iklan zonasultra

20 Tahun Menabung, Pasutri Penjual Cendol di Kendari Ini Bisa Naik Haji

20 Tahun Menabung, Pasutri Penjual Cendol di Kendari Ini Bisa Naik Haji
NAIK HAJI - Pasangan Habli dan Jinneh, pasutri penjual cendol yang setelah menabung 20 tahun akhirnya bisa naik haji (RAMADHAN HAFID/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Binar bahagia seketika menyeruak dari wajah Habli dan Jinneh. Pun senyum, selalu disunggingkan pasangan suami istri (Pasutri) ini. Mimpi terbesar dalam hidup pasangan penjual es cendol keliling ini bakal segera terwujud. Jika tak ada aral, tak sampai sepekan lagi, mereka akan segera menjadi Tamu Allah, terbang ke Makkah menunaikan ibadah haji.

Saat menerima Ramadhan Hafid dari zonasultra.com di rumahnya di Jalan Delima, Anduonohu, Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (31/7/2018) sore, rona bahagia terpancar dari wajah mereka yang sudah mulai dimakan usia. “Sudah 20 tahun kami menanti ini,” kata Habli, yang sore tadi menjamu jurnalis media ini didampingi sang istri, Jinneh.

Kesabaran mereka menabung dan mengumpulkan duit selama 20 tahun akan lunas terbayar dengan datangnya panggilan ke Tanah Suci. Berdiri di depan Kakbah, berdoa di makam Rasulullah sembari berpakaian ihram adalah mimpi mereka yang benar-benar akan terwujud. “Doakan kami ya nak, supaya sehat-sehat,” kata lelaki berusia 56 tahun ini.

Habli berkisah, mereka mendaftar haji pertama kali tahun 2010 lalu setelah menabung sekira 12 tahun hingga bisa terkumpul Rp50 juta. Itulah modal awalnya mendaftar haji dan mendapatkan nomor porsi dari Kementerian Agama. Uang muka itu mereka kumpulkan dari menjual bakso dan bassang (bubur jagung khas Makassar). Tahun demi tahun, kebiasaan menabung terus mereka lakoni.

“Pertama kami datang ke Kendari tahun 1980 dari Sulawesi Selatan (Sulsel), langsung menjual bakso pakai gerobak dorong. Waktu itu masih di Mandonga. Tahun 1990 pindah ke Anduonohu dan menjadi penjual bassang keliling,” katanya.

20 Tahun Menabung, Pasutri Penjual Cendol di Kendari Ini Bisa Naik Haji
KEDIAMAN – Kediaman pasangan suami istri (pasutri) Habli (56) dan Jinneh (56) di Jalan Delima, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). (RAMADHAN HAFID/ZONASULTRA.COM)

Dari jualan bassang ini, ia menyisihkan Rp25 ribu dan kadang Rp50 ribu perhari untuk ditabung di celengan. “Tapi kadang juga satu hari itu tidak ada yang ditabung, tergantung dari keuntungan menjual,” kata pasangan yang memiliki 5 anak dan 15 cucu ini. Dari cerita Habli, mereka mulai mengumpulkan uang dari keuntungan berjualan bakso dari tahun 1980 sampai tahun 1990.

“Tahun 2016 kami ganti usaha menjadi penjual cendol keliling dengan mengunakan sepeda motor, soalnya menjual cendol untungnya lebih banyak,” kata pria kelahiran Pangkep tahun 1962 ini. Habli mengaku, sebenarnya uang yang ditabung sudah cukup untuk menunaikan ibadah haji, tetapi duit itu sempat terpakai untuk keperluan biaya nikah tiga orang anak lelakinya.

Pasangan ini mengaku, perjalanan untuk menunaikan rukun Islam kelima sudah dinantikan selama 20 tahun terakhir. Tapi baru tahun ini terwujud. Mereka nanti tergabung dalam kloter 20 embarkasi Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar dan berangkat tanggal 1 Agustus 2018.

“Ini kita berangkat haji karena kami pengen menunaikan rukun islam yang kelima, karena kalau orang Selatan sudah berpenghasilan cukup maka wajib melaksanakan itu. Biasa kan orang Selatan jual tanah baru mendaftar ke Tanah Suci, tapi kami tidak, ini hasil keringat betul dari jualan bakso, bubur jagung, dan cendol,” timpal Jinneh, sang istri.

Wanita berusia 56 tahun itu mengungkapkan, sudah mempersiapkan segala kebutuhan untuk berangkat menjadi Tamu Allah. Bahkan kata Jinneh, dirinya telah menyiapkan uang sebesar Rp6 juta yang akan diberikan kepada anak-anaknya untuk keperluan Mabbarasanji (tradisi masyarakat islam Bugis-Makassar) yang akan dilaksanakan setiap malam Jumat selama empat minggu di kediamannya .

“Itu untuk meminta berkah kepada Allah agar mereka dalam menunaikan ibadah haji bisa kembali dengan selamat ke tanah air dan menjadi haji yang mabrur,” katanya.

Kini, ia dan sang suami sudah siap berangkat. Rabu, (1/8/2018), mereka akan terbang ke Makassar. “Ini pengalaman pertama kami naik pesawat, tapi bagusnya itu kami sudah langsung ke tanah suci mi,” tukas wanita kelahiran Pangket tahun 1962 ini.

Jinneh berharap dengan menunaikan ibadah haji, usaha jualan cendol mereka bisa lancar dan berkembang. “Sebab kami punya impian ingin punya mobil agar ke mana-mana tidak kepanasan dan kehujanan. Apalagi sekarang kan kami sudah tidak punya tanggungan lagi, anak-anak sudah menikah semua dan sudah punya rumah sendiri,” harapnya sembari mengakhiri obrolan sore tadi.(A)

 


Reporter : Ramadhan Hafid
Editor : Abdi MR

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib