Cerita Sukses Hamrul dengan Pisang Ijo Boy, Kini Buka 72 Cabang

Hamrul
Hamrul

ZONASULTRA.COM, LASUSUA – Belum genap setahun merintis usaha kuliner pisang ijo boy, Hamrul, warga Kelurahan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (sultra) kini sudah membuka 72 cabang yang tersebar di dalam dan di luar Kolut. Omzetnya mencapai jutaan rupiah per hari.

Pria kelahiran 33 tahun silam itu semakin menggeluti kuliner tradisional tersebut karena hasilnya menjanjikan. Penikmat pisang ijo juga tidak pernah putus setiap harinya.

Zonasultra.com berkesempatan mengunjungi tempat awal dicetusnya brand pisang ijo boy, di sebuah rumah semi permanen di Jalan Trans Sulawesi, Desa Watuliwu, Kecamatan Lasusua, Kolaka Utara, Rabu (2/1/2019). Di sini Amrul banyak menceritakan hasil dari usaha yang digelutinya sejak pertengahan tahun 2018 itu. Salah satunya ia sudah bisa membeli mobil untuk operasional dan satu unit rumah di Makassar, Sulawesi Selatan.

(Baca Juga : Pisang Ijo Boy, Bisnis Kuliner Kekinian di Kolut)

“Alhamdullah hasil pisang ijo boy sangat menjanjikan, apa yang saya dapatkan membuat saya bersyukur,” kata Hamrul.

Cerita Sukses Hamrul dengan Pisang Ijo Boy, Kini Buka 72 CabangKesuksesan Hamrul membuka puluhan cabang tidak lepas dari strategi pemasaran yang matang. Dirinya memiliki prinsip memberi kesempatan bagi setiap orang membuat usaha kecil-kecilan, kemudian memberi motivasi serta pengetahuan dari hasil pengalamannya.

Awalnya Hamrul tidak yakin brand pisang ijo boy ini akan sukses, bahkan membuat orang luar Sulawesi penasaran. Diakuinya olahan makanan yang berbahan baku pisang ini sudah tidak asing lagi di mata para pencinta kuliner, namun rasa dan ciri khas pisang ijo boy miliknya berbeda dan membuat penikmatnya ketagihan.

Rahasia resep dari pisang ijo boy ini, kata Hamrul, terletak pada takaran bahan baku dalam adonan. Jika jumlahnya berbeda akan mengganggu rasanya. Dan tak kalah penting, Hamrul selalu mengutamakan kebersihan dan tidak mau menggunakan bahan pengawet.

“Sekarang cabang yang sudah mendaftar sudah lebih seratus, tapi baru sekitar 72 yang aktif, yang paling jauh berada di Ambon dan di Kupang,” kata Hamrul.

(Baca Juga : Dulunya Hobi, Kini Tanaman Hidroponik Jadi Mata Pencaharian)

Pisang ijo boy ini diproduksi sendiri di setiap cabang. Sehingga member yang bergabung terlebih dahulu diberi pelatihan khusus agar cita rasa setiap cabang tetap sama.

“Setelah member bergabung kita beri pelatihan dan pengambilan dalam bentuk paket tepung yang sudah diukur karena kami membedakan tepung kulit dan tepung saus yang bisa diorder selanjutnya,” bebernya.

Cerita Sukses Hamrul dengan Pisang Ijo Boy, Kini Buka 72 Cabang

Saat ini aktivitas Hamrul hanya menyediakan bahan baku tepung untuk para cabang dan tepung yang diraciknya tidak didapatkan di tempat lain. Ia juga rutin mengunjungi dan mengontrol setiap cabang.

“Omzet tepung 55 biji dalam satu paket dan cabang bisa habiskan 100 paket per bulan itu sudah luar biasa, karena kerjanya mudah dan untungnya jaga lumayan, dengan harga Rp10.000 dan ada yang menjual Rp12.000,” tutur Hamrul.

Penamaan yang unik tersebut berawal dari keisengan Hamrul meracik adonan pisang ijo di sebuah rumah kos-kosan di Lasusua, ibukota Kabupaten Kolut.
Saat itu, ia dibantu oleh anak didik yang semuanya laki-laki. Dari situlah muncul brand pisang ijo boy. (SF/b)

 


Kontributor: Rusman
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib