & Iklan

0822 9264 2997

0853 4040 4947

redaksizonasultra@gmail.com marketingzonasultra@gmail.com

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free