Tampilan Desktop


Pengurangan Resiko Bencana di Sultra Butuh Peran Komunitas
243 Dibaca

pelatihan pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) terhadap stakeholder terkait di tingkat Provinsi Sultra.Foto Istimewa

pelatihan pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) terhadap stakeholder terkait di tingkat Provinsi Sultra.Foto Istimewa

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan salah satu daerah yang sangat rentan terhadap resiko bencana, khususnya bencana alam. Oleh karena itu dibutuhkan peran komunitas masyarakat yang bisa mengurangi dan mengelola resiko bencana itu.

Team Leader Technical Assistance and Training Team (TATTS)  Sultra Tanty SR. Reihan mengatakan, pengurangan resiko bencana di Sultra dimulai dengan pelatihan pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) terhadap stakeholder terkait di tingkat Provinsi Sultra. Hal itu diwujudkan dalam sebuah pelatihan yang berlangsung di Hotel Plaza Inn Kendari, 27-30 Oktober 2015.

PRBBK  adalah sebuah pendekatan yang mendorong komunitas akar rumput dalam mengelola risiko bencana di tingkat lokal. Olehnya kata Tanty, penanggulangan bencana harus melibatkan berbagai komponen, bukan hanya semata-mata tanggung jawab badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) seperti yang diketahui selama ini, tetapi juga komunitas atau masyarakat itu sendiri. Untuk itu para fasilitator atau instruktur harus dilatih bagaimana melakukan kajian di tingkat komunitas.

“Total peserta pelatihan sejumlah  40 orang, sebagian besar  staff BPBD Provinsi Sultra dan sisanya  perwakilan instansi terkait  meliputi dinas kesehatan, TNI (Korem dan Kodim), Polri, Basarnas, PMI, FKPPI, dinas sosial, NGO, OPD,  SenKom dan Bappeda yang selama ini telah menjadi full facilitator di Sultra,” kata Tanty usai kegiatan tersebut, Jumat (30/10/2015).

Melalui pelatihan PRBK tersebut diharapkan peserta dapat menjadi fasilitator dan corong bagi BPBD kabupaten dan kota. Selain itu kata Tanty, alumni pelatihan itu diharapkan bisa mengadvokasi pihak-pihak terkait untuk berperan bersama membangun kekuatan dan penanggulangan bencana mulai dari akar rumput dengan jastifikasi dan pengetahuan dasar.

Salah satu staff BPBD Sultra Muhammad Yusuf menjelaskan bahwa pengetahuan ini seharusnya menjadi pengetahuan dasar dari seluruh staff BPBD, khususnya di tingkat kabupaten dan kota yang berdekatan dan bersentuhan langsung dengan komunitas itu sendiri.

Selain itu, lanjut dia, staff BPBD Sultra semestinya diwajibkan untuk mengetahui keterampilan menfasilitasi kajian ini agar bila mereka ke daerah sudah memiliki dasar-dasar, karena bencana itu adanya di tingkat komunitas.

“Kami sangat menghargai kegiatan TATTS ini karena dalam proses pelatihan kita dituntut untuk disiplin dan bersungguh-sungguh, sangat berbeda dengan pelatihan-pelatihan lain.  Disini bukan dipersingkat tapi kalau peserta belum paham malah ditambah waktunya, dan kami tetap antusias mengikutinya walau kadang harus pulang malam,” kata Yusuf.

Sementara itu, Chairil dari Community Poor Consortium (CPC) Sultra menganggap bahwa kajian berbasis kommunitas ini sangat selaras dan mendukung sekali kegiatan di akar rumput. Korban bencana umumnya adalah masyarakat miskin karena mereka tidak memiliki struktur bangunan yang tahan gempa, tinggal di daerah rentan bencana yang seharusnya dapat ditindaklanjuti secepatnya oleh pihak-pihak yang berkompoten.

Perlu diketahui bahwa The TATTs Consotium ini terdiri dari  IiNGKAR, ASB, CARDNO, Forum Perguruan Tinggi Indonesia dan Mercy Coerps Indonesia hasil kerjasama  USAID, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Mercy Corps Indonesia yang saat ini bekerja di 6 probinsi di Indonesia, salah satunya Provinsi Sultra.

 

Penulis: Muhamad Taslim Dalma
Editor: Jumriati

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277

redaksizonasultra@gmail.com

Marketing:

marketingzonasultra@gmail.com