Tampilan Desktop


Tradisi Ritual Batupuaro di Baubau yang Tak Lekang Dimakan Zaman
200 Dibaca

ZONASULTRA.COM, BAUBAU – Kota Baubau dan Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara memiliki begitu banyak warisan tradisi budaya dari para pendahulu yang hingga kini tetap terpelihara dan tak lekang dimakan zaman.

Salah satunya adalah tradiri budaya relegius ritual Tuturangia Batu Puaro. Ritual ini biasanya digelar setiap menyambut tahun baru Islam atau Hijriyah. Tahun ini, ritual tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Baubau yang dirangkaikan dengan HUT Baubau ke-474 tahun dan hari jadi Kota Baubau sebagai daerah otonom ke-14.

Ritual Batu Puaro merupakan ritual untuk memperingati wafatnya Syeh Abdul Wahid, salah seorang ulama yang membawa ajaran Islam ke tanah Buton. Syeh Abdul Wahid datang ke tanah Buton dengan maksud menyebarluaskan ajaran Islam. Saat itu Kerajaan Buton dipimpin oleh raja ke-6 bernama Lakilaponto yang sudah menjabat selama 20 tahun.

Setalah Syeh Abdul Wahid mampu meyakinkan ajaran yang dibawanya kepada raja, saat itu pula Lakilaponto menyatakan menganut Islam dan mengucapkan syahadat. Mengetahui rajanya telah menganut Islam, seluruh petinggi kerajaan dan juga masyarakat Buton pun berbondong-bondong masuk Islam.

Masuknya ajaran Islam di tanah Buton merubah sistem pemerintahan Buton dari kerajaan menjadi kesultanan. Dan Lakilaponto menjadi sultan pertama di Kesultanan Buton.

wisata butonUntuk menguatkan keberadaan Islam di Buton dapat dilihat dari aksara Buton yang berlafalkan tulisan Arab dan juga bendera kesultanan yang bertuliskan aksara Buton yang disebut Longa-longa. Di mana dalam bendera kesultanan tertulis Sultan Qaimuddin Khalifatul Hamis.

Tuturangia Batu Puaro diawali dengan pembacaan doa yang dipimpin perangkat masjid yang juga masih mempertahankan simbol budaya Buton yakni Masjid Kelurahan Wameo Kecamatan Batu Puaro. Pembacaan doa ini diikuti seluruh unsur petinggi pemerintahan baik dari tingkat kelurahan, kecamatan dan kepala daerah. Setelah pembacaan doa selesai, seluruh perangkat masjid dan petinggi daerah kemudian menuju tempat pelaksanaan ritual Batu Puaro yang berjarak sekitar 500 meter dari masjid.

Saat berjalan, ada sebuah talang berisikan makanan tradisional yang diarak (diangkat) oleh empat orang pemuda. Sesampainya di tempat ritual, talang tersebut disimpan di atas Batu Puaro. Batu Puaro ini dipercaya sebagai makam Syeh Abdul Wahid.

Sebelum dilakukan doa tolak bala, terlebih dahulu diawali pembacaan kabanti (syair berbahasa Buton) oleh seorang perempuan tua yang dianggap sebagai tokoh di Kecamatan Batu Puaro.

Doa tolak bala diikuti oleh seluruh masyarakat yang menyaksikan ritual tersebut. Doa tolak bala dimaksudkan untuk meminta kepada Allah agar tanah Buton dijauhi dari segala bencana dan dosa serta mengharapkan rezeki yang melimpah untuk kesejahteraan masyarakat Buton.

Acara puncak dari ritual ini adalah membagikan isi talang kepada masyarakat yang diikuti dengan melemparkan sejumlah uang koin dan uang kertas kepada masyarakat. Saat itulah puluhan anak-anak dan juga remaja yang sudah menanti acara ini berebutan untuk mendapatkan uang tersebut.

Dihadiri President Cia-cia Foundation

Ritual Tuturangia Batu Puaro tahun ini terbilang istimewa karena dihadiri President Indonesia Cia-cia Foundation, Kwon Young-chan dan President Indonesia Cia-cia Scholarship Choi Su-bun asal Korea Selatan.

Young-chan mengungkapkan sangat bangga dengan masyarakat Buton dan Baubau yang masih melaksanakan sebuah ritual peninggalan para leluhur.
 
Kedatangannya di Kota Baubau, katanya, juga untuk menindaklanjuti kerja sama antara Pemerintah Korea Selatan dan Pemerintah Kota Baubau dalam melakukan pendalaman budaya, khususnya bahasa Cia-cia dan juga budaya Korea.

Sementara itu, Walikota Baubau, AS Tamrin berharap ritual Batu Puaro dapat terus dilaksanakan dan akan menjadi simbol refolusi metal karena di dalam ritual ini diajarkan untuk selalu mengingat maha pencipta dan juga mensyukuri nikmat yang diberikan.

“Saat ini daerah eks Kesultanan Buton sudah terbagi enam daerah otonom yakni Kota Baubau, Kabupaten Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Buton Utara, Wakatobi dan Kabupaten Bombana. Ke depan akan dilaksanakan dengan sangat besar dan melibatkan enam daerah ini,” harap AS Tamrin.

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & iklan

0821 1188 2277 redaksizonasultra@gmail.com Marketing: marketingzonasultra@gmail.com