Tampilan Desktop


Penyadap “Si Manis Aren” dari Pulau Kabaena
244 Dibaca

PENYADAP GULA AREN- Awaludin pria berusia (35) tahun warga Desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah saat sedang memasak air nira untuk dibuat menjadi gula aren, Jumat (26/8/2016). Kegiatan ini telah menjadi mata pencaharian dirinya selama kurang lebih 20 tahun terkahir.(ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

PENYADAP GULA AREN– Awaludin pria berusia (35) tahun warga Desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah saat sedang memasak air nira untuk dibuat menjadi gula aren, Jumat (26/8/2016). Kegiatan ini telah menjadi mata pencaharian dirinya selama kurang lebih 20 tahun terkahir.(ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, RUMBIA – Selepas shalat Subuh, puluhan penyadap air nira di Desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai berjalan menelusuri jalan yang cukup terjal menuju lokasi pembuatan gula. Ada yang menggunakan sepeda motor dan adapula yang berjalan kaki.

Hembusan angin pegunungan yang begitu dingin tak menghalagi mereka untuk segera melakukan rutinitas yang telah menjadi salah satu mata pencaharian warga di desa tersebut.

Pagi itu, suara ketukan khas parang yang dipukul ke batang pohon aren seakan menemani suara kicauan burung yang menanti datangnya fajar. Juga memberikan isyarat bahwa seorang pembuat gula aren sedang melakukan prosesi awal pembuatan gula aren dengan mengambil air nira yang menjadi bahan utamanya.

Pondok tempat pembuatan gula aren

Pondok tempat pembuatan gula aren

Dialah Awaludin (35), salah satu pembuat gula aren di Desa Tangkuno. Berbekal sebuah bambu berdiameter sekitar 4 cm dan panjang sekitar 40 cm yang dijadikan tempat penampungan air nira, dengan gerakan tangan penuh semangat melawan udara dingin dirinya memukul-mukul batang pohon aren itu.

Setelah merasa air nira yang dikumpulkannya cukup, Awaludin kembali ke pondok yang berjarak sekitar 30 meter dari lokasi pengambilan air nira untuk segera memulai prosesi pembuatan gula aren.

Dengan mengenakan kaos oblong berwarna hijau, celana pendek hitam dan topi merah hitam, Awaludin terlihat menuju pondok berukuran 5×6 meter yang terbuat dari papan dan beratapkan rumbia itu. Tak berselang lama, gumpalan asap mulai keluar dari sela-sela dinding dan atap sebagai pertanda bahwa pria ini mulai memasak air nira.

Memasak air nira bukan lah pekerjaan mudah. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk mendapatkan hasil gula yang terbaik.

Awaludin mengatakan, setiap hari dirinya mulai bekerja memasak air nira sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 12.00 siang. Terkadang, jika air nira yang didapatan berlebihan, maka proses memasak akan kembali dilanjutkannya sore hari hingga malam hari.

“Ya kalau masih bisa saya ambil air nira, maka lanjut terus memasaknya, kalau misal sudah tidak cukup dan tidak ada hasil tambahan, ya dilajutkan besoknya,” ungkap Awaludin saat ditemui Zonasultra.com, Jumat, 26 Agustus 2016.

Ketika dimasak air nira itu akan semakin menyusut dan menjadi warna kekuningan seperti karamel. Saat itu, hasil masakan akan dibiarkan mengeras lalu dicetak dengan cetakan dari tempurung kelapa berukuran tak lebih besar dari gumpalan tangan orang dewasa.

Salah satu warga lainnya yang sedang melakukan penyadapan di atas pohon aren.

Hasil cetakan gula aren

Sekali memasak air nira dengan takaran tiga hingga lima liter akan menghasilkan satu biji gula aren. Ketika proses memasak dilakukan hingga malam hari, Awaludin bisa menghasilkan 7-20 biji gula aren.

Namun, untuk menghasilkan gula aren dengan kualitas terbaik, Awaludin harus melawan perihnya asap dan panasnya api yang dibiarkan terus menyala membakar setiap kayu yang dimasukkan ke tungku raksasa di kedalaman 1,5 meter di bawah permukaan tanah.

“Kami usahakan apinya terus menyala, dan tangan ini harus terus mengaduk air nira diatas wajan,” terangnya.

Setelah diproses hingga percetakan usai, gula aren itu akan ditampung selama satu minggu dan disimpan di atas bumbungan api atau disimpan di dalam ember yang ditutup rapat agar tetap menjaga kualitas gula tetap dalam kondisi keras.

Setelah seminggu menampung gula aren, saatnya pria ini memasarkan gula buatannya itu ke pasar yang ada di Sekeli dan Dongkala, pusat keramaian di Pulau Kabaena. Dalam sehari dirinya bisa mendapatkan Rp. 50.000. Namun terkadang pembeli juga akan datang langsung ke tempatnya untuk membeli dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 4.000 hingga Rp.14.000.

Namun, tak selamanya proses pembuatan gula aren akan berhasil serta menghasilkan gula aren dengan cita rasa manis. Pasalnya, untuk mendapatkan hasil gula yang manis tergantung pula pada kualitas air nira dan jumlah yang didapatkan sekali menyadap. Terkadang diakui Awaludin, ada pohon aren yang airnya tidak manis dan jumlahnya sedikit.

Salah satu warga lainnya yang sedang melakukan penyadapan di atas pohon aren.

Salah satu warga lainnya yang sedang melakukan penyadapan di atas pohon aren.

Selain itu, proses pengambilannya juga akan mempengaruhi cita rasa air nira, makanya teknik pukulan seorang penyadap saat mengambil air nira harus dapat dilakukan dengan baik.

“Cara pukulnya ada juga berapa kali ketukan dan jedanya jadi prosesnya juga tidak sembarang, pemilihan pohon juga dan waktu pengambilan akan mempengaruhi hasil air nira,” tukasnya.

Awaludin telah menjalani kegiatan penyadapan ini sekitar 20 tahun dengan cara yang begitu tradisional dan ia selalu menjalani pekerjaan ini sendiri, namun terkadang dirinya juga dibantu oleh keluarga saat prosesi pengeringan gula saja.

Asal Mula Gula Aren

Konon katanya proses penyadapan hingga diketahui air nira dapat dijadikan gula aren, bermula saat seorang penggembala kerbau kesal ketika ternaknya terus menabrak pohon aren ketika akan diarahkan. Setiap hari pohon itu terus digoyang oleh kerbau-kerbaunya.

Rasa kesal dalam dirinya muncul sehigga memutuskannya untuk menebang pohon aren itu. Setelah dipotongnya pohon itu terus meneteskan air nira setiap kali dirinya melewati lokasi itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan bambu menadah air nira yang terus bercucuran. Ketika ia kembali ternyata air nira telah memenuhi batang bambu tadi.

Bambu berisi air nira itu ia bawa pulang kemudian dimasak hingga mendidih. Dilihatnya semakin menyusut dan mulai berubah warna menjadi kuning kemerahan dan mulai mengeras. Ketika ia mecoba mencicipinya ternyata rasanya manis dan akhirnya diputuskannya untuk terus membuat dan melakukan hal yang sama.

“Jadi sebenarnya awalnya dari situ ya sampai sekarang turun temurun, untuk pembungkus yang saya gunakan itu kita pakai pembungkus daun pisang dan kulit jagung,” ujar Awaludin. (A)

 

Penulis : Ilham Surahmin
Editor : Jumriati

JN ZonaSultra

View all contributions by JN ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277

redaksizonasultra@gmail.com

Marketing:

marketingzonasultra@gmail.com