iklan zonasultra

Beras di Kabaena Tembus Rp600 Ribu per 50 Kg

Beras di Kabaena Tembus Rp600 Ribu per 50 Kg
Disperindag Kabupaten Bombana menggandeng sejumlah instansi terkait untuk keliling pulau Kabaena menjual beras. Aksi ini dilakukan sebagai langkah meredam lonjakan harga beras karena dampak virus corona. (Muhammad Jamil/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, RUMBIA- Tak hanya resah soal virus corona, warga di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) juga dibuat menjerit atas lonjakan harga sembako. Salah satunya pada komoditas beras di wilayah pulau Kabaena yang saat ini menembus harga Rp600 ribu per 50 kilogram (kg).

Kondisi ini telah lama dikeluhkan warga sejak adanya instruksi pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah sebagai langkah meminimalisir wabah virus corona, terutama bagi warga di daratan hingga pegunungan pulau Kabaena.

Iklan Zonasultra

Pantauan awak Zonasultra.com, para pedagang beras menaikkan harga lantaran buruknya akses jalan dari pasar Sikeli, Kabaena Barat menuju desa mereka. Di wilayah pelosok para pedagang beralasan soal transportasi hingga berani menaikkan harga yang jika dihitung normalnya hanya Rp480 ribu hingga Rp500 ribu per 50 kg. Kini, kenaikan harga beras cukup variatif mulai dari harga Rp520 ribu hingga Rp600 ribu per karung 50 kg.

Atas kondisi ini, Pemerintah Daerah Bombana melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Perum Bulog Cabang Kabaena yang dikawal pihak pengamanan dari TNI dan Polri serta Karang Taruna berupaya meredam lonjakan harga beras melalui penjualan beras murah dan keliling ke semua desa di enam kecamatan yang ada di pulau Kabaena. Aksi itu dilakukan selama 4 hari dengan menyediakan sekitar 40 ton beras.

Mereka menjual beras bulog dengan standar harga Rp8 ribu per kg dan setiap karung berisi 10 kg dengan harga Rp80 ribu per karung. Hasilnya, untuk Kecamatan Kabaena Barat mampu terjual hingga 4 ton. Sementara untuk wilayah lain seperti Kabaena Selatan cukup terbantu atas hadirnya Disperindag itu. Wilayah ini belum seutuhnya terakomodir karena persoalan jarak desa. Tim Disperindag menempatkan penjualan beras murah itu di desa Batuawu dengan total terjual sebanyak 800 kg dengan waktu penjualan sekitar 4 jam.

Kepala Bidang Perdagangan, Disperindag Bombana, Abdul Hajar Aswad mengatakan bahwa aksi pemda bersama instansi terkait dalam penjualan beras murah itu tak lain hanyalah upaya menepis kenaikan harga yang merupakan dampak dari pandemi virus corona.

“Kami menyasar enam kecamatan di pulau Kabaena dengan program penjualan beras murah dengan harapan mampu menangkis lonjakan harga yang kami dengar menembus harga Rp600 ribu,” kata Abdul Hajar di Rumbia, Jumat (10/4/2020).

Menurutnya, melalui aksi itu, para pedagang yang mencoba melakukan penimbunan beras akan ketahuan. Aksi itu pun akan terus dilakukan sampai harga beras kembali stabil. Kata dia, penjualan beras murah itu hanya ditujukan untuk masyarakat biasa, bukan pedagang.

Selain penjualan beras murah, kata Hajar, pihaknya membagikan masker untuk setiap warga yang datang membeli beras. Ia mengakui animo masyarakat untuk membeli beras murah itu cukup tinggi.

Kepala Desa Batuawu, Kabaena Selatan, Syafruddin memberi apresiasi atas kedatangan tim Disperindag. Kata dia, tak sedikit warga di desanya yang ia temukan mengeluh karena naiknya harga beras.

“Saya sering ditemui warga dan mereka mengeluh beras sudah mahal, sementara tak sebanding dengan penghasilan mereka. Untung saja ada bantuan pemerintah berupa beras sejahtera yang sering dibagikan setiap bulan, makanya warga cukup terbantu,” kata Syafruddin.

Ia berharap, aksi operasi pasar dari instansi terkait mesti lebih ditingkatkan, utamanya untuk tiga bulan ke depan. Sebab, warga sangat merasakan dampak buruk atas pandemi virus corona.

“Jangan hanya kali ini saja operasi pasarnya. Tapi kita harapkan ada aksi berkesinambungan agar lonjakan harga beras saat ini benar-benar bisa diminimalisir,” pungkasnya. (A)

 


Kontributor: Muhammad Jamil
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib