Tampilan Desktop



Kualitas Jambu Mete Sultra Menurun, Ini Penyebabnya
125 Dibaca

Kualitas Jambu Mete Sultra Menurun, Ini PenyebabnyaFGD – Pemateri Forum Group Discusion (FGD) Kajian Diversifikasi Usaha Tani Terpadu Petani Jambu Mete di Sulawesi Tenggara La Panga Mplasi (ujung kanan) saat mempresentasikan materi terkait penurunan kualitas produksi jambu mete, Rabu (12/7/2017) di Dblitz Hotel Kendari. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Kualitas tanaman jambu Mete Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh masih kurangnya pemahaman petani, dalam meningkatkan kualitas produksi tanaman tersebut.

Padahal potensi jambu mete di Sultra cukup besar dengan ketersediaanlahan yang cukup luas. Pada tahun 2014 ada sekitar 39.981 tanaman jambu mete dengan luas lahan 120.871 hektar. Untuk produktivitasnya 417,16 kilo gram per hektar setiap tahunnya dengan jumlah petani 100.633 orang.

Kemudian di tahun yang sama ada 49,0 persen ekspor jambu mentee . Sayangnya, ekspor gelondongan lebih besar 36 persen ketimbang eskpor kacang mete 13 persen, sehingga mengakibatkan keuntunganya lebih sedikit. Hal itu diungkapkan La Panga Mpalasi, dosen Fakultas Pertanian Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) sebagai pemateri Forum Group Discusion (FGD) Kajian Diversifikasj Usaha Tani Terpadu Petani Jambu Mete di Sultra.

Menurutnya, jika potensi perkebunan jambu mete di Sultra cukup besar dengan ketersediaan potensi lahan. Hanya saja, para petani belum mampu memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal sehingga kualitas produksi terus menurun.

“Apalagi, berbagai tantangan dan kendala terbesar terus dihadapi para petani yang ada di daerah,” ungkapnya, Rabu (12/7/2017) di Dblitz Hotel Kendari.

Saat ini, jambu mete di Sultra berada dalam kondisi tanaman tidak produktif, kemudian ada usaha sampingan ternak lepas. Sehingga lahan terlantar, petani kekurangan pangan dan tenaga produktif serta pendapatan jambu mete kurang.

Jika dibiarkan, hal ini dapat membahayakan kondisi perekonomian petani secara pribadi, dan tentunya mempengaruhi produksi jambu mente Sultra sebagai daerah pemasok terbanyak untuk Indonesia sekitar 47,5 persen di atas Sulsel 20,4 persen dan NTT 5 persen.

“Kita harus bangga dengan ini, tapi sayangnya tidak sebanding dengan kondisi sekarang,” pungkasnya.

Sehingga strategi prioritas yang harus dilakukan adalah pemda membuat kebijakan pengembangan rehabilitasi dan intensifikasi budidaya jambu mete dan peternakan dalam Usaha Tani Terpadu (UTT).

Karena itu, lanjut La Panga, perlu meningkatkan partisipasi masyarakat dan penguatan kelembagaan, memberikan bantuan pengadaan teknologi usaha tani terpadu metode diversifikasi horizontal dan vertikal. Selain itu membangun pola pikir masyarakat dengan pola diversifikasi UTT berbasis kewirausahaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Badan Penelitian dan Pengembagan (Balitbang) Provinsi Sultra sebagai mediator dalam kegiatan FGD ini.
Kepala Bidang Ekonomi dan Keuangan Balitbang Sultra, Sensus mengatakan, dalam kegiatan ini pihaknya menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan dalam kegiatan tersebut.

Misalnya, Dinas Perindustrian dan Pedagangan (Disperindag) Provinsi Sultra, Dinas Perkebunan dan Holtikultura (Disbunholt) Provinsi Sultra, Dinas Pertanian Kota Kendari dan pihak akademisi Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) yang dalam hal ini melaksanakan penelitian terhadap potensi jambu mete di Sultra.

“Dengan ini kita harapkan ada suatu rumusanuntuk bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya petani untuk terus mengembangkan produktifitas tanaman jambu mete di Sultra,” ungkapnya saat membuka FGD wakili Kelapa Litbang Sultra. (B)

 

Reporter : Ilham Surahmin
Editor : Kiki

Tagged with:
DY ZonaSultra

View all contributions by DY ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & Iklan

0821 1188 2277

redaksizonasultra@gmail.com marketingzonasultra@gmail.com

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free