Tampilan Desktop


MELAHIRKAN PEMIMPIN SEPERTI DI MESJID
21 Dibaca

 La Ode Rajif Aljabar

La Ode Rajif Aljabar

 

ZONASULTRA.COM – Adzan berkumandang jelang petang itu, dua-tiga pria tua berpeci putih berduyun-duyun ke Masjid dengan sajadah di pundaknya. Didalam, beberapa pemuda dengan rambut agak basah nampak bersegera membentuk saf. Yang muda-muda nampak mengalah, ada yang mundur ke saf belakang bertukaran dengan orang yang lebih tua.

Saf terbentuk dua, nampak ada sedikit keanehan. Dibagian Imam tak ada yang berani mengisi, padahal ada beberapa orang tua berpeci putih, nampak pantas jika dijadikan imam. Orang tua- orang tua itu saling berisyarat, mempersilahkan masing-masing untuk menjadi imam.

Kejadian aneh itu tidak sedikit memakan waktu, hingga akhirnya ada orang tua yang mendorong perlahan seorang pemuda bercelana cingkrang untuk menjadi imam. Dahinya yang sedikit hitam nampak berkerut, seperti berat menerimanya. Namun dengan langkah pasti akhirnya ia berdiri tegap didepan semua orang.

Bacaan Surah Ar-Rahman begitu merdu ia lantunkan. Nampaknya orang tua itu tidak salah menyodorkan Imam. Walaupun ada sebait ayat yang diingatkan oleh seorang jamaah, sholat kali itu begitu tu’maninah, luar biasa khidmatnya. Mungkin saja hanya saya yang kurang khusyu.
Hanya beberapa menit terjadi, sholat berjamaah kali itu menyiratkan sebuah pelajaran kepemimpinan. Bagaimana sebuah pemimpin lahir dari hasil kompromi khidmat yang didasarkan atas pengakuan. Tak ada yang berlomba untuk menjadi pemimpin. Malah yang ada saling merekomendasikan. Masing-masing orang tahu diri, kalau kepemimpinan itu membutuhkan landasan yang kuat, ilmu yang tinggi, kerendahan hati, serta kecukupan lainnya.

Si Imam hadir tanpa menawarkan diri, ia pasti sadar kalau menjadi seorang imam diantara jamaah yang banyak adalah tanggung jawab besar. Justru orang yang mengetahui kemampuannya yang mendorongya untuk memimpin. Tak ada yang keberatan terlebih berisik. Para jamaah mengikut dibelakangnya dengan khidmat, patuh, walaupun ada yang memprotes kesalahan bacaannya dengan merdu nan sopan.
Proses menjaring pemimpin adalah proses yang rumit, Dalam sistem apapun banyak menuai konflik, pun itu dalam sebuah sistem demokrasi sebagai sistem ideal yang paling banyak dianut di bumi ini. Sebagaimana dalam sebuah sistem demokrasi di negara kita, seorang pemimpin lahir dari sekelumit proses perpolitikan yang identik dengan vonis ‘carut marut’.

Energi untuk memilih pemimpin sungguh sangat besar. High cost, sebab hingga triliunan rupiah digunakan. Hasilnya pun luar biasa memiriskan dengan segudang kerusakan nilai-nilai sosial dimasyarakat. Pilkada serentak baru-baru ini nyata mencerminkan hal itu semua.

Seandainya saja proses melahirkan pemimpin sesederhana seperti di mesjid sebagaimana kisah nyata diatas, betapa indahnya kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Tidak sebablas pilkada baru-baru ini. Toh tiap-tiap orang pantas untuk memimpin seperti halnya pondasi ‘equal’ dalam demokrasi, namun kepantasannya lahir dari dorongan orang lain yang didasarkan atas pengakuan kualitas secara khidmat. Jauh beda dengan pilkada kita. Pemimpin yang dihadirkan justru tidak pongah membusungkan dada untuk menawarkan diri seperti lazimnya kita lihat pada baliho-baliho.

Kompleksitas masalah pilkada toh sudah melingkar layaknya ‘circle of devils’. Regulasi aturan (UU No.8 Tahun 2015 dan turunannya) seperti tidak punya taring untuk menghadirkan pilkada yang berkedamaian. Fungsi hukum sebagai perekayasa sosial tidak mampu menahan keberingasan masyarakat yang sporadis merayakan demokrasi langsung. Jumudnya, benteng-benteng keadilanpun runtuh diterjang kelicikan berpolitik.
Melahirkan pemimpin dalam kompleksitas hidup kekinian kenyataannya rumit. Walau tak sesederhana di Mesjid namun banyak hal yang kita bisa tiru dari itu. Tidak muluk-muluklah jikalau itu kita adopsi secara kaffah untuk melahirkan pemimpin. Berbicara mengadopsi secara kaffah memang rumit, namun bukan tidak mungkin jikalau kita mau. Sebuah perubahan dimulai hari ini dari hal-hal kecil oleh kita semua, sebab kalau bukan kita siapa lagi?, kalau bukan sekarang kapan lagi ? Wallahu a’lam bishowab

 

Oleh : La Ode Rajif Aljabar
            Mahasiswa Unsultra asal Kabupaten Muna

Tagged with:

View all contributions by

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277 redaksizonasultra@gmail.com Marketing: marketingzonasultra@gmail.com