Tampilan Desktop

Tolong Warga Kurang Mampu, Dokter di Konawe Ini Rela Dibayar Dengan Sampah Rumah Tangga
2345 Dibaca

dr-mawarni-arumi-dokter-umum-yang-rela-menerima-bayaran-dengan-sampah-rumah-tangga

Tolong Kurang Mampu : Dr Mawarni Arumi. Dokter umum yang rela menerima bayaran dengan sampah rumah tangga, rutinitas ini sudah dilakoninya sejak setahun silam. ia menganggap klinik bank sampah miliknya dijadikan sebagai ajang untuk mengabdikan diri kepada masyarakat umum. (Foto : Restu/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, UNAAHA – Profesi dokter saat ini menjadi impian bagi setiap orang. Selain gampang mencari kerja, profesi ini juga dipercaya dapat menjadikan siapapun dia yang ada dalam dunia ini menjadi kaya. Gaji seorang dokter yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) Bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) khususnya, seorang dokter dengan status kontrak bisa menerima upah sebesar Rp.25 juta per bulan. Nilai tersebut belum termasuk tunjagan, serta pengahasilan lain.

Kata orang sehat itu mahal, sehingga kebanyakan orang dengan penghasilan diatas rata-rata rela mengeluarkan uang banyak demi mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal. Tetapi hal ini berbeda dengan masyarakat yang memiliki penghasilan pas-pasan, yang sering kali merasa berat kala disebutkan biaya pengobatan yang mahal.

Melihat fenomena yang saat ini sering kali dialami oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah, menjadikan dr. Mawarti Arumi merasa miris. Keluhan masyarakat akan tingginya biaya kesehatan terutama bagi masyarakat kurang mampuh dijadikan sebagai alasan untuk mengabdikan dirinya dengan keahlian yang dimilikinya.

Dengan keahlian sang suami dalam mengelolah sampah dan dijadikan sebagai barang yang berguna dikolaborasikan dengan profesinya sebagai Dokter Umum untuk membuka Klinik pengobatan di Desa Baruga, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe.

Di tempat ini, masyarakat yang datang tidak perlu cemas dengan tinggi biaya pengobatan, sebab disini pasien yang ingin berkonsultasi soal kesehatan ataupun berobat, cukup membayar dengan sampah rumah tangga.

Khusus untuk masyarakat yang masuk dalam komunitas jantung sehat, selain mendapatkan layanan kesehatan, mereka juga dapat menabung ditempat itu, dengan cara setiap hari Kamis, anggota komunitas yang rata-rata lansia ini membawa sekantung sampah yang terdiri dari botol bekas, gardus, atau sampah lainnya akan ditimbang, dan hasilnya akan diterima per tiga bulan.

“Setiap hari Kamis pagi kami melakukan senam jantung sehat bagi anggota komunitas. Nah, mereka yang datang biasanya membawa sampah. Hasilnya akan diberikan pada tiga bulan sekali, dengan jumlah mencapai ratusan ribu rupiah,” kata Ibu dua anak ini kepada zonasultra.com, Senin (26/9/2016).

***

Komunitas dan Klinik Bank Sampah

Awal pembentukan komunitas ini, hanya diikuti oleh masyarakat desa setempat, namun setelah jadi perbincangan oleh masyarakat sendiri, pelan-pelan warga dari Kecamatan lain mulai masuk. Dan saat ini komunitas tersebut sudah mencapai 247 orang yang kebanyakan Ibu Rumah Tangga (IRT) dan juga masyarakat yang sudah berusia lanjut.

bank-sampah-milik-dr-mawarni-arumi-yang-ada-di-desa-baruga-kecamatan-uepai-kabupaten-konawe

Tolong Kurang Mampu : Bank sampah milik dr Mawarni Arumi yang ada di Desa Baruga, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe. sampah-sampah ini berasal dari para pasien yang datang berkonsultasi ataupun berobat di Kliniknya dengan bayaran sampah. (Foto : Restu/ZONASULTRA.COM)

 

Dokter yang dulunya pernah menjabat sebagai Kepala Puskesmas Uepay itu mengaku sengaja tidak ingin mempublikasikan kepada masyarakat luas jika dikliniknya bisa dibayar dengan sampah. Sebab, dirinya khawatir ocehan atau sindirian orang-orang yang menganggap dirinya sengaja mencari sensasi atau popularitas semata.

Program kesehatan yang dijalankan oleh perempuan yang akrab disapa dr. Mawar ini merupakan pengabdiannya sebagai Dokter terhadap lingkungan. Disisi lain masyarakat akan mendapatkan pelayanan kesehatan dengan biaya sangat murah, dan kebersihan lingkungan juga menjadi pemandangan menyejukkan.

“Dengan cara ini, secara tidak langsung masyarakat sekitar akan sangat terbiasa menjaga lingkungan mereka dari sampah apapun, mereka akan sangat mencintai kebersihan,” imbuhnya.

Mawarni menceritakan, awalnya ia hanya mendirikan posyandu untuk lansia, namun lama-kelamaan muncul gagasan untuk memberikan pengobatan kesehatan kepada Lansia. Disamping itu untuk memberikan penghasilan kepada Lansia. Ia lalu membuka ‘bank sampah’ yang nantinya akan menjadi biaya pengobatan para pasien.

Ide mendirikan Klinik Bank sampah ini dicetuskan oleh suaminya yang kebetulan pernah bertugas di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Konawe. Selain itu, melihat kondisi para lansia yang dianggap sudah tidak mampu lagi mencari nafkah sendiri, menjadi cerita pelengkap dari jejeran alasan dr Mawar untuk membuka klinik sampah, agar para lansia ini bisa memiliki penghasilan sendiri.

Dengan adanya Klinik Bank sampah ini, para Lansia semakin bersemangat. Selain mendapatkan pengobatan gratis, sampah-sampah yang mereka kumpulkan, hasilnya lalu ditabung dan diserahkan kepada para lansia itu sendiri.

“Alhamdulillah, waktu idul fitri kemarin, ada warga yang tabungnnya mencapai hampir Rp 400 ribu, ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya dan keluarga,” lanjutnya.

***

Non Job

Berkat kegigihannya, dr Mawarni dan sang suami dalam mengelola sampah daur ulang, memiliki peran besar atas raihan tropi adipura buana yang berhasil disabet Kabupaten Konawe beberapa waktu lalu. klinik bank sampah milik perempuan yang kini hanya menjadi staf biasa saja di Dinas Kesehatan Konawe membawa nama daerah itu sebagai kota layak huni.

Ironisnya, meski telah berhasil mengharumkan nama Kabupaten Konawe, dr. Mawarni dan suami malah dinon job dari jabatan mereka dan kini hanya menjadi staf biasa, yang sebelumnya sang suami menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) di BLH, dan dr Mawarni sendiri yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Puskesmas Uepai kini menjadi staf biasa saja.

Kini, Klinik Bank samapah dr. Mawarni setiap harinya ramai dikunjungi oleh pasien. Ada yang membawa sampah sebagai alat pembayaran, dan ada pula yang melakukan pembayaran dengan uang tunai. (A1)

 

Reporter : Restu
Editor     : Rustam

Tagged with: ,
DY ZonaSultra

View all contributions by DY ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PROMOSI & IKLAN

0821 1188 2277
redaksizonasultra@gmail.com
Marketing:
marketingzonasultra@gmail.com