Akibat Tambang, Perceraian Hingga Tak Saling Melayat Terjadi di Konkep

Akibat Tambang, Perceraian Hingga Tak Saling Melayat Terjadi di Konkep
Alma (46) Warga Desa Teporoko Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Alma (46) Warga Desa Teporoko Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) mengungkap bahwa konflik sosial telah terjadi selama masuknya perusahaan tambang di sana.

Bentuk konflik itu, kata Alma, yakni terjadinya disharmoni antar kelompok masyarakat yang mendukung beroperasinya tambang dengan masyarakat yang kontra tambang. Bahkan perselisihan di dalam rumah tangga.

“Anak dengan bapak pisah, orang tuanya dukung tambang anak-anaknya menolak, misalnya suami dukung adanya tambang, istri menolak, ada yang berpisah,” ungkap Alma saat ditemui di posko penginapan Asrama Lafran Pane Jalan Saranani, Mandonga, Rabu (13/3/2019)

Selain itu, budaya sosial dan semangat silaturrahmi antar masyarakat terganggu akibat pro kontra tambang. Alma mencontohkan di desa Teporoko Jaya ketika ada salah satu tetangga yang meninggal, tidak akan dikunjungi rumahnya untuk melayat, ketika berbeda pandangan soal tambang itu.

“Malahan kalau ada pesta-pesta misalnya perkawinan, sekalipun keluarga adik kaka ini, kalau dia pro, tidak pergi sama yang menolak, sampe sekarang, begitu pula kalau ada yang meninggal,” beber Alma.

Ia mengaku, warga sebetulnya tidak butuh mata pencaharian di sektor pertambangan, pasalnya selain hanya menguntungkan segelintir elit, dan merusak lingkungan, mereka juga punya sumber rejeki dari hasil tani jambu mete.

“Kalau lagi panen bagus, satu karung bisa Rp 10 juta, kalau bertonton itu, satu bulan sedikit itu Rp 50 juta. Kita sudah bisa beli motor, disana itu ada banyak motor, bisa sekolahkan anak, jadi kita tidak butuh lagi tambang,” kata Alma.

Warga lain, Abarudin asal Desa Roko-Roko, Kecamatan Wawonii Tenggara, mengaku dirinya sebagai petani Coklat di daerah setempat, jika tambang beroperasi, akan sangat mengancam kelangsungan hidup mereka, apalagi di sana mayoritas warga berprofesi sebagai petani.

“Akan terancam, menghalangi aktivitas kami sebagai petani. Jadi warga Konkep tidak perlu lagi ada tambang, karena tanpa itu, anak-anak bisa sekolah dan bisa membeli kendaraan,” ungkapnya saat ditemui usai demonstrasi di depan gerbang kantor gubernur, Kamis (14/3/2019)

Selain itu dampak lain yang ditimbulkan akibat masuknya Industri pertambangan adalah terjadinya konflik sosial, yakni silaturrahmi sesama warga dan dalam rumah tangga terganggu. “Dampak sosial dalam keluarga, komunikasi sudah jarang,” tutup Abarudin. (a)

 


Kontributor: Fadli Aksar
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib