iklan zonasultra

iklan zonasultra

Minimalisir Kasus Nelayan Hilang, LPTK Kenalkan Tehnologi Pengawasan dan Keselamatan

41
ilustrasi-nelayan
Ilustrasi

ZONASULTRA.COM, WANGI-WANGI – Kasus hilangnya Aldi, seorang nelayan asal Minahasa Utara yang terombang- ambing di perairan laut Jepang selama 1,5 bulan, bukanlah satu-satunya kasus nelayan hilang yang terjadi di Indonesia.

Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) menyebutkan telah mengurangi kejadian serupa. Kepala LPTK Akhmatul Ferlin, melalui rilisnya kepada zonasultra.com, Selasa, (9/10/2018) menerangkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menaruh perhatian besar dalam upaya meningkatkan standar keselamatan dan keterpantauan nelayan melalui pendekatan teknologi yang ramah bagi pelaku usaha perikanan.

Di Wakatobi misalnya, kejadian nelayan hilang dapat ditemui bahkan hampir setiap bulan, walaupun perbedaannya dengan insiden Aldi hanya pada sarana yang dipakai dan durasi waktu hilangnya.

Untuk mencegah terulangnya musibah hilangnya nelayan akibat kecelakaan seperti hanyut dan sebagainya, lanjut Ferlin, ada tiga simpul masalah utama yang dihadapi oleh nelayan, khususnya nelayan tradisional.

Yang pertama adalah terkait dengan kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan.

Kedua terkait dengan keterpantauan armada-armada nelayan tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi Sumber Daya Alam (SDA) yang berkelanjutan, sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat para nelayan mengalami musibah di laut.

Dan yang ketiga adalah sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di laut sehingga upaya penyelamatan tidak dapat segera diselenggarakan. Dijelaskannya, Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi, salah satu UPT di bawah BRSDMKP, telah mengoperasikan Stasiun Radar Pantai sejak tahun 2012.

Radar pantai tersebut hingga sekarang dipakai untuk memantau lalu lintas kapal melalui 3 teknologi utama yakni Radar X-Band yang digunakan untuk mendeteksi lokasi, arah gerak dan kecepatan kapal, Automatic Identification System (AIS) Base Station. Yang digunakan untuk mengidentifikasi objek radar memanfaatkan transponder AIS pada kapal, dan Long Range Camera yang digunakan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi data sensor lainnya dengan menampakannya secara visual.

Kemudian data sistem stasiun radar tersebut dimanfaatkan oleh Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan otoritas setempat seperti Balai Taman Nasional (Kemenhut-LH), TNI AL dan Bakamla serta Polairud. Selain melakukan pemantauan seluruh kapal yang berlayar di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Wakatobi, dalam dua tahun terakhir, LPTK BRSDM KP juga telah mengambil bagian dalam upaya mengurangi risiko insiden hanyutnya nelayan melalui riset dan pengembangan teknologi mitigasi kecelakaan laut.

“Melalui pendekatan teknologi, diharapkan kehadiran negara akan nyata dirasakan melalui peningkatan standar keselamatan para pelaku perikanan serta mendukung keterpantauan nelayan tradisional untuk perikanan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, para peneliti dan perekayasa di LPTK Wakatobi mempelajari teknologi radar pantai kemudian merekayasa AIS transponder yang dikembangkan secara khusus untuk kepentingan nelayan tradisional. Teknologi ini diberi nama Wakatobi AIS, akronim dari WAhana KeselAmatan dan PemanTauan Obyek Berbasis Informasi AIS. Wakatobi AIS direkayasa bersama LAB247, unit litbang non pemerintah yang giat mengembangkan radar, dan teknologi perangkat lunak yang didesain khusus berdasarkan karakteristik nelayan kecil kita.

AIS transponder ini berbentuk kotak dengan dimensi 14,5x13x20 cm dengan panjang antena sepanjang 100 cm. Setiap unitnya memiliki bobot 0,6 kg agar bisa diaplikasikan pada kapal/perahu nelayan yang berukuran kecil khususnya yang armada berbobot dibawah 1 Gross Ton.

Alat ini didesain dapat bekerja secara portabel dengan baterai sebagai sumber tenaga yang bisa diisi ulang setiap 20 jam pemakaian. Untuk meningkatkan keselamatan nelayan, terdapat tiga tombol pada perangkat ini, yaitu tombol power, Penanda Lokasi Tertentu (custom tag), dan tombol darurat (Distress).

Pengoperasian alat ini cukup mudah. Fungsi dasar AIS yang dimiliki memungkinkan lokasi dan pergerakan nelayan terpantau detik ke detik pada stasiun penerima (VTS). Dengan demikian, jika suatu saat mereka mengalami masalah di laut seperti mesin kapal mati, tenggelam, atau dirampok maka rekaman lokasi para pengguna akan mempermudah pencarian. Selain itu, nelayan juga bisa secara aktif memberikan kabar darurat ke seluruh perangkat penerima AIS lainnya. Dengan menekan tombol distress maka perangkat akan melakukan broadcast pesan AIS selama selang waktu tertentu untuk memastikan pesan teks tersebut dapat terkirim dengan sempurna.

“Teks pesan darurat bisa berupa kode bahaya, identitas yang meliputi nama kapal, pelabuhan asal, dan nomor telepon yang bisa dihubungi dan atau informasi lain yang sebelumnya diprogram kedalam perangkat,” terang Ferlin

Wakatobi AIS juga dirancang untuk dapat terkoneksi ke sistem pemantauan lalulintas kapal (Vessel Traffic System) yang biasa terdapat pada pelabuhan-pelabuhan dan otorita pelayaran. Namun alat ini juga dapat terbaca oleh perangkat AIS pada kapal non perikanan, sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kapal nelayan akibat kapal besar sekaligus meningkatkan jangkauan penggunaan alat kendati alat ini dioperasikan diluar dari jangkauan stasiun darat seperti VTS.

“Dengan dikembangkannya Wakatobi AIS diharapkan kecelakaan laut yang sering terjadi di seluruh Indonesia seperti kapal hanyut, nelayan hilang atau kapal tenggelam yang kerap dialami oleh nelayan kecil pencari tuna dapat dihindari,”harap Ferlin.

Untuk diketahui pada tahun 2017 terjadi 12 kali kecelakaan laut secara beruntun di Kabupaten Wakatobi yang meliputi kapal hanyut, nelayan hilang, kapal tenggelam dll. Sebagian besar dialami oleh nelayan kecil pencari tuna. Kejadian ini dipengaruhi dengan sulitnya mengetahui lokasi kejadian agar SAR dapat segera menyelamatkan para korban. Sementara untuk tahun 2018 dari Januari hingga April 2018 sebanyak tujuh kasus kecelakaan laut. (B)

 


Reporter : Nova Ely Surya
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib