iklan zonasultra

Pariwisata “Pesta Syirik yang Mengundang Bencana”

Fina Restiar
Fina Restiar

Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alamnya yang tersebar luas di daratan maupun di lautnya. Indonesia juga terkenal dengan keragaman agama, ras, suku, budaya, dan adat istiadatnya.

Berbicara tentang budaya dan adat istiadat, berarti berbicara tentang kebiasaan yang memang telah dilakukan selama beratus tahun bahkan mungkin berabad lamanyayang dilakukan secara turun temurun oleh suatu etnis tertentu.

Sebut saja Festival Gunung Slamet (FSG). Pemerintah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah akan mengusulkan Festival Gunung Slamet (FGS) yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini, agar bisa masuk dalam agenda pariwisata nasional. Hal itu disampaikan Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Partiwi, saat membuka pelaksanaan FGS belum lama ini (28/9/18).

“Saya berharap, tahun depan FGS dapat menjadi salah satu agenda pariwisata nasional yang ditetapkan Kementerian Pariwisata,” jelasnya.(sumber : Republika. Co. Id)

Adapun beberapa kegiatan dari festival Gunung Slamet ini yaitu pawai budaya, festival ebeg (kuda lumping), perang tomat, dan masih banyak lagi kegiatan yang sarat akan nuansa ‘maksiat’.

Bukan hanya itu saja, Festival Namoni di Palu, Sulawasi Tengah juga sarat akan maksiat yang tidak hanya berhasil mengundang wisatawan lokal maupun domestik namun jiga berhasil mengundang murka-Nya. Bagaimana tidak, dalam perayaan festival ini terdapat salah satu ritual yang di percaya oleh suku Kaili dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Mengharapkan kesembuhan dengan membuat sesajen dan di giring ke laut adalah mengharapkan kesembuhan dengan cara yang salah.

Tidak dapat dipungkiri, di Indonesia masih kental akan kepercayaan terhadap Animisme dan Dinamisme. Terbukti dengan ritual-ritual yang dilakukan di perayaan festival tahunan itu.

Jika dilihat kebelakang, ternyata upacara atau ritual ini telah lama di tinggalkan.  Namun kembali dihidupkan karena kearifan budaya seperti ini tentu memiliki ‘nilai jual’ tersendiri. Banyaknya wisatawan dari dalam dan luar negeri pastinya ikut menambah tumpukan rupiah bagi pemerintah.

Hidup dalam kubangan lumpur hitam sistem Demokerasi Kapitalisme tentu hal seperti ini bukan lagi menjadi hal tabu. Selama ada manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan itu, maka hal itu harus bin wajib di lakukan. Sekalipun melawan aturanNya(Allah).

Tidak heran, jika Allah sang pemilik alam semesta beserta isinya ini murka. Lihat, bencana alam silih berganti melanda negeri. Lombok, Palu, Sigi, Donggala seharusnya sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita untuk segera kembali pada aturan Allah.

Sejatinya, semua bencana yang terjadi adalah akibat dari dosa dan kemaksiatan manusia. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Al Qur’an surah Ar -Rum : 41 yang artinya :

” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan (kemaksiatan) manusia suoaya Allah menimpakan kepada mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya)”.

– Pariwisata dalam Sistem Islam –

Banyak negara memanfaatkan bidang pariwisata sebagai salah satu sumber perekonomiannya. Dengan memanfaatkan potensi keindahan alam, baik yang alami maupun buatan, serta keragaman budaya yang ada, dunia pariwisata dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan negara.

Namun, di sisi lain pariwisata ini juga mempunyai dampak negatif kepada negara, khususnya masyarakat setempat. Dampak itu terlihat melalui invasi budaya di dalam negara, khususnya masyarakat yang hidup di sekitar obyek wisata.

Sebagai negara dakwah, Sistem islam menerapkan seluruh hukum Islam di dalam dan ke luar negeri. Dengan begitu, Sistem Islam telah menegakkan kemakrufan, dan mencegah kemunkaran di tengah-tengah masyarakat. Prinsip dakwah inilah yang mengharuskannya untuk tidak membiarkan terbukanya pintu kemaksiatan di dalam negara. Termasuk melalui sektor pariwisata ini.

Obyek yang dijadikan tempat wisata ini, bisa berupa potensi keindahan alam, yang nota bene bersifat natural dan anugerah dari Allah SWT, seperti keindahan pantai, alam pegunungan, air terjun dan sebagainya. Bisa juga berupa peninggalan bersejarah dari peradaban Islam. Obyek wisata seperti ini bisa dipertahankan, dan dijadikan sebagai sarana untuk menanamkan pemahaman Islam kepada wisatawan yang mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Ketika melihat dan menikmati keindahan alam, misalnya, yang harus ditanamkan adalah kesadaran akan Kemahabesaran Allah, Dzat yang menciptakannya. Sedangkan ketika melihat peninggalan bersejarah dari peradaban Islam, yang harus ditanamkan adalah kehebatan Islam dan umatnya yang mampu menghasilkan produk madaniah yang luar biasa.

Obyek-obyek ini bisa digunakan untuk mempertebal keyakinan wisatawan yang melihat dan mengunjunginya akan keagungan Islam. Sehingga, memperkuat keyakinannya akan keberadaan dan keMaha Esa’annya sang pencipta,Allah SWT.

Wallahu A’lam Bissaawwab..

 

Oleh : Fina Restiar
Penulis Merupakan Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Buton

1 KOMENTAR

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib