iklan zonasultra

230 Hektar Lahan Gambut di Koltim Terbakar, Asap Tebal Mengancam Warga

230 Hektar Lahan Gambut di Koltim Terbakar, Asap Tebal Mengancam Warga
ASAP - Foto udara gumpalan asap yang menyelimuti lahan gambut di Kecamatan Lalolae, Kabupaten Koltim, sekitar 230 hektar lahan gambut telah ludes dilahap jago merah dalam kurun waktu 12 hari sejak akhir Agustus lalu. (SUMBER: MA Daops Tinanggea)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Data terakhir Manggala Agni Daops Tinanggea luas lahan gambut yang terbakar di Kecamatan Lalolae, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) telah mencapai sekitar 230 hektar.

Kebakaran sudah berlangsung selama 12 hari, sejak Kamis (29/8/2019) lalu hingga saat ini. Sementara proses pemadaman titik api sudah dilakukan selama 10 hari dan saat ini belum juga padam.

Kepala Mangga Agni Daops Tinanggea, Yanuar Panca Kusuma, menjelaskan bahwa keterbatasan air untuk pemadaman menjadi kendala saat ini di lapangan, selain itu penyebaran titik api yang begitu cepat juga dipicu karena saat ini telah memasuki puncak musim kemarau sehingga suhu udara bisa memicu titik api baru.

iklan zonasultra

“Yang jelas sampai saat ini Manggala Agni, TNI, Polri, KPH & Kelompok pecinta alam Zenit Kendari masih terus berjuang pengendalian dan pamadaman di lapangan,” katanya melalui pesan WhatsApp, Minggu (8/9/2019).

Baca Juga : BMKG Imbau Warga Waspadai ISPA Akibat Asap Karhutla

Water boombing saat ini, menurutnya, belum terlalu diperlukan sebagai solusi pemadaman, yang diperlukan saat inu adalah keseriusan semua pihak untuk menghadapi Karhutla di Kecamatan Lalolae.

Kondisi kebakaran lahan gambut ini juga sebelumnya telah terjadi pada tahun 2017 dan 2018 lalu. Bahkan, pada tahun 2018 selama satu bulan warga hidup dalam kepungan asap serta aktivitas sekolah ikut terdampak.

Kepala Stasiuan Klimatologi Aris Yunatas menyebutkan dibanding tahun 2018, kekeringan tahun ini lebih kering karena selain memasuki musim kemarau terdapat pula faktor El Nino meski kekuatannya lemah.

Di Indonesia secara umum dampak dari El Nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

Dampak Asap Karhutla

ASAP TEBAL – Asap tebal akibat terbakarnya lahan gambut di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra) menyelimuti warga yang bermukim di Kelurahan Lalolae,Kecamatan Lalolae, pada hari ini Minggu (8/9/2019). (SAMRUL/ZONASULTRA.COM)

Dampak dari kebakaran 230 lahan gambut tersebut dirasakan oleh warga Kelurahan Lalolae. Setiap pagi sekitar pukul 07.00 WITA hingga 09.00 WITA asap tebal menyelimuti pemukiman warga yang menyebabkan jarak pandang mata terganggu

Marwiana (37), warga Kelurahan Lalolae kepada zonasultra mengaku selama kebakaran terjadi baru kali ini ia merasakan sesak setelah menghirup asap tebal.

“Menggangu sekali. Sesak saya rasa. Bau asap. Pokoknya pakai jilbab saja kita tutup mulut dan hidung. Tadi pakaian saya ganti semua gara-gara asap,” katanya.

“Untungnya bukan hari senin mengantar anak sekolah. Biasanya itu, kalau saya mengantar anak sekolah terpaksa saya putar balik, saya takut di jembatan karena gelap,asapnya tebal sekali,” Marwiana menambahkan saat ditemui di rumahnya.

Marwiana khawatir dengan asap tebal yang menimpa terutama untuk kesehatan dirinya dan anak-anaknya. Ia berharap agar pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya bisa segera mengatasi kebakaran lahan gambut tersebut sehingga tidak mengganggu kesehatan.

Baca Juga : LAPAN Pantau 6 Titik Panas Potensi Karhutla di Sultra

Ketebalan asap yang menimpa Kelurahan Lalolae juga sangat dirasakan oleh Sigit (29). Saking tebalnya asap, jarak pandangannya sangat terbatas.

“Jarak berapa meter saja, sudah kita tidak bisa lihat temanta. Bagaimanakah itu asap tebal sekali baru pedis dihirup,” ungkapnya.

Dampak Asap Kepada Kesehatan

Dikutip dari Tempo.co Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Agus Nurali mengatakan dampak langsung yang paling sering dialami oleh masyarakat terdampak asap kebakaran hutan dan lahan adalah iritasi pada mata dan saluran pernapasan atas.

Bahkan, masyarakat yang terpapar asap akibat kebakaran hutan akan mengalami perih pada mata karena iritasi dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Baca Juga : 11 Daerah di Sultra Berpotensi Status Awas Kekeringan

“Kemudian yang punya riwayat asma, khususnya untuk lansia, bisa terpicu asmanya,” ungkapnya.

Khusus kelompok masyarakat rentan, seperti ibu hamil, balita dan lansia yang bisa lebih mudah terdampak asap karhutla. Dia menyarankan agar kelompok masyarakat rentan tersebut menghindari paparan asap dengan tidak keluar rumah.

Dia berharap pemerintah daerah bisa menyiapkan ketersediaan masker kepada masyarakatnya dalam upaya meminimalkan dampak asap karhutla. Namun Imran mengatakan Kementerian Kesehatan siap memasok logistik berupa masker apabila pemerintah daerah memerlukan.

 


Reporter : Ilham Surahmin
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib