Tampilan Desktop

Mosehe Wonua, Tradisi Sakral Suku Tolaki yang Diyakini Dapat Mensucikan Diri
1565 Dibaca

ZONASULTRA.COM, WANGGUDU– Menurut cerita rakyat, bahwa dahulu ada sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Konawe. Raja Konawe yang terkenal adalah Haluoleo. Dari keturunan orang-orang kerajaan inilah yang menjadi masyarakat suku Tolaki sekarang.

Suku tolaki mendiami beberap daerah di wilayah daratan di Sulawesi Teggara (Sultra), antara lain Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, kota Kendari dan Kabupaten Kolaka.

Suku Tolaki memiliki ritual yang secara turun-temurun tetap terjaga dan terpelihara hingga kini. Salah satu ritual yang dianggap paling sakral adalah Moshe Wonua. (Baca Juga : Ribuan Masyarakat Konut Hadiri Acara “Buang Sial”)

Mosehe Wonua adalah suatu tradisi suku mekongga yang dilaksanakan secara besar-besaran, ramai dan penuh hikmat sakral sehingga diharapkan masyarakat ikut terlibat didalamnya termasuk seluruh utusan yang mewakili negerinya (daerah) masing-masing dari seluruh kerajaan mekongga bahkan tokoh adat, masyarakat, agamawan, pemerintah sipil maupun militer akan larut bersama dalam pesta prosesi upacara mosehe wonua.

Mosehe berasal dari bahasa mekongga yg terdiri dari dua suku kata yaitu, MO yang berarti melakukan sesuatu dan SEHE yang berarti suci. Jadi mosehe adalah penyucian negeri. Kalau bahasa tolaki mosehe berarti perkelahian.

Mosehe wonua merupakan adat tradisi suku mekongga, suatu upacara ritual yang telah berlangsung sejak abad XIII pada zaman pemerintahan raja Larumbalangi, yang kemudian diikuti oleh raja-raja mekongga berikutnya.

Seperti, raja Rumbalasa, setelah usai perang melawan kerajaan Konawe. Setelah berdamai, dua kerajaan tersebut melakukan upacara ritual mosehe bersama-sama sehingga kedua kerajaan sepakat untuk menikahkan putra putri mereka, yaitu sangia lombo-lombo yang merupakan putra dari raja Larumbalasa yang mempersunting Wungabee, putri dari Buburanda saa I Wawolatoma.

Sangia lombo-lombo jg pernah melaksanakan mosehe wonua, yaitu pada saat terjadinya peristiwa Koloimba.

Pada awal abad XVII, sangia nilulo (toberambe) juga mengadakan upacara ritual mosehe wonua, stelah beliau sembuh dari sakit yang berkepanjangan. Dan disinilah awalnya mosehe wonua dipadukan dengan lulo sangia.

Seperti diketahui bersama, sebelum masuknya agama islam dikerajaan mekongga pada akhr abad XVII yang dibawa oleh Opu daeng Masaro, maka masyarakat suku mekongga pada masa itu masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

Yang artinya percaya terhadap benda-benda yg mengandung roh serta memuja terhadap barang-barang kuno, sehingga manifestasi dari kepercayaan tersebut membuat masyarakat suku mekongga pada masa lampau mengenal adanya 3 dewa (sangia) yang mempunyai etventis tersendiri antara lain, Sangia mbuu yg dikenal sebagai pencipta bumi dan isinya, Sangia nduu, sebagai pemelihara bumi dan isinya dan Sangia molowo, sebagai pemusnah dan penghancur.

Upacara adat “Mosehe Wonua” (penyucian negeri/kampung) sebagai kepercayaan tradisi leluhur masyarakat Mekongga merupakan suatu ritual yang diperkirakan telah berlangsung secara turun-temurun sejak abad ke-XIII sebagai bentuk penghormatan terhadap para dewa (Sangia).

Untuk menghindari kemurkaan para dewa tersebut, mereka mengadakan upacara adat Mosehe Wonua, dengan harapan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa (Ombu) berkenan menerima upacara Mosehe Wonua ini bagi kepentingan keselamatan dan kemaslahatan orang banyak.

Akan tetapi pada sekitar akhir abad ke-XVII, daerah Mekongga mendapat pengaruh yang besar dari agama Islam. Masuknya pengaruh Islam ke daerah Mekongga sangat mempengaruhi budaya Mosehe Wonua yang mana budaya tersebut mengalami perubahan dimana mosehe Wonua sudah menjadi bernuansa Islami.

para adatOrang tolaki berbicara dalam bahasa Tolaki. Bahasa Tolaki merupakan cabang dari bahasa Austronesia, dan masih berkerabat dengan bahasa Mekongga. Budaya dan bahasa tolaki memiliki banyak persamaan dengan budaya dan bahasa Mekongga. Kemungkinan antara suku Tolaki dan suku Mekongga masih terdapat kekerabatan dari sejarah asal-usul di masa lalu.

Bagi masyarakat suku tolaki di Kabupaten Konawe Utara, Mosehe Wonua memiliki nilai historis tersendiri. Seluruh masyarakat suku tolaki menjadikan Mosehe Wonua dapat menghilangkan segala kesialan serta menghapus dosa-dosa yang pernah diperbuat. Baik itu kesalahan pemimpin maupun kesalahan masyarakatnya.

Seperti yang dilakukan suku tolaki di Kabupaten Konawe Utara. Percaya atau tidak, setelah Mosehe Wonua dilakukan di Kecamatan Oheo Konut, Selasa (27/10/2015), daerah yang boleh dibilang sudah sekian bulan dilanda musim kemarau, tiba-tiba hanya berselang sejam pasca selesainya acara upacara adat Mosehe Wonua. Terik matahari yang menyengat berubah menjadi mendung dan hujan pun turun.

Tokoh adat suku tolaki di Sulawesi Tenggara yang melakukan upacara adat Mosehe Wonua, Arsalim mengatakan, upacara adat Mosehe Wonua bagi suku tolaki harus terus dilestarikan hingga anak cucu bangsa.

“Upacara adat Mosehe Wonua bermakna untuk pensucian seluruh negeri Konawe Utara serta menolak bala besar maupun kecil dari murka seruh sekalian alam dari ulah manusia itu sendiri,” kata Arsalim.

Wilayah Konut sebelumnya pernah ditinggalkan oleh penghuninya, disebabkan banyaknya kerusakan-kerusakan alam sehingga mayoritas tatakrama penghuni wilayah jadi terabaikan. Baik adat istiadat, perburuan maupun bidang pertanian khususnya pergaulan sudah banyak bergeser yang telah digariskan oleh leluhur suku tolaki.

Menurut Arsalim, tolak bala Mosehe Wonua merupakan jembatan penghubung untuk dijadikan doa permohonan kepada Ilahi Rabbi agar segala perbuatan dan dosa penduduk seluruh anak negeri mendapatkan pengampunan untuk kemaslahatan masa yang akan datang.

Pada upacara adat Mosehe Wonua disiapkan bahan-bahan seperti daun sirih, kapur sirih yang ditempatkan di atas tapis dan ditutup daun pisang. Upacara adat Mosehe Wonua ditutup dengan penyembelihan seokor ternak yang yakini sebagai pelengkap uapacara adat.

Ketika seekor ternak hendak akan disembelih oleh tokoh adat Mosehe Wonua, seluruh masyarakat yang hadir saling berpengangan satu sama lain dengan makna pemersatu untuk menghapus semua dosa-dosa. (***)

 

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PROMOSI & IKLAN

0821 1188 2277
redaksizonasultra@gmail.com
Marketing:
marketingzonasultra@gmail.com