iklan zonasultra

iklan zonasultra

Musim Kemarau, Konut Darurat Kekeringan

Musim Kemarau, Konut Darurat Kekeringan
DARURAT KEKERINGAN - Tim BPBD Konut saat meninjau sumur masyarakat di Desa Matandahi yang mengalami kekeringan akibat di musim kemarau yang melanda sejak 2 bulan terakhir ini.(Jefri/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM,WANGGUDU – Bupati Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra), Ruksamin mengumumkan daerahnya dalam status darurat kekeringan. Pengumuman itu disampaikan secara tertulis kepada Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Pengumuman status darurat kekeringan itu dikeluarkan Ruksamin menyusul banyaknya lahan pertanian dan persawahan masyarakatnya yang kesulitan mendapatkan pasokan air. Kondisi ini mulai terjadi dua bulan lalu, sejak musim kemarau melanda daerah itu.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Konut, Raup kepada awak ZONASULTRA.COM, Jumat (9/11/2018). Dia mengakui, saat ini daerahnya tengah dilanda bencana kekeringan yang berimbas pada sektor pertanian dan juga perkebunan.

“Saat ini tim BPBD masih melakukan pendataan dilapangan. Kita tunggu laporan datanya sebagai acuan kita mencari solusinya. Ini murni faktor alam, bukan dibuat-buat,” kata Raup.

Dia menambahkan, sebagai penanganan awal, pihaknya telah menyalurkan batuan mesin pompa air dilokasi masyarakat yang mengalami kekeringan.

“Dari Pemda sudah menyalurkn mesin pompa air untuk membantu masyarakat untuk bisa memperoleh air. Baik untuk kebutuhan tanaman maupun kebutuhan lainnya. Kami berharap, bantuan yang kami berikan sementara ini bisa membantu masyarakat kita,”terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan BPBD Konut, Djasmiddin mengatakan pengumuman status tanggap darurat kekeringan itu diterima pihaknya melalui Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan bupati setempat. Setelah itu, pihaknya langsung melakukan pemantauan di sejumlah wilayah yang dilanda kekeringan.

Hasil pemantauan itu ditemukan delapan kecamatan di Konut dilanda bencana kekeringan, yakni kecamatan Motui, Sawa, Lembo, Lasolo, Andowia, Asera, Langgikima dan Oheo.

Di delapan kecamatan itu, masyarakat tak hanya kesulitan pasokan air untuk pertanian dan persawahan, mereka juga mengaku susah mendapatkan sumber air bersih untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

“Sumur tempat mereka mengambil air bersih sudah kering. Tak hanya itu, air gunung yang juga salah satu sumber warga mendapat pasokan air sudah tidak mengalir lagi,” ujar Djasmiddin. (B)

 


Reporter:Jefri Ipnu
Editor: Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib