Tampilan Desktop

Menghidupkan Bokori, Melestarikan Laut
214 Dibaca

Bokori di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara berubah ramai riuh.  Sore itu, Kamis pekan ke empat di bulan Oktober 2015 ada “Festival Pulau Bokori”. Event dengan ragam kegiatan bahari seperti olahraga bola voli, memancing dan diving yang di laksanakan pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk memperkenalkan Bokori sebagai ikon  baru lokasi wisata bahari di Sulawesi Tenggara selama 4 hari.

Meski festival baru akan di mulai pukul 4 sore, tapi kesibukan sudah nampak dari pagi buta. kapal-kapal hilir mudik membelah lautan biru membawa para penumpang dari kota dan warga dari beberapa perkampungan yang ada tepat di depan Bokori.

Di atas pulau keriuhan  juga tak kalah ramainya. Ratusan orang, Putih, tinggi, gemuk hitam, kurus, anak kecil orang dewasa pria, wanita, tumpah ruah mengisi sudut-sudut pulau dengan berbagai aktifitas. Ada yang hanya berleyeh-leyeh duduk diatas pasir sembari menikmati pemandangan, laut lepas. Ada juga yang  membenamkan diri didalam air tergoda dengan pesona gradasi  warna biru dan hijau laut Bokori.

Bokori, Muasal Pertama Orang Bajo di Kendari?

Bokori, adalah sebuah pulau mungil nan eksotik di depan laut banda. Saat ini luasanya tersisa sekitar 2 kilometer persegi padahal dulu daratan pulau membentang hampir 7 kilometer.  Abrasilah yang membuat pulau ini menyusut.

Dia tak kuat menerima  tamparan ombak laut banda sepanjang tahun yang begitu keras. Bisa jadi kondisi  inilah yang mendorong keluarnya beslit diera Gubernur Alala sekitar tahun 1980, agar tempat ini diubah saja sebagai lokasi wisata, bukan sebagai tempat pemukiman. Meski saat itu pulau sudah di didiami oleh masyarakat etnis bajo atau suku same. Maka perlahan  warga bajo yang sudah lama menatap di pindahkan ke daratan, sebagian di relokasi ke daratan  Konawe (dahulu Kabupaten Kendari) tepat dihadapan pulau tersebut dan sebagian lagi di wilayah Bungku Toko.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan pulau Bokori mulai di huni oleh etnik Bajo. Dari tutur para tetua suku yang diwariskan pada setia generasi, pulau Bokori sudah berpenghuni sejak abad ke 18 bersamaan dengan penemuan teluk Kendari oleh seorang pelayar Belanda bernama Nicholas Jacques Vosmaer usai melakukan ekspedisi Coehoorn Houwerda, yakni pertempuran Tjiriwali melawan Tanette pada Mei 1831.

bokori duaSaat itu pelaut-pelaut Bajo yang kelelahan berlayar menjadikan Bokori sebagai persinggahan sementara. Kondisi pulaunya yang elok membuat orang betah untuk bermukim, lama kelamaan, pulau ini pun mulai ramai, jika awalnya hanya untuk persinggahan, satu dua tiga kelompok akhirnya memutuskan menetap hingga kemudian berubah menjadi pemukiman warga

Begitu pula dengan arti Bokori sampai hari ini warga masih menelusuri terkait kebenaran arti pulau yang berada di mulut bibir teluk Kendari.  Ada beberapa versi yang di yakini sebagai asal mula penamaan Bokori. Ndoli tokoh masyarakat di bajo Bokori bercerita, bahwa nelayan bugislah yang memberi nama pada pulau Bokori.

Bermula  pada abad ke 18, ketika nelayan-nelayan bugis  dari wilayah Makassar memasuki Teluk Kendari untuk menangkap ikan cakalang sejenis ikan tuna. Saat hendak memasuki teluk kapal layar pelaut  melaju kedepan, namun perahu tetiba berhenti ketika mereka mem-boku, menoleh kebelakang, dan melihat sebuah daratan putih di tengah laut.

“Nah dari cerita itulah tercetus sebutan Boku-ri yang artinya pulau belakang nama itu di berikan nelayan bugis,”
 
Versi kedua bermakna penyu. Sebagian orang Bajo mengartikan Bokori sebagai pulau Penyu. Mengapa? Sebab dahulu saat pertama kali pulau ini ditemukan untuk perisnggahan, tempat ini merupakan rumah bagi kawanan penyu. orang bajo yang tidak mengetahui nama pulau berpasir putih itu pun lantas menyebut pulau dengan nama Boko yang di ambil dari bahasa  bajo  yang artinya pulau yang  dihuni kawanan penyu.

La Sara, Profesor Managemen Sumber Daya Perairan Universitas Haluoleo lebih setuju pada versi kedua ini. Bokori berarti penyu.  Persetujuanya atas pendapat versi ke dua di dasarkandari hasil penelitianya beberapa tahun silam terkait ekosistem dan organisma perairan di sekitar kawasan pantai Toronipa.

Dari hasil penelitian berhasil terungkap  bila kawasan perairan Bokori dan sekitarnya dulu merupakan habitat penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan penyu hijau (Chelonia mydas) jenis penyu yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia terutama di Bali.

Pasir putih, adanya padang lamun dan kondisi perairanya yang jernih dan tidak mudah keruh, merupakan karakteristik habitat satwa  purba yang dilindungi itu jelas La Sara yang di hubungi, Jumat  30 Oktober  2105.  

“ 2010 saya berkunjung saya langsung tahu kalau dulunya, Bokori merupakan habitat penyu. saya kroscek ke warga mereka membenarkan dulunya di Bokori banyak penyu” jelasnya.
 
Risal 27 tahun, generasi kedua Bajo di kampung Mekar mengatakan secara pasti arti  Bokori masih ditelusuri. Bagi masyarakat Bajo pulau belakang atau pulau penyu saat ini  begitu penting untuk diperdebatkan. Yang mereka pahami Bokori menjadi bagian sejarah mereka. Bokori adalah kenangan tempat dilahirkan, bermain mendengar iko-iko-lantunan puisi dalam bahasa bajo dan  sumber penghidupan.

“Sejauh ini tidak pernah ada perdebatan. Warga tak mau ambil pusing. Bagi mereka Bokori adalah kenangan, akan asal muasal,” ujar Risal.

Hidupkan  Wisata Bahari

Bukan tanpa alasan pemerintah Sulawesi Tenggara berani  mengambil keputusan untuk kembali menghidupkan lokasi wisata  yang sudah puluhan tahun terbengkalai. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang di komandoi Gubernur Nur Alam memutuskan Bokori harus menjadi ikon baru pariwista di Sulawesi Tenggara.

Alasanya potensi pariwisata bahari di Sultra belum dikelola  secara optimal padahal 11.000.000 km persegi kawasan Sultra adalah perairan, belum lagi  ada 660 pulau yang tersebar di Sultra,  namun dari jumlah itu baru segelintir saja yang sudah di kelola.
 
Hal lain yang mendorong  pemerintah memutuskan membenahi Bokori tentu saja karena tempat itu sejak dulu sudah tersohor sebagai lokasi wisata bahari di Sultra. Hanya saja pengelolaan yang buruk akhirnya membuat pulau ini merana hingga akhirnya terbengkalai.

Maka di medio 2014 menjadi titik awal memperkenalkan Bokori kepada masyarakat. Pemerintah Provinsi menggelar pergantian tahun di Bokori. Berbagai kegiatan dilaksanakan puncaknya di helat pesta kembang api. Tak disangka antusias masyarakat Sultra begitu besar, ribuan warga datang untuk menyaksikan penutupan tahun sekaligus  menikmati alam Bokori meski harus berdesak-desakan.

bokori tigaMelihat animo yang begitu besar yang diberikan masyarakat serta indahnya kondisi alam  di Bokori, membuat Nur Alam bergerak cepat. Ada peluang, Bokori bisa di “jual” hanya perlu sedikit polesan. tambahi, ini itu, Bokori berubah menjadi site wisata yang di minati pelancong local serta  kelas internasional. Bahkan obesesi Nur Alam menjadikan Bokori bisa menjadi objek wisata dunia sekelas Maldive dan Karibia.

Di tahun itu pula pembenahan Bokori pun dimulai. Anggaran lima milyar rupiah dikucurkan secara bertahap untuk menata Bokori yang kondisinya terbengkalai. Dermaga, Cottage yang jumlahnya sekarang 10 unit, jalan setapak, fasilitas listrik dan air bersih bahkan tanggul penahan abrasi di bangun untuk memberi rasa  nyaman bagi yang berwisata.

Keseriusan pemerintah untuk mengembangkan sector pariwisata juga terlihat ditahun yang sama pemerintah membentuk tim  khusus untuk melakukan identifikasi/inventarisasi kawasan potensial pengembangan pariwisata bahari.

Anung Wijaya, staf Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara juga selaku tim yang turut serta dalam melaksanakan  pemetaan kawasan pesisir Sulawesi Tenggara. Khusus di sekitar kawasan Bokori, tim  mengiventaris potensi pariwisata bahari yang tak kalah indahnya dengan daerah lain.

Para wisatawan yang ingin menikmati alam bawah laut Bokori bisa berdiving di sisi selatan pulau untuk melihat aneka jenis karang.  Ada pula  wisata pulau-pulau kecil. Tak jauh dari Bokori ada pulau Hari, pulau Senja Pulau Lara dan Pulau Saponda yang panorama dan sumber daya alam bawah lautnya juga tidak kalah menawan.

Juga wisata pancing  dan olahraga air “ Bokori eksotik pasir putih dan air yang tidak mudah keruh . belum lagi keindahan bawah lautnya berbagai terumbu karang seperti karang meja, karang, karang jamur dan ikan hias ada di bawah laut Bokori,” jelas Anung  dengan semangat menceritakan potensi perairan Bokori dari ujung telepon celullarnya.

Tentu hal yang tidak boleh dilupakan sebagai daya tarik dari Pulau Bokori adalah pantainya yang berpasir putih yang halus dan bersih, ideal untuk berjemur diri dan kegiatan olahraga pantai. Perairannya juga bening memantulkan warna biru di kedalaman dan putih kehijauan di kedangkalan.

Secara demografi Bokori punya aksesbilitas  yang tinggi, dia mudah dicapai. Ada dua jalur  yang bisa ditempuh untuk sampai ke Bokori. Pertama jalur laut, dengan menggunakan moda transportasi katinting atau perahu tempel melalui pelabuhan rakyat di kawasan kota lama. Waktu tempuh dari kendari sekitar satu jam saja.

Adapun alternative kedua melalui jalur darat  dengan moda transportasi mobil atau motor dari kota menuju perkampungan suku Bajo di Kabupaten Konawe hanya butuh waktu sekitar 30 sampai akhirnya tiba di perkampungan bajo  untuk selanjutnya menyebrang menggunakan sampan yang di sewakan penduduk local tarifnya terbilang murah hanya Rp. 25 ribu.

bokori empatProsepek pengembangan wisata di Sultra saat ini bukan tanpa tantangan, hal ini di akui juga oleh pemerintah. Dinas pariwisata selaku leading sector pengembangan pariwista Sultra ini merinci pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Pengembangan dan penataan sarana prasaran, mulai dari akomodasi serta  utility lainya yang akan mendukung kenyamanan wisatawan,  kesiapan destinasi sampai kesiapan SDM untuk mendukung sector pariwisata terus di benahi dan ditingkatkan.

“Pelan-pelan kami mulai mengatasi tantangan yang banyak kami berusaha meminimalisasi saja. Secara perlahan di benahi transportasi, kesiapan SDM semual secara berangsur kami perbaiki,” ujar Zainal Kudus, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sultra .

Hal senada juga diungkapkan La Sara, pakar kelautan dan sumber daya perairan UHO. Dengan berbagai Sumber Daya Alam yang dimiliki, Sultra perlu pengaturan yang jelas terkait apa dan bagimana seharusnya sumber daya alam  dikelola. Kebijakanya dirumuskan Bahkan menurutnya pembatasan pemanfaatan sumber daya alam perlu dilakukan sebagai bagain memperhatikan  daya dukung alam.

“Tidak semua bisa di lakukan dan diterapkan Kalau kita mau menghidupkan wisata, harus kita fikirkan pelsetarianya agar nanti generasi mendatang juga bisa menikmati dan menerima manfaat yang sama dari alam,” kata Lasara.

 

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PROMOSI & IKLAN

0821 1188 2277
redaksizonasultra@gmail.com
Marketing:
marketingzonasultra@gmail.com