iklan zonasultra

Cerita AS Tamrin, Lika-Liku Pengusulan Gelar Pahlawan Oputa Yi Koo

AS Tamrin, walikota baubau
AS Tamrin

ZONASULTRA.COM,BAUBAU– Ada tekat kuat dibalik gelar pahlawan Nasional Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi. Sultan yang dikenal dengan Oputa Yi Koo ini tidak ujuk-ujuk jadi pahlawan. Mereka yang mengusulkannya justru tidak butuh tanda jasa.

Sebagai orang yang memprakarsai pengusulan tokoh pahlawan nasional dengan nama kecil La Karambau itu, Wali Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), AS Tamrin tidak memperoleh jasa sedikit pun. Padahal, dia bersama Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) bentukannya pontang-panting mengupayakan pengusulan itu.

Meski begitu, AS Tamrin mengaku tidak butuh imbalan saat bertekad mengusulkan Oputa Yi Koo sebagai pahlawan nasional. Perjuangannya dihargai, sudah puas baginya. Terlebih saat berjuang mewujudkan tekat tersebut, banyak lika-liku didapati, banyak cerita yang menjadi pelipur lara.

iklan zonasultra

Lika-liku itu dimulai dari mencari komposisi TP2GD yang tepat agar bisa mewujudkan tekad tersebut. Hingga finalisasi, pengajuan dari Kementerian Sosial pada Presiden, masih ada saja kejutan yang hampir bikin copot jantung.

(Baca Juga : Sultan Himayatuddin Jadi Pahlawan Nasional, Patahkan Stigma Buton Sebagai Penghianat Bangsa)

“Inikan sebelumnya sudah diusulkan sebagai pahlawan nasional, tapi waktu itu belum diberikan gelar pahlawan nasional karena yang diprioritaskan hanya Bung Karno dan Bung Harta,” ujar AS Tamrin saat ditemui di rumah jabatan Wali Kota Baubau, Senin (2/12/2019).

Meski sebelumnya sudah diajukan, tapi dokumen kepahlawanan Sultan Himayatuddin masih banyak kekurangan. Harus jelas juga prasasti Sultan serta pewaris juga mesti ditunjuk. Pekerjaan melengkapi jejak perjuangan kepahlawanan Oputa Yi Koo inilah yang menjadi tugas hari-hari AS Tamrin dan TP2GD.

“Tim saya saja sampai dua kali pulang pergi Gunung Siontapina hanya untuk menggali cerita dari kesaksian tokoh sejarah,” kenang Wali Kota Baubau dua periode itu.

AS Tamrin sendiri menunjuk Dr Safrin Tahara sebagai ketua TP2GD. Safrin dipercaya karena besik keilmuannya dibidang arkeologi. Saat ini Safrin sendiri aktif mengajar di Universitas Hasanuddin, Makassar.

TP2GD bekerja. Mereka mengumpulkan dokumen sejarah. Baik itu dokumen dari Belanda maupun catatan para sejarawan di tanah air. Mereka juga menyelaraskan catatan sejarah dengan kesaksian sejarah dari tokoh sejarah yang diwawancarai.

(Baca Juga : Kepahlawanan Oputa Yikoo, Diprakarsai AS Tamrin, Ali Mazi Jadi Ahli Waris)

“Setelah sudah dilengkapi dokumen sejarahnya, kemudian kuburannya sudah diterapkan satu, yang ada di dalam kawasan Benteng Keraton Buton. Kemudian kita disuruh lagi cari ahli warisnya,” kenang AS Tamrin lagi.

Akhirnya dia bersama timnya menelusuri ahli waris yang tepat. Ditunjuklah Gubernur Sultra, Alun-alun sebagai pewaris. Pertimbangannya, agar situasi tidak ruwet, agar tidak banyak klaim dari tiap-tiap yang merasa sebagai keturunan Sultan.

“Inikan seorang sultan Keraton Buton, jadi banyak yang akan merasa sebagai keturunannya. Lewat pertimbangan yang benar-benar matang, meski sudah generasi ke-sembilan, juga turunan dari pihak perempuan, Gubernur (Alimazi) kami tunjuk,” AS Tamrin menguraikan.

Dari semua cerita Wali Kota Baubau, ada satu momen yang paling bikin jantung copot. Yakni saat dirinya bersama Alimazi iseng-iseng bertemu teman lama, Menteri Sosiap Republik Indonesia, Idrus Marham.

Kala itu, mereka ingin memastikan apakah berkas yang mereka serahkan pada Kemensos sudah diteruskan pada presiden atau belum. Mereka bertemu Idrus Marham di komplek Kemensos, sesudah salat Jumat.

Setibanya di sana, mereka dijamu makan. Cerita basa-basi, hingga menerangkan perihal kedatangan mereka. Idrus sontak kaget, pasalnya sebelum dua orang itu menghadap dirinya, berkas pengajuan pahlawan nasional dari tiap provinsi sudah diserahkan pada Presiden untuk ditekan.

Yang sempat bikin tegang AS Tamrin dan Alimazi, bahwa ada beberapa berkas dari perwakilan provinsi yang tidak lengkap sehingga tidak diajukan pada presiden. Dalam artian jika dalam berkas yang tidak diajukan pada presiden tersebut termaksud dari Sultra, maka usaha mereka sekala kurun waktu enam bulan akan sia-sia saja.

Untuk memastikan itu, Idrus Marham menyuruh anak buahnya memeriksa daftar berkas yang diajukan pada presiden. Teling AS Tamrin dan Alimazi awas mendengarkan pengumuman dari juru periksa. Alhasil dalam daftar itu ada Sultan Himayatuddin Muhammad Saudi alias Oputa Yi Koo, atau La Karambau.

“Kita sempat kaget juga. Apa lagi katanya ada banyak berkas yang tidak lengkap dari provinsi pengusul pahlawan nasional. Jadi kita was-was juga jangan sampai kita juga termaksud yang tidak lengkap,” ungkap AS Tamrin.

Kini Sultra telah punya tokoh yang jadi pahlawan nasional. Seorang putra tanah Buton, yang menjadi Sultan dengan sedikit cerita heroiknya menentang kolonialisma Belanda.

Atas itu, AS Tamrin meminta warganya untuk menghormati perjuangan tokoh pemimpin terdahulu. Lebih dari itu, menjadikan sikap-sikap mereka sebagai teladan dalam bertindak. (B)

 


Kontributor : Risno Mawandili
Editor: Abd Saban
Loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib