Tampilan Desktop



LBH BR : RSUD Palagimata Tidak Manusiawi
32 Dibaca

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Buton Raya (LBH BR), Dhedy Fherianto kepada awak zonasultra.com sangat menyayangkan pernyataan yang dilontarkan Humas RSUD Palagimata, Nur Ifa kepada para awa

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Buton Raya (LBH BR), Dhedy Fherianto kepada awak zonasultra.com sangat menyayangkan pernyataan yang dilontarkan Humas RSUD Palagimata, Nur Ifa kepada para awak media. Menurutnya, pihak RSUD Palagimata secara terang-terangan telah melakukan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan pasien.
 
“Pernyataan Humas RSUD yang tidak mengetahui penyakit pasien dan hanya melakukan pergantian perban itu adalah bukti bahwa pihak RSUD melakukan diskriminasi. Karena faktanya, pasien telah berada sejak lima hari sebelumnya, tapi pihak RSUD sendiri tidak mengetahui jenis penyakit dan kondisi kesehatan pasien,” tegas Dhedy, Minggu (25/1/2015) malam.
 
Yang lebih disayangkan lagi, lanjut Dhedy, pernyataan Humas RSUD Palagimata bahwa pasien mengalami gangguan jiwa alias gila. Menurutnya, pernyataan ini terkesan spekulasi dan hanya mengada-ngada. Pasalnya, ucapan bahwa pasien tersebut gila tidak disertai bukti-bukti medis yang menyatakan bahwa La Ode Halimu mengalami gangguan jiwa. 
“Disamping itu, secara faktual kondisi pasien tersebut dalam keadaan waras. Hal itu dapat dilihat dari jawaban-jawaban yang diberikan kepada pihak pers saat mewawancarai si pasien dan jawaban si pasien sangat logis dan obyektif,” ungkapnya.
 
Dhedy juga mengkritik sikap RSUD yang menempati pasien di dalam kamar mayat. Hal ini juga menurutnya sangat tidak manusiawi. Bagaimana tidak, seorang pasien yang masih hidup bukannya ditempatkan di kamar perawatan yang layak, tetapi justru ditempatkan di dalam kamar mayat. Parahnya, pasien tersebut ditempatkan di kamar mayat dilakukan dengan sengaja oleh pihak RSUD Palagimata. (BACA JUGA : Sadis!!! Belum Meninggal, Pasien Ini Ditelantarkan dan Diinapkan di Kamar Mayat)
 
“Ini adalah tindakan yang sangat tidak manusiawi yang melihat pasien itu secara sebelah mata sehingga diperlakukan secara diskriminatif. Ini kan sama saja menganggap pasien tersebut sudah meniggal. Sangat tidak masuk akal bahwa dalam lima hari kamar inap RSUD semua full atau tidak ada yang keluar?,” katanya dengan nada heran.
 
Oleh sebab itu, LBH Buton Raya menganggap sikap tidak manusiawi yang diperlihatkan oleh pihak RSUD ini bertentangan dengan konstitusi bahwa setiap warga negara memiliki hak hidup mendapatkan pelayanan kesehatan dan mendapatkan perlakuan yang tidak diskriminatif (adil). 
“Disisi lain, berdasarkan UU Kesehatan, tindakan RSUD yang menelantarkan pasien dan berakibat pada cacatnya pasien bisa dikenakan sanksi pidana karena itu adalah pelanggaran hak dasar warga negara yang dijamin konstitusi dan UU,” tutupnya. (Dian)
HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & Iklan

0822 9264 2997

0853 4040 4947

redaksizonasultra@gmail.com marketingzonasultra@gmail.com

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free