Tampilan Desktop


Sejarah dan Makna Imlek Bagi Etnis Tionghoa di Kendari
277 Dibaca

Sejarah dan Makna Imlek Bagi Etnis Tionghoa di Kendari

IMLEK – Nampak warga tionghoa melakukan ibadah doa bersama dalam perayaan tahun baru imlek yang ke 2567 di Vihara Eka Dharma Manggala Kendari, (07/02/2-16). MUHLIS /ZONASULTRA.COM

 

ZONASULTRA.COM,KENDARI– Perayaan Imlek atau tahun baru Cina disambut suka cita oleh masyarakat keturunan etnis Tionghoa di kota Kendari. Kendari, merupakan salah satu daerah yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang memiliki warga keturunan Cina yang cukup tinggi. Itu bisa kita lihat dari banyaknya pengusaha-pengusaha yang masuk di kota Kendari mulai dari usaha properti, hotel, otomotif, hiburan dan kuliner.

Masyarakat pada umumnya menyebutkan perayaan imlek sama dengan gong xi fa cai yang ternyata memiliki makna berebeda.

Pemilik Vihara Eka Dharma Manggala Kendari, Robert Setiawan mengungkapkan bahwa perayaan imlek merupakan bentuk penyambutan hari raya tahun baru Cina. Sedangkan Gong xi Facai memiliki makna ucapan seperti Minal Aidzin Wal Faidzin pada umat muslim.

“Gong xi facai sendiri memiliki makna semoga kamu sukses selalu dengan mendapatkan berkah yang melimpah,” ungkap Robert ditemui di Vihara Manggala, Minggu (7/2/2016).

Warga tionghoa melakukan ibadah doa bersama

Warga tionghoa melakukan ibadah doa bersama

Sementara, Andreas salah satu jemaat Vihara Eka Dharma Manggala mengatakan bahwa makna dari Hari Raya Imlek adalah hari bersyukur atas segala sesuatu yang didapatkan pada tahun 2015 lalu.

“Berdoa semoga kedepannya akan menjadi lebih baik,” kata Andreas saat ditemui selepas ibadah, Minggu (7/2/2016) di Vihara Eka Manggala.

Dalam keluarga Andreas, tradisi yang biasa dilakukan di saat malam imlek adalah makan besar bersama keluarga yang memiliki makna kebersamaan.

Ditanya soal makanan yang wajib ada? Anderas tidak dapat menjelaskan secara detail, namun ia menyebutkan salah satunya adalah kue kerangjang serta makanan vegetarian.

Kue keranjang adalah kue khas imlek yang terbuat dari beras ketan yang disusun dalam sebuah wadah berbentuk kerangjang serta disusun membentuk sebuah kerucut.

Makna dari bentuk kue keranjang yang bulat adalah agar keluarga yang merayakan hari raya Imlek tetap utuh, bersatu, hidup rukun dan memiliki tekad bulat dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Hal yang sama juga diceritakan Ci, penjaga vihara. Dia memandang Imlek sebagai bentuk rasa syukur agar dalam menjalani hidup yang akan datang menjadi lebih baik.

Untuk jenis makanan yang banyak disajikan dalam perayaan imlek, ia mengungkapkan ada beberapa diantaranya buah-buahan, manisan buah dan kue mekar seperti Bapau.

Dalam penyambutan Hari Raya Imlek, etnis Tionghoa melakukan ritual sembahyang pada malam hari tanggal 1 imlek tepatnya pada malam tanggal 7 Februari.

Sejarah dan Makna Imlek Bagi Etnis Tionghoa di Kendari

Nampak warga tionghoa melakukan ibadah doa bersama di Vihara Eka Dharma Manggala Kendari,(07/02/2-16) dalam perayaan tahun baru imlek yang ke 2567,ada beberapa ibadah yang dilakukan yakni puja bakti atau sujud nurani dan dharma class untuk memberikan penyegaran bagi jemaat sebelum memasuki tahun baru. MUHLIS /ZONASULTRA.COM

 

Acara ritual syukuran ini dilakukan pada malam hari sekitar pukul 22.00 WITA sampai dengan besoknya tanggal 8 Februari atau tanggal 1 imlek. Kegiatan ini diawali dengan persembahan buah dan diakhiri dengan sembah sujud.

Kenapa mesti buah? karena Vihara Eka Dharma Manggala Kendari, mengharuskan sajian yang dibawa jemaat yang beribadah di tempat ini adalah buah-buahan atau vegetarian. Karena kepercayaan mereka, segala mahluk hidup tidak beda dengan ciptaan lainnya, jadi tentu mereka tidak bisa menjadikan hewan untuk sajian.

Tidak ada penentuan berapa jumlah buah, dan jenis buah apa yang harus dibawah oleh umat Manggala.

Selepas pelaksanaan hari raya imlek pada tanggal 8 Februari, 15 hari selanjutnya ada tradisi yang wajib dilakukan yaitu Cap Go Meh. Cap Go Meh sendiri melambangkan hari kelima belas bulan pertama Imlek dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum imigran Tionghoa yang tinggal di luar China.

Adapun tradisi khusus yang biasa dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa salah satunya adalah Angpau. Angpau memliki arti amplop merah yang di dalamnya diselipkan sejumlah uang, memiliki makna berbagi rezeki, tapi pada umumnya dikhususkan kepada anak-anak dengan tujuan untuk membangun suasana kekeluargaan dan kebersamaan.

Sejarah dan Makna Imlek Bagi Etnis Tionghoa di Kendari

Nampak warga tionghoa melakukan ibadah doa bersama di Vihara Eka Dharma Manggala Kendari,(07/02/2-16) dalam perayaan tahun baru imlek yang ke 2567,ada beberapa ibadah yang dilakukan yakni puja bakti atau sujud nurani dan dharma class untuk memberikan penyegaran bagi jemaat sebelum memasuki tahun baru. MUHLIS /ZONASULTRA.COM

 

Sedangkan tradisi makan malam bersama dengan keluarga memiliki tujuan dan makna sendiri yaitu untuk mengenang anggota keluarga mereka yang telah meninggal, sehingga dengan duduk bersama keluarga besar di meja makan, maka akan muncul kenangan kepada keluarga yang telah meninggal.

Jadi, makna yang terdapat pada Imlek dan Gong Xi Facai sangatlah berbeda. Dimana Imlek adalah Hari Raya penyambutan tahun baru dalam kalender Cina, sedangkan untuk Gong Xi Facai sendiri memiliki makna semoga kamu sukses selalu dengan kelimpahan berkah.

Imlek di Indonesia Pernah Dilarang

Dalam sejarah Indonesia, perayaan Imlek selama tahun 1968-1999 pernah dilarang dirayakan di depan umum.

Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, diantaranya Imlek.

Sejarah dan Makna Imlek Bagi Etnis Tionghoa di Kendari

Vihara Eka Dharma Manggala Kendari

Namun, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967.

Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur Fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Barulah pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003

Sebagai warga Indonesia wajat berbangga diri dengan banyak suku dan budaya yang melebur menjadi satu dalam kesatuan NKRI. Tentunya harus dibarengi dengan sikap toleransi, kebersamaan dan saling menghormati serta menghargai menjadi kunci utama kesatuan bangsa

 

Penulis : Ilham Surahmin
Editor : Kiki

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277 redaksizonasultra@gmail.com Marketing: marketingzonasultra@gmail.com