Panti Asuhan Anak Yatim Piatu di Koltim Memprihatinkan

Panti Asuhan Anak Yatim Piatu di Koltim Memprihatinkan
PANTI ASUHAN - Anak-anak panti asuhan yatim piatu Al-Hidayah Penganggo Jaya, Kecamatan Lambandia, Kolaka Timur (Koltim) sedang belajar kerajinan tangan membuat lampu hias. Meskipun serba keterbatasan mereka tetap berkreasi dan belajar akidah akhlak. Foto : Istimewa

ZONASULTRA.COM, TIRAWUTA– Berkarya di jalan kebaikan memang bukanlah perkara mudah. Begitu banyak rintangan atau tantangan yang mesti harus dilalui.

Begitulah dirasakan Pembina dan Ketua yayasan panti asuhan anak yatim piatu Al- Hidayah Penanggo Jaya, Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra). Demi kelangsungan aktivitas di panti asuhan, mereka harus berjuang walau penuh dengan keterbatasan.

iklan zonasultra

Panti asuhan Al-Hidayah Penanggo Jaya resmi terbentuk sesuai dengan keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: AHU. 0015827.AH.01.04 tahun 2018. Meskipun telah berbadan hukum, namun kegiatan panti baru berjalan sekitar tiga bulan lalu.

Panti Asuhan Anak Yatim Piatu di Koltim Memprihatinkan

Panti asuhan ini telah memiliki tempat sendiri berupa musholla yang dihibahkan dari salah seorang warga, Turmudhi. Ukuran musholla 15×15 meter per segi.

Di mushollah itulah, 17 anak-anak panti diasuh. Ke-17 anak yatim dan piatu tidak bermalam di musholla. Setelah belajar mereka kembali ke rumah keluarganya masing-masing.

17 anak panti Al-Hidayah, terdiri dari 14 laki-laki dan tiga perempuan. Usianya bervariatif, mulai dari usia 9 tahun sampai 14 tahun. Namun dari jumlah itu, satu anak diantaranya telah yatim piatu, selebihnya, yatim.

Jam belajar anak panti diawali pada pukul 08.00 wita dan berakhir sampai pukul 13.00 wita. Untuk makan siang, anak panti biasanya makan di gubuk Hidayat, Ketua Yayasan Panti Asuhan Walau sederhana, tapi semua penuh hikmah.

Para anak yatim dan piatu, belajar hanya sekali saja dalam seminggu, yakni pada hari Minggu saja atau di waktu libur sekolah. Sebab hari Senin sampai Sabtu rata-rata dari mereka bersekolah. Mereka tidak sampai bermalam, sebab bangunan untuk menampung anak-anak yatim piatu tersebut sampai sekarang belum ada.

Panti Asuhan Anak Yatim Piatu di Koltim Memprihatinkan
Mushollah panti asuhan yatim piatu Al-Hidayah

Menurut pembina panti asuhan Al Hidayah, La Insan, permasalahan yang mereka hadapi saat ini adalah kurangnya buku-buku pembelajaran. Di samping itu, minimnya tenaga pengajar.

Di panti asuhan Al hidayah hanya tersedia dua tenaga pengajar yakni La Insan sendiri dan Hidayat. Namun mengatasi hal itu, biasanya pengurus panti menyewa tenaga pengajar dari luar.

“Mau diapa pak. Terpaksa kami harus lakukan begitu. Meskipun kami harus mengeluarkan dana pribadi. Dari pada anak-anak tidak belajar, “ujar La Insan yang juga anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) Polsek Lambandia.

Panti Asuhan Anak Yatim Piatu di Koltim Memprihatinkan17 anak-anak panti, memperoleh pengajaran berupa akidah dan akhlak serta belajar bagaimana mengasah keterampilan kerajinan tangan yang bersumber dari sampah daur ulang.

“Alhamdulillah, keterampilan tangan yang kami ajarkan baru-baru ini adalah bagaimana membuat lampu hias dari limbah kayu yang sudah tidak digunakan. Sudah ada yang jadi. Nanti kalau 10 muharram, kami lelang semua pada donatur-donatur yang datang berkunjung ke panti asuhan kami.Semoga mereka sudi dan membeli hasil kerajinan anak-anak kami, ” kata La Insan.

Ketua Yayasan Panti Asuhan Al Hidayah, Hidayat mengaku, inisiatif pendirian panti asuhan Al Hidayah karena dorongan dari dalam hati ketika melihat banyaknya jumlah anak-anak yatim di Kelurahan Penanggo Jaya.

“Waktu pulang ke Jawa saya banyak dapat masukan dan inspirasi dari teman-teman. Begitu pulang, kami pun bertekad mendirikan panti asuhan. Terus terang di Penanggo Jaya ini banyak anak-anak yatim, ” kata Hidayat.

Baik La Insan maupun Hidayat berharap agar pemerintah daerah, maupun pihak lain dapat berpartisipasi dalam pembinaan anak-anak panti asuhan terutama menyediakan sarana dan prasarana belajar. Apalagi anak-anak yatim dan piatu itu juga adalah generasi penerus bangsa ke depan. (a)

 


Kontributor : Samrul
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib