iklan zonasultra

Alebo, Jendela yang Tak Selesai

Andi Syahrir
Andi Syahrir

Alebo adalah nama sebuah desa. Terletak di wilayah administratif Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan wilayah Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Desa ini mayoritas dihuni oleh penduduk transmigran asal Pulau Jawa yang didatangkan tahun 1973. Empat puluh lima tahun silam. Artinya, mereka yang kini menjadi tulang punggung keluarga adalah generasi kedua.

Apa pentingnya membahas desa ini? Pertama, pada 16 Desember 2016 silam, Fildan, jawara kontes dangdut asal Sultra itu, pernah manggung di acara pesta kawinan penduduk di sana. Jadi paling tidak, dalam jejak panggung Fildan, nama Alebo akan tertulis dalam tinta emas. Penting banget kan? Hehehe

Kedua, Alebo adalah produsen sayuran yang memasok pasar Konawe Selatan sekaligus Kota Kendari. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana wajah pasar-pasar tradisional di ibukota provinsi ini tanpa adanya desa bernama Alebo. Dalam narasi yang lebih serius, Alebo adalah kawasan penyangga pangan (sayur mayur) di ibukota Sultra.

Bukan hanya sayuran. Alebo adalah parameter harga buah terutama rambutan di dalam kota. Jika Alebo paceklik buah, harga rambutan di Kota Kendari akan melambung tinggi. Sekalipun negosiator harga sekaliber Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita turun ke pasar menawar, penjualnya akan memilih membiarkan buahnya membusuk ketimbang melepasnya. Asal Pak Enggar tidak mengaku sebagai menteri…hehehe.

Ketiga, Alebo adalah produsen sapi. Hampir setiap rumah di desa itu memiliki sapi. Mereka terbilang peternak maju karena mereka sangat terbuka atas teknologi. Inseminasi buatan, perkawinan silang, pengolahan pakan, pembuatan biogas berbasis kotoran sapi adalah hal biasa bagi masyarakat setempat.

Jika dilihat dengan pendekatan agroforestri, maka Alebo dapat disebut sebagai kawasan yang menerapkan sistem agrosilvopastura, yang mengkombinasikan komponen berkayu (kehutanan/buah) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan pada unit manajemen lahan yang sama.

Keunggulan kompetitif sekaligus komparatif atas sistem agrosilvopastura yang ada di Alebo adalah bahwa sistem tersebut tidak dirancang melalui pendekatan proyek-birokrasi, melainkan berasal dari kultur dan kesadaran masyarakatnya sendiri.

Tak lagi terhitung berapa banyak tamu negara (baca: daerah), baik tingkat kabupaten atau provinsi yang dibawa ke Alebo dengan dada membusung untuk mengatakan –secara tak langung– betapa suksesnya kita telah membangun.

Alebo seperti souvenir buat tamu kita. Desa ini kita persepsi sebagai sebuah jendela untuk melihat kemajuan Sultra. Alebo adalah show window yang bisa menegakkan kepala kita di hadapan tamu yang lalu terkagum-kagum dengan pasokan sayur mayur yang tiada hentinya.

Tetapi pertanyaannya kemudian, sejauh mana kita memperlakukan souvenir itu, jendela itu, layaknya sebuah kawasan yang menegakkan harga diri kita? Lihatlah, akses jalan masuk ke desa itu. Kita akan disuguhi jalanan berlubang yang nyaris menyerupai kubangan. Padahal, hanya beberapa puluh meter saja.

Memasuki jalan desa yang menghubungkan rumah-rumah penduduk, masih dengan statusnya yang abadi sebagai jalan berpengerasan. Tidakkah ada upaya sistematis dan strategis untuk menjadikan Alebo benar-benar sebagai desa percontohan yang dapat ditiru sebagai konse


p pembangunan pedesaan yang ideal?

Kita aspal jalanannya, kita perindah penataan pemukimanannya. Lalu kita dorong warganya terus bertani dan beternak dengan mengintrodusir teknologi-teknologi baru kepada mereka. Kita bekali mereka konsep-konsep pariwisata dan membiarkannya mengembangkan sisi kreatif mereka untuk menumbuhkan kawasan agrowisata.

Sejauh ini, warga Alebo dan saudara-saudara sepemekarannya –Desa Alebo Jaya dan Morome– masih berjalan sendirian. Seperti sebuah jendela, Alebo adalah jendela yang tak selesai.***

 


Oleh : Andi Syahrir
Penulis Merupakan Alumni UHO & Pemerhati Sosial

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib