Bawa “Keranda Mayat” dan Sempat Ricuh, Massa Desak Polda Tuntaskan Kasus Penembakan Warga Laonti

Bawa
DEMO PENEMBAKAN - Puluhan massa yang berdemo dan nyaris ricuh di depan Kantor Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (22/1/2018). Massa menyoroti kasus penembakan di Konawe Selatan. (Muhamad Taslim Dalma/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Puluhan pengurus lembaga mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Halu Oleo (KBM-UHO) berunjuk rasa di depan Kantor Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (22/1/2018).

Tak hanya itu, massa juga datang dari Aliansi Masyarakat Tue-tue. Kedua kempok massa itu datang dengan dua mobil sound. Mereka sama-sama menyoroti kasus penembakan warga di Laonti, Konawe Selatan (Konsel) saat warga menghadang alat berat PT Gerbang Multi Sejahtera (GMS).

Massa melakukan aksi dengan membakar ban bekas dan membawa replika keranda mayat. Aksi saling dorong dengan kepolisian berulang kali terjadi hingga sempat ricuh.

(Berita Terkait : Sengketa IUP di Laonti Konsel Kacau, Satu Warga Diduga Kena Tembak)

Bahkan satu mobil sound turut diamankan polisi saat orator aksi mulai berbicara kasar menyinggung Kapolda. Setelah itu, salah seorang massa aksi berbaju hitam juga turut diamankan ke dalam kantor Polda Sultra.

Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UHO La Ode Inta mengatakan kasus penembakan yang diduga dilakukan aparat kepolisian itu harus ada penuntasan. Selain itu, massa juga mengecam tindakan kepolisian yang berada di atas kapal perusahaan tambang saat pengangkutan alat berat itu.

“Ini adalah gerakan moril tanpa dimotori oleh siapapun. Harapan kami Polda dapat menjalankan fungsinya dengan serius. Katanya penembakan itu sudah sesuai SOP (standar operasional dan prosedur) lalu kenapa yang dikawal hanya perusahaan, masyarakat tidak,” ujar La Ode Inta.

Koordinator Aliansi Masyarakat Tue-tue, Adri Laulewulu mengatakan pihaknya menuntut agar Kapolda Sultra memecat Kapolres Konsel dari jabatannya karena dinilai telah gagal dalam memberikan pengawasan terhadap bawahannya.

(Berita Terkait : Berujung Penembakan, Ini Asal Muasal Sengketa IUP PT GMS vs Warga Laonti)

“Mendesak kepada Kapolda Sultra agar segera memecat oknum kepolisian yang terlibat dalam penembakan tersebut,” ujar Fadri dalam keterangan tertulisnya.

Penghadangan yang berujung tertembaknya (peluru karet) kepada Sarman, warga yang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan terjadi pada Minggu (14/1/2018) sekitar pukul 08.00 Wita.

Penghadangan kapal pemuat alat berat milik PT GMS sudah berulang kali dilakukan oleh warga. Warga kesal lantaran status tanah di lokasi IUP dianggap masih berperkara. (B)

 

Reporter: Muhamad Taslim Dalma
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here