Tampilan Desktop

Pangdam VII Wirabuana Bahas Pendidikan Bela Negara dengan Rektor USN
230 Dibaca

Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti bersama Rektor USN Kolaka, Azhari saat menjadi narasumber dialog pendidikan bela negara di stasiun TVRI Sultra, Senin (21/12/2015) malam. (Saban/ZONASULTRA.COM)

Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti bersama Rektor USN Kolaka, Azhari saat menjadi narasumber dialog pendidikan bela negara di stasiun TVRI Sultra, Senin (21/12/2015) malam. (Saban/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KOLAKA- Panglima Daerah Militer (Pangdam) VII Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti bersama Rektor Universitas Negeri Sembilan Belas November (USN) Kolaka, Azhari membahas pentingnya pendidikan bela negara bagi generasi muda di salah stasiun televisi di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (21/12/2015) malam.

Agus Surya Bakti yang mengaku baru pertama berkunjung di Kendari itu mengatakan, saat ini pihaknya tengah konsen dengan program pendidikan bela negara bagi generasi muda, utamanya di kalangan mahasiswa.

Sebab mahasiswa sebagai motor penggerak bangsa memiliki andil besar terhadap kelangsungan kesatuan negara Indonesia.

Menurutnya, pendidikan bela negara bertujuan untuk meningkatkan semangat cinta tanah air dengan menumbuhkan rasa saling menghargai dan empati terhadap sesama warga negara Indonesia.

“Saat ini sudah terjadi perang non fisik, berupa perang ideologi, sosial budaya, dan ekonomi. Dampak dari hal ini, nanti 20 hingga 30 tahun kedepan akan terjadi kontak fisik,” kata Agus Surya Bakti.

Dia menilai, dunia maya (media digital) memiliki peranan besar dalan menampilkan budaya asing secara bebas, walaupun itu mengandung unsur armia dan radikalisme.

Ditempat yang sama, Sekertaris Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme san Radikalisme (FLPT) Sultra, Muslim mengatakan, perguruan tinggi kini menjadi bersemayamnya praktek anarkisme.

“Padahal, trend kekerasan itu bukan ciri khas Indonesia, itu berasal dari luar Indonesian. Saat ini segala sesuatu dilakukan dengan kekerasan, sorang mahasiwa melawan dosennya. Dimana budi pekerti mahasiswa itu?,” tanyanya.

Menurut Muslim, konsep cinta tanah air tidak lepas dari peranan orang tua sebagai guru dalam pendidikan keluarga.

Menanggapi hal itu, Rektor USN Kolaka, Azhari mengatakan, bibit kekerasan dari kampus disebabkan perbedaan pandangan soal ideologi.

“Kalau yang dibahas mahasiwa adalah soal ideologi, maka cakupannya akan luas, sehingga muncul banyak perbedaan. Makanya pendidikan bela negara harus dikembalikan dalam kehidupan kampus,” jelas Azhari.

Menurut Azhari, gerakan cinta tanah air harus kembali ditanamkan dalam semua jenjang pendidikan. Sebab, setelah era reformasi 1998, publik mulai terbiasa dengan kebebasan berdemokrasi. Padahal, demokrasi itu identik dengan anarkisme. Karena dalam demokrasi pasti ada perbedaan.

Rektor termuda di Indonesia itu berpendapat, saat ini pemerintah harus mengembalikan kurikulum pendidikan moral dan pancasila sebagai mata pelajaran wajib untuk semua jenjang pendidikan di Indoensia, termasuk pendidikan tinggi.

“Kita harus kembali melihat falsafah pancasila. Pendidikan moral pancasila mestinya kembali diadakan,” katanya.

Untuk mengembalikan roh ideologi pancasila ke dalam diri generasi muda Indonesia menurut Azhari, adalah dengan cara memperkuat tatanan ideologi pancasila dalam diri para mahasiswa.

 

Penulis : Abdul Saban

Editor : Rustam

Redaksi ZonaSultra

View all contributions by Redaksi ZonaSultra

Website: http://zonasultra.com

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PROMOSI & IKLAN

0821 1188 2277
redaksizonasultra@gmail.com
Marketing:
marketingzonasultra@gmail.com