iklan zonasultra

Angka Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan di Sultra Tahun 2019 Capai 124 Kasus

Angka Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan di Sultra Tahun 2019 Capai 124 Kasus
Ilustrasi

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3A-PPKB) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di tahun 2019 mencapai 124 kasus. Angka tersebut mengalami penurunan dari tahun 2018 yakni 192 kasus.

Kepala Dinas (Kadis) P3A- PPKB Sultra, Andi Tenri menjelaskan, kasus kekerasan terhadap anak terbanyak di kabupaten Konawe, yakni sebanyak 19 kasus terdiri dari 4 kasus anak laki-laki dan 15 kasus anak perempuan.

Baca Juga : Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Baubau Meningkat

iklan zonasultra

“Kebanyakan kasus yang terjadi itu, berupa psikis, fisik, pelecehan seksual, eksploitasi dan penelantaran,” beber Andi Tenri saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Rabu (26/2/2020).

Selain kabupaten Konawe, lanjutnya, kota Kendari juga menjadi daerah dengan kasus kekerasan terhadap anak ke dua tertinggi di Sultra. Yakni 18 kasus terdiri dari 4 kasus pada anak laki-laki dan 14 kasus anak perempuan. Sedangkan, untuk kasus kekerasan terhadap perempuan paling banyak terjadi di kota Kendari yakni 11 kasus, kabupaten Konawe 7 kasus dan kota Bau-bau 6 kasus.

Kasus-kasus tersebut, kebanyakan diterima pihaknya melalui Pelatihan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) serta Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). “Tapi sejauh ini, dari 17 kabupaten/ kota di Sultra baru 10 daerah yang melakukan pendataan. Sisanya belum melakukan penginputan data,” ucapnya.

Ketujuh daerah yang belum melakukan penginputan data itu, yakni Buton Selatan (Busel), Buton Tengah (Buteng), Buton Utara (Butur), Konawe Kepulauan (Konkep), Muna, Muna Barat (Mubar) dan Wakatobi.

Baca Juga : Kasus Kekerasan di Konut Menurun

“Kami sementara inventarisir, kira-kira kendalanya apa di 7 kabupaten itu. Sehingga tidak melakukan pengiputan data, apakah jaringan yang tidak ada, ataukah sumber daya manusia (SDM) -nya yang belum siap. Itu yang sementara kita inventarisir,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya terus berupaya menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di Sultra. Melalui sosialisasi serta pendekatan yang rutin dilaksanakan pihaknya. (a)

 


Reporter : Randi Ardianysah
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib