iklan zonasultra

Bayi Kembar di Baubau Lahir dengan 12 Jari Kaki

Bayi Kembar di Baubau Lahir dengan 12 Jari Kaki
BAYI KEMBAR - Bayi kembar di Kelurahan Katobengke, Kota Baubau, Sultra, lahir dengan 12 jari kaki. Keunikan pada dua putra ini disebut polydactyly, Jumat (25/9/2020). (Foto : Istimewa)

ZONASULTRA.COM,BAUBAU– Bayi kembar identik di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), lahir dengan 12 jari kaki. Keduanya lahir normal dibantu oleh dukun kampung.

Bayi kembar laki-laki itu lahir dari pasangan seorang warga Kelurahan Katobengke, Munia dan La Udi Jami Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, tepatnya empat bulan lalu. Keduanya diberi nama Wahyu dan Wahid.

Kata Munia, iparnya yang pertama kali menyadari kelainan pada kedua putra kembar itu. Ketika itu saudara suaminya sedang membersihkan kotoran dari salah satu bayi.

Bayi Kembar di Baubau Lahir dengan 12 Jari Kaki“Pertama lihat itu kaget, saya bingung toh, kenapa dua-duanya juga, saya kira cuma satu orang,” ujarnya saat ditemui, Jumat (25/9/2020).

Munia bersyukur bayi kembarnya lahir dengan selamat. Dia tidak mempersoalkan kondisi tersebut.

Menurut dr. Aminuddin Aumane selaku Spesialis Anak di Kota Baubau, kedua bayi tersebut lahir dengan keunikan. Bahwa hanya ada 1 dari 1.000 anak yang lahir dengan kondisi serupa.

Hal ini merupakan kelainan yang disebut polydactyly yakni seorang anak memiliki jari tambahan. Hal bisa terjadi karena turunan dari orang tuanya, atau bisa juga pada waktu proses pembentukan organ tubuh dalam kandungan terjadi sesuatu yang mengganggu dan bermutasi pada gen bayi.

Bayi Kembar di Baubau Lahir dengan 12 Jari Kaki
Munia ketika menggedong salah satu bayi kembarnya untuk memberikan ketenangan

“Ini penyebabnya bisa karena makanan, gelombang elektromagnetik, serta perkembangbiakan virus,” terang dia ditemui di ruang kerjanya.

Dia tidak membantah hal itu merupakan kelainan genetik. Namun kelainan itu tidak akan berdampak signifikan pada kesehatan fisik. Sebaliknya, Aminuddin, menegaskan jika dampak akan terasa secara psikologis ketika kedua bayi menjadi remaja.

“Bisa nanti mereka bakal malu dengan kelainan genetik itu. Dampaknya bakal dirasakan lebih jika nanti berdampak pada ukuran sepatu yang berbeda dengan manusia umum,” urainya.

Aminuddin memberi saran agar jari bayi menjadi normal yakni dengan operasi, namun harus dilakukan sebelum umur bayi menginjak dua tahun. Sebab saat itu saraf pada manusia masih dapat distimulasi atau dilatih kembali. Artinya,tindakan operasi saat itu tidak akan berdampak pada kesehatan fisik. (a)

 


Kontributor: Risno Mawandili
Editor: Ilham Surahmin

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib