iklan zonasultra

5000 Mangrove Untuk Mitigasi Perubahan Iklim di Sultra

5000 Mangrove Untuk Mitigasi Perubahan Iklim di Sultra
TANAM MANGROVE - Tangan Hunaiya (64) menggoyang-goyang batang mangrove setinggi 50 centimeter yang menancap di permukaan pasir. Merasa mangrove muda yang ia tanam belum kuat membenam, Hunaiya kembali mengambil lumpur menutup permukaan mangrove. Dia memastikan tegakan mangrove ini tidak goyah kala tertiup angin atau pun saat air sedang pasang. (Rosniawanti/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Tangan Hunaiya (64) menggoyang-goyang batang mangrove setinggi 50 centimeter yang menancap di permukaan pasir. Merasa mangrove muda yang ia tanam belum kuat membenam, Hunaiya kembali mengambil lumpur menutup permukaan mangrove. Dia memastikan tegakan mangrove ini tidak goyah kala tertiup angin atau pun saat air sedang pasang.

Harapanya mangrove muda yang ditanam bisa tumbuh besar membentang menjadi hutan mangrove yang subur.

Rabu (9/7/2019) pagi tadi warga Desa Tolitoli ini bersama puluhan warga yang ada di 5 desa di pesisir di Kecamatan Lalonggasumeeto yakni Desa Tolitoli, Wawobungi, Nii Tanasa, Rapambinopaka dan Kecamatan Lalonggasumeeto, mendatangi pesisir pantai Desa Rapambinopaka Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk menanam pohon mangrove jenis Rhizopora sp.

iklan zonasultra

“ Selesaimi sa tanam, bakau kalau mau subur tanam di tempat berlumpur. Baru harus dalam itu akarnya ditanam biar tidak roboh kalau ditiup angin sama ada ombak datang,” ujar Hunaiya menerangkan cara yang menurutnya jitu menanam anakan mangrove.

Ya penanaman mangrove atau bakau di Desa Rapambinopaka ini bagian dari kegiatan Gerakan Nasional Peduli Mangrove Pemulihan Daerah Aliran Sungai dan Kampung Hijau Sejahtera (Hijrah) yang diinisiasi oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK).

Baca Juga : Peringati Hari Bumi, Maritim Muda Sultra Tanam Mangrove di Kendari Water Sport

Aksi penanaman mangrove ini dilakukan Rabu pagi tadi serentak di 12 provinsi di Indonesia meliputi Provinsi Aceh, Riau, Sumatra Barat, Bengkulu, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara.

Perwakilan OASE Sultra Nur Endang Abbas menjelaskan untuk di Sultra penanaman mangrove dipusatkan di Desa Rapambinopaka ini melibatkan berbagai organisasi perempuan yang ada di Sultra semisal perempuan yang tergabung dalam organisasi Bhayangkari, Persit, Jalasenatri juga penggiat wilayah pesisir.

“Sebanyak 5000 bibit mangrove ditanam di sepanjang 1,6 kilometer pesisir pantai yang tersebar di lima desa, dengan jarak tanam 1x 05 meter,” terang Nur Endang Abbas usai melakukan penanaman mangrove Rabu pagi tadi.

Desa Rapambinopaka ini dipilih sebagai lokasi penanaman kata Endang yang juga menjabat sebagai Asisten II Pemprov Sultra, karena abrasi pantai yang menerjang di wilayah ini cukup parah.

Baca Juga : Luasan Kawasan Mangrove di Kendari Menyusut

Kepala Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Sampara Muhammad Azis Ahsoni menjelaskan penanaman kembali mangrove di kawasan pesisir Desa Rapambinopaka ini diharapkan mampu memperbaiki ekosistem bakau di tempat ini.

Menurut Azis tanaman mangrove memiliki banyak fungsi dan manfaat baik untuk ekosistem, mitigasi bencana, ekonomi dan pendidikan.

Mangrove menjadi benteng hijau dari ancaman abrasi dan intrusi. Selanjutnya ekosistem mangrove sebagai pengembangan wisata alam, tempat memijah aneka biota laut dan menyediakan hasil hutan berupa kayu dan non kayu.

“ Perlu dilakukan untuk menangani masalah lingkungan. Tanaman bakau di pesisir ini dapat mereduksi gelombang tsunami. Mangrove juga menyerap emisi gas rumah kaca 5 kali lebih baik dari tanaman lainya,” urai Azis pada sejumlah awak media di pesisir pantai Rapambinopaka.

Azis mengatakan di wilayah pesisir Rapambinopaka ekosistem mangrove memang sudah terdegradasi. Padahal sebelumnya, kawasan pesisir tersebut merupakan wilayah sebaran mangrove alami. Namun kurun 15 tahun terakhir pohon-pohon bakau ini hilang. Warga melakukan penebangan dengan masif, pohon bakau diambil menjadi kayu bakar, untuk perkakas rumah, ada juga warga yang menebang mangrove mengambil batang dan akarnya lalu dijual ke pengrajin untuk diolah menjadi beragam furniture.

Lebih jauh menurut Azis untuk mitigasi bencana BP DAS Sampara dan Dinas Kehutanan Provinsi dalam 5 tahun terakhir telah merehabilitasi mangrove di Sultra seluas 870 hektar yang tersebar di 12 Kabupaten/kota. Untuk tahun ini BPDAS Sampara melaksanakan penanaman mangrove seluas 75 hektar di Kabupaten Buton Utara.

“ Jadi daerah-daerah di pesisir Sultra ini memang sangat rawan abrasi sehingga program mitigasi bencana di wilayah pesisir itu penting. Selain di Konawe ada beberapa wilayah juga kami lakukan penanaman mangrove,” katanya mengurai lebih dalam.

Menurut peta One Map Mangrove, Sulawesi Tenggara mempunyai hutan mangrove 57.919 hektar dengan kondisi perlu direhablitasi seluas 5.616.44 hektar.

 


Penulis : Rosniawanti

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib