Tampilan Desktop


Pemuda di Belantara Politik
124 Dibaca

Gerak sejarah kepemimpinan Indonesia terus bertransformasi. Dulu, rekrutmen kepemimpinan berlangsung tanpa sengaja. Kini, pemimpin sengaja diciptakan. Pada masa lalu, pemuda menjadi motor perjuangan. Di kekinian, pemuda adalah “anak bawang” yang diminta menunggu antrian.

Pemuda di Belantara Politik

Andi Syahrir

Di era pergerakan kemerdekaan, perjuangan politik adalah penderitaan. Sekarang, kontestasi politik adalah magnet. Menarik banyak kutub untuk berkompetisi. Menawarkan lezatnya kekuasaan. Pun meniscayakan kegilaan.

Anies Baswedan memetakan regenerasi kepemimpinan ke dalam beberapa tahap perkembangan kebangsaan. Sebelum kemerdekaan, pemimpin umumnya berasal dari jalur aristokrat, budaya ataupun agama.

Pada masa 1920-1940-an, pemimpin muncul dari kalangan intelektual yang terdidik secara modern. Di antaranya, nama seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir.

Di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, pemuda-pemuda berbasis militer muncul dan mengantarkan mereka ke puncak kepemimpinan. Terwakili oleh Soeharto, Ahmad Yani, dan Nasoetion. Kekuasaan militer berlangsung cukup langgeng karena tidak adanya akomodasi terhadap demokrasi.

Memasuki era pertengahan 1960-an sampai 1970-an, mulai muncul pemuda pergerakan yang dimotori oleh aktivis-aktivis kampus. Karakter gerakan itu berbeda jika dibandingkan dengan gerakan mahasiswa era 1900-an.

Karakter intelektualitas gerakan pemuda tahun 1960, 1970, hingga 1980-an dinilai lebih kecil. Pemimpin yang terlahir di era ini pun memiliki unsur kompromi dengan struktur kekuasaan yang didominasi militer. Nama seperti Akbar Tandjung, Hariman Siregar, dan Cosmas Batubara mewakili era ini.

Tahun 1990-an, ketika gelombang demokratisasi membanjir, kepemimpinan diisi oleh para aktivis. Pemuda pergerakan di masa ini tak lagi perlu menjalin kompromi dengan struktur militer yang telah tersingkir.

Di era 2000-an sampai sekarang, kepemimpinan bergeser menjadi lebih komersial yang sangat dipengaruhi oleh ideologi pasar. Pemuda-pemuda yang memasuki ruang politik adalah mereka yang memiliki basis finansial ataupun yang berada di lingkaran relasi biologis penguasa. Yang menyedihkan, dominasi politik komersial yang ditandai dengan gelontoran dana telah menghilangkan perdebatan ideologi.

Kadar intelektualitas pergerakan kian menciut. Aktivis pergerakan tidak lebih dari sekadar pedagang kaki lima yang menjual dagangan bermodal ban bekas dan sebuah pengeras suara. Mereka ke jalanan dengan kesepakatan transaksional. Di sisi lain, partai politik bukan lagi kawah candradimuka untuk mengkader pemimpin. Visi dan ideologi partai hanya sebatas dokumen untuk memenuhi syarat formal. Politisi lompat pagar adalah fenomena lazim. Kader terbaik akan takluk oleh modal terbaik.

Di masa lalu, syarat menjadi pemimpin adalah dipenjara. Sekarang, syarat untuk dipenjara adalah menjadi pemimpin. Barangkali memang bijaksana jika para politisi tua melarang anak-anak muda memasuki rimba raya politik praktis.

Terlalu sayang jika usia muda mereka lalu dihabiskan di balik jeruji demi sekadar lima atau sepuluh tahun berada di ring kekuasaan. Barangkali memang bijkasana para politisi tua itu. Mereka memilih pensiun di balik dinginnya tembok penjara ketimbang menjerumuskan para anak-anak muda.

Sadar atau tidak, realitas ini destruktif bagi kehidupan kebangsaan. Untuk memutusnya membutuhkan kegilaan. Kehadiran para pemuda-pemuda “gila” yang tak memiliki pundi-pundi memadai pun relasi biologis (atau setidaknya relasi emosional) di lingkaran penguasa, mungkin sebuah anomali. Barangkali salah satu solusi. Boleh dicoba. Bukankah negeri ini tempat uji coba apapun?

 

Andi Syahrir

Alumni Pascasarjana UHO & Pemerhati Sosial

 

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277

redaksizonasultra@gmail.com

Marketing:

marketingzonasultra@gmail.com