iklan zonasultra

Alasan Warga Konsel Mau Jadi Pelipat Kertas Suara Walau Diupah Rp100 per Lembar

Alasan Warga Konsel Mau Jadi Pelipat Kertas Suara Walau Diupah Rp100 per Lembar
PELIPAT KERTAS - Para petugas pelipat kertas surat suara di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) saat tengah melakukan pelipatan kertas suara yang dilaksanakan di GOR Pemda Konsel. Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak hari Senin lalu, Rabu (13/3/2019) (ERIK ARI PRABOWO/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, ANDOOLO – Sebanyak 500 orang saat ini tengah melipat kertas surat suara untuk pemilihan umum (Pemilu) 2019 di KPU Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra). Berbagai alasan mereka kemukakan sehingga mau melakukan pekerjaan tersebut meski diupah hanya Rp100 per lembar.

Rosdiana (37) misalnya, warga dari Kelurahan Andoolo ini mengaku mendaftar sebagai petugas pelipat kertas suara karena ingin membantu suaminya yang bekerja sebagai petani untuk menambah penghasilan.

“Lumayan, bisa untuk tambah-tambah biayanya anak-anakku yang masih sekolah, daripada tidak ada yang dibikin di rumah,” kata Rosdiana pada zonasultra.com ditemui saat sedang melipat kertas surat suara, Rabu (13/3/2019).

Ibu lima anak ini mengaku baru kali pertama bekerja sebagai pelipat kertas suara. Bersama kelompoknya ia mampu melipat surat suara hingga delapan dus per harinya. Satu kelompoknya berjumlah enam orang.

Untuk satu dus berisi kertas suara DPR RI sebanyak 500 lembar, sedangkan presiden sebanyak 2.000 kertas suara tiap dusnya.

“Katanya upahnya itu hitunganya Rp100 per lembarnya,” ujarnya.

Selain Rosdiana, ada pula Dewa (24), lelaki yang sehari-harinya sebagai pejual sembako ini tinggal di Desa Teteasa Kecamatan Angata. Ia sengaja ikut mendaftar menjadi petugas pelipat kertas surat suara karena pekerjaanya yang santai.

“Kerjanya tidak ribet, bisa banyak teman baru dis ini,” singkatnya.

Dewa menambahkan, jika sudah menerima upahnya nantinya akan disimpan di tabungan.

Tak hanya dari wilayah Konsel, ada pula yang datang dari Puuwatu, Kota Kendari. Pian (16), saat ditemui mengaku awalnya ia berniat hanya jalan-jalan ke Konsel.

“Tinggalnya sama om, di belakang kantor KPU, awalnya ada teman yang nawarin, katanya ada perekrutan petugas untuk lipat surat suara, ya sudah saya daftar,” ungkap Pian.

Pia menjelaskan, sejak hari pertama mulai melipat surat suara pada Senin (11/3/2019), ia dan teman sekelompoknya mampu menyelesaikan enam dus dalam sehari.

Dirinya juga mengaku tidak lagi bersekolah. Pian bakal kembali pulang ke Kota Kendari setelah kegiatan pelipatan kertas surat suara sudah rampung.

Ketua KPU Konsel Aliudin menuturkan, rata-rata petugas pelipat diminati oleh wanita. Untuk upah pelipatan surat suara sendiri telah ditetapkan senilai Rp100. Hal ini berdasarkan mata anggaran yang diberikan oleh KPU Provinsi.

“Mata anggaran semua KPU kabupaten/kota untuk pelipatan dan sortir itu sama. Tetapi akan beda upah yang diberikan di masing-masing kabupaten karena mempengaruhi jumlah surat suara yang diterima masing-masing kabupaten,” terang Aliudin.

Lebih jauh Aliudin menambahkan, jumlah surat suara yang diterima oleh setiap kabupaten dihitung berdasarkan jumlah DPT masing-masing ditambah dua persen.

Rencanaya pelipatan ini bakal dilaksanakan selama empat hari, mulai hari Senin hingga Kamis (14/3/2019) besok.

“Jadi pelipatanya itu bertahap, kita mulai dari surat suara presiden, baru ke surat suara DPR,” terangya.

Dikatakan Aliudin, jumlah keseluruhan surat suara yang masuk di KPU Konsel diperkirakan ada sebanyak 822 ribu. Nantinya akan dilakukan penyortiran ulang untuk memastikan tidak ada kertas suara yang rusak sebelum didistribusikan.

“Kalau saat ini, jumlah surat suara yang rusak kita temukan sudah banyak, tapi belum bisa kita tentukan jumlahnya karena masih sementara pelipatan, yang jelas sejauh ini jumlahnya sudah ada ratusan yang rusak,” tutup Aliudin. (a)

 


Kontributor: Erik Ari Prabowo
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib