Tampilan Desktop

Menunggu Musadar Mappasomba
291 Dibaca

Jika dalam pertandingan sepakbola, perhelatan Pilkada Kota Kendari sudah memasuki tahap kick off. Peluit dimulainya pertandingan telah berbunyi. Ditandai dengan pengumuman Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kendari tentang penyerahan dukungan pasangan calon perseorangan. Jadwalnya tanggal 6 – 10 Agustus 2016 dari pukul 09.00 – 16.00 Wita. Lima hari. Dimulai Sabtu besok hingga Rabu pecan depan.

Andi Syahrir

Andi Syahrir

Dari seluruh figur yang meramaikan bursa bakal calon Walikota Kendari, hanya Musadar Mappasomba yang sempat kedengaran menggalang dukungan untuk maju sebagai calon perseorangan. Tim relawan Musadar bergerak mengumpulkan KTP warga. Saat penggalangan dilakukan, hanya nama Musadar yang “dijual”, sedangkan kandidat wakil walikotanya tidak ada. KPU mensyaratkan dukungan bagi pasangan calon. Walikota dan wakilnya.

Aksi pengumpulan KTP oleh relawan Musadar sesungguhnya respon atas sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang menunjukkan keengganannya untuk mengusung Wakil Walikota Kendari ini untuk maju sebagai calon walikota. Tiba-tiba nama Ketua PKS Kendari Sulkarnain mencuat. Balihonya tersebar dimana-mana. Aksi-aksi publiknya gencar.

Dalam perkembangannya kemudian, Sulkarnain akan diplot menjadi wakil dari Adriatma Dwi Putra (ADP), dalam bingkai koalisi PAN-PKS. Sejauh ini, PKS masih malu-malu atau lebih tepatnya berhati-hati menunjukkan sikap yang terang-terangan.

PKS menunggu waktu yang tepat untuk mencegah keriuhan “tidak perlu” yang bakal terjadi ketika secara sepihak mereka mengumumkan Sulkarnain sebagai calon wakil sebelum ada pengumuman resmi. Agar aman, mereka menunggu hingga “pimpinan koalisi”, PAN, meresmikan rekan koalisi sekaligus pasangan calon yang diusungnya.

Kembali ke Musadar. Setelah sempat ramai kegiatan pengumpulan KTP selama beberapa pekan, lambat laun aksi itu meredup. Bisa jadi, jumlah KTP dukungan sudah memenuhi, yakni minimal sebanyak 24.368 buah yang tersebar di sedikitnya enam dari sepuluh kecamatan yang ada. Kemungkinan lainnya, Musadar menghentikan kegiatan penggalangan dukungan itu dan melanjutkan perburuannya meraih dukungan dari partai politik.

Posisi terjepit yang dialami Musadar sebenarnya cukup mengejutkan. Di atas kertas, Musadar memiliki sejumlah catatan positif yang bisa mendongkrak peluangnya untuk dilirik partai. Pertama, dia adalah calon petahana dalam posisi sebagai wakil. Selama sepuluh tahun mendampingi Asrun, kredibilitasnya sebagai tokoh yang bersih, santun, dan rendah hati tak diragukan lagi.

Kedua, sebagai seorang ulama, Musadar memiliki basis pendukung yang sangat jelas pada simpul-simpul komunitas keagamaan. Dalam beberapa hal, Musadar mungkin saja memiliki lebih banyak pendukung ideologis ketimbang PKS di kondisi kekiniannya.

Bahkan dalam tarik ulur antara mendukung Musadar atau mendorong Sulkarnain, kader PKS sesungguhnya terbelah. Faksi-faksi yang muncul tentu saja berpengaruh pada soliditas kader PKS di bilik suara. Secara struktur, “faksi Musadar” barangkali akan menaati arahan partai untuk mendukung ADP-Sulkarnain, tapi di bilik suara tidak ada yang tahu, baik Musadar ada di kertas suara maupun tidak.

Musadar Mappasomba

Musadar Mappasomba

Kenyataan politik yang dialami Musadar juga menjadi pelajaran penting dalam memahami preferensi partai politik dalam memilih figur yang akan diusungnya. Dalam perspektif pragmatisme politik, Musadar memang bukan sosok yang “ideal” untuk diusung.

Ada dua hal yang sangat mendasar. Pertama, dia dianggap tidak cukup kaya untuk membiayai mesin partai dalam rangka pemenangannya. Kedua, Musadar dinilai terlalu idealis untuk turut bermain dalam bagi-bagi kue kekuasaan kelak.

Selain dua hal mendasar itu, Musadar juga diragukan kemampuannya dalam mengambil kebijakan-kebijakan kontroversial mengingat sosoknya yang humanis, yang dapat dipersepsi sebagai sikap lemah untuk bertindak tegas dan keras.

Hal menarik di tengah denyut politik yang begitu dinamis saat ini, Musadar justru terlihat menggenjot penyelesaian disertasi doktoralnya. Hari Kamis (4 Agustus 2016) kemarin, Musadar resmi dikukuhkan sebagai doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Pemberdayaan Pertanian Perkotaan (Urban Farming) Melalui Pengembangan Pangan Lokal Sikkato (Sinonggi, Kasuami, Kambose dan Kabuto) Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Kota Kendari.

Musadar terbilang cepat menuntaskan studi doktoralnya. Dia memulai kuliah tahun 2013 lalu dan selesai tahun 2016. Tiga tahun. Rata-rata di Indonesia, program doktoral ditempuh empat hingga lima tahun.

Apa maknanya? Gelar doktor akan menjadi “jalur alternatif” bagi Musadar. Kembali berkiprah di kampus jika sekiranya dia tak mampu berkompetisi pada Pilkada Kota Kendari. Sejauh ini, dia masih pegawai negeri sipil. Suatu status yang menjadi alasan PKS bahwa Musadar bukanlah kader, sehingga punya argumentasi untuk tidak mengusungnya.

Menarik untuk menunggu Musadar. Menunggu di kantor KPU hingga Rabu mendatang menyerahkan dokumen dukungan warga. Menunggunya di KPU pada 19-21 September mendatang sebagai kandidat yang diusung partai. Atau menunggunya di Universitas Halu Oleo sebagai dosen. Tapi yang paling penting, menunggu acara makan-makan pengukuhan doktornya, Pak.***

 

Oleh Andi Syahrir
Penulis Merupakan Alumni UHO & Pemerhati Sosial

Tagged with:
HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PROMOSI & IKLAN

0821 1188 2277
redaksizonasultra@gmail.com
Marketing:
marketingzonasultra@gmail.com