iklan zonasultra

Kisah Anak Jadi Tukang Parkir Demi Biayai Sekolahnya

Kisah Anak Jadi Tukang Parkir Demi Biayai Sekolahnya
TUKANG PARKIR - Alam Gabriel Toasa atau kerap disapa Alam saat menjadi tukang parkir di salah bank yang ada di kota Kendari. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Alam harus menjadi tukang parkir demi meringankan beban kedua orangtuanya. (Sri Rahayu/ZONASULTRA.COM)
Kisah Anak Jadi Tukang Parkir Demi Biayai Sekolahnya
TUKANG PARKIR – Alam Gabriel Toasa atau kerap disapa Alam saat menjadi tukang parkir di salah bank yang ada di kota Kendari. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Alam harus menjadi tukang parkir demi meringankan beban kedua orangtuanya. (Sri Rahayu/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Alam Gabriel Toasa atau kerap disapa Alam rela bergelut dengan teriknya matahari. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Alam harus menjadi tukang parkir demi meringankan beban kedua orangtuanya.

Remaja yang kini duduk di kelas VII SMPN 1 Kendari tersebut, harus rela sebagian waktu di luar sekolahnya tersita, dengan menjadi juru parkir di salah satu Bank yang terletak tak begitu jauh dari tempat tinggalnya yang berlokasi di Jalan Palapa No. 3C, Kecamatan Mandonga.

iklan zonasultra

Pekerjaan yang telah ditekuninya sejak kelas 5 SD tersebut, anak ke-6 dari 9 bersaudara ini sedikit demi sedikit telah membantu meringankan beban bapaknya, Tomson, yang juga berprofesi sebagai juru parkir di tempat yang sama dengannya.

tukang_parkir_sekolah2Alam mengungkapkan, penghasilan yang diperolehnya dari parkir memang tak seberapa, sekitar Rp.20.000 hingga Rp. 40.000 perharinya dengan jam kerja mulai sekitar pukul 14.00 Wita usai pulang sekolah, hingga pukul 15.30 wita.

Hasil yang diperolehnya kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya seperti membeli buku, ataupun ditabung dan diberikan kepada kedua orangtuanya.

Pekerjaan yang dilakoninya tersebut, tutur Alam, tak lantas mempengaruhi prestasinya disekolah. Itu terbukti dengan kesuksesnya Alam mendapat peringkat 5 di kelasnya, pada semester lalu.

“Saya biasanya kerja kalau pulang sekolah. Tapi kalau biasa banyak tugas atau ada les saya tidak parkir,” kata Alam saat ditemui di rumahnya, di Lorong Palapa.

Kata Alam, profesi yang telah dilakoninya sejak 3 tahun terakhir ini berawal dari ajakan salah satu temannya, Beni. Awalnya, ia tak tertarik, sebab sang Ayah juga memiliki profesi yang sama dan di lokasi yang sama pula. Namun, setelah melihat kondisi sang Ibu yang sering sakit-sakitan dan banyaknya kebutuhan keluarga yang harus ditanggungnya, iapun memilih untuk berusaha sedikit demi sedikit meringankan beban orangtuanya dengan mencari pekerjaan ringan dan tetap bersekolah.

Baca Juga : Mengenal Jejak Perjuangan Alwy Mansyur, Veteran Asal Sultra

Selama bekerja, tak jarang juga Alam mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari para pengunjung Bank, meskipun kadang hal tersebut karena kecerobohannya sendiri. Lanjutnya, terkadang ia sampai dibentak-bentak oleh pengunjung karena tidak menutupi kendaraannya dengan kardus bekas, agar tak kepanasan.

tukang_parkir_sekolah1Perlakuan tak mengenakan tersebut kadang membuat Alam seakan ingin menyerah bekerja. Tak terbiasa mendapat perlakuan seperti itu terkadang membuatnya jenuh. Namun, karena mengingat motivasi terbesarnya untuk meringankan beban orang tuanya, maka kejenuhan tersebut diatasinya dengan mudah, yakni dengan menjadikan teguran baginya agar lebih teliti lagi dalam bekerja.

Di samping itu, semangat Alam dalam bekerja tentunya membuat sang Ibu, Martia merasa bangga. Ia tak menyangka, di usia anaknya yang masih anak-anak sudah memiliki semangat untuk mencari uang sendiri dan meringankan beban orang tuanya.

“Sebagai orangtua saya bangga juga. Biasanya itu kalau untuk sekolah jarang dia minta uang. Buku dia beli sendiri. Mungkin dia sedih liat mamanya sakit-sakitan, mana lagi banyak ade-adenya yang ditanggung sekolah,” kata Martia.

Baca Juga : Impian Wajib Naik Tanah Suci Setelah 35 Tahun Berjualan Sapu Keliling

Ayahnya yang juga berprofesi sama dengannya, mengaku senang dengan inisiatif sang anak untuk turut bekerja. Bekerja di lokasi yang sama dengan sang anak, menurut Tomson, bukanlah hal yang perlu dianggap sebagai persaingan, justru malah bisa meringankan pekerjaannya karena bisa berbagi lahan dengan anaknya.

“Cara aturnya kalau kerja ya bagi-bagi lahan, nanti sudah diatur memang dia lahannya yang mana saya yang mana. Tidak ada rebut-rebutan. Biasa malah saya sengaja kasihkan dia lahan yang rame motornya biar lumayan penghasilannya,” tutup Tomson. (B)

 

Reporter : Sri Rahayu
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib