iklan zonasultra

Dampak Covid-19 Tingkat Hunian Hotel Terjun Bebas, Pengusaha Hotel Harus Lakukan Ini

A. Alfitra Dwifajryn, ST, M.MT
A. Alfitra Dwifajryn, ST, M.MT

Pengusaha hotel harus berfikir keras dan segera mengambil langkah strategis ditengah hantaman pandemi virus corona, Covid-19 ini. Asosiasi pengusaha Indonesia mengemukaan wabah covid-19 sangat berdampak terhadap industri parawisata dan perhotelan sehingga banyak hotel yang ditutup sementara. Menurut data dari Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani hingga saat ini hotel yang sudah melaporkan tutup sebanyak 698 hotel. Hal tersebut dikarenakan tingkat hunian kamar tidak mampu menutupi biaya operasional hotel. Haryadi Sukamdani mengungkapkan industri perhotelan akan mengalami puncak tekanan di quartal II ini.

Data dari Country Government Data and OYO India & China Macro Changes Report menunjukan tingkat hunian di Tiongkok akibat Covid-19 ini berada di angka 5%. Dan data dari Smith Travel Research (STR) dan internal OYO menunjukan tingkat hunian perhotelan di India, setelah lockdown nasional berada di angka 4%. Di Indonesia sendiri menurut data dari PHRI terjadi penurunan omzet sebesar 50%.

Karena itu pengusaha perhotelan harus segera mengambil upaya untuk menyelamatkan bisnis perhotelannya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan hotel dalam menghadapi terjun bebasnya tingkat hunian karena Covid-19 ini. Hotel harus menekan biaya operasional dengan mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting dan melakukan sistem jam kerja bergiliran atau memberikan cuti sementara kepada karyawan.

Hal lain yang bisa dilakukan pengusaha hotel adalah menggandeng mitra bisnis untuk bekerja sama menghadapi rendahnya tingkat hunian akibat dampak dari covid-19. Mitra bisnis dalam hal ini adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi virtual manajemen perhotelan. Karena perusahaan yang mempunyai kemampuan teknologi virtual manajemen perhotelan, mampu menjaga kelangsungan bisnis dari mitranya.

Dampak utama covid-19 terhadap bisnis perhotelan adalah rendahnya tingkat hunian kamar, hal tersebut mengakibatkan rendahnya RevPar dan secara tidak langsung berdampak pada rendahnya penghasilan dari hotel. Data yang ditunjukan oleh salah satu perusahaan virtual manajemen perhotelan OYO menunjukan hal berbeda. Penurunan RevPar dari mitra yang sudah bekerjasama dengan OYO menunjukan tingkat penurunan RevPar yang jauh lebih baik dari industri. Dari data Smith Travel Research (STR) dan data internal menunjukan:

Dampak Covid-19 Tingkat Hunian Hotel Terjun Bebas, Pengusaha Hotel Harus Lakukan Ini

Data 1. Persentase Penurunan RevPar (Pendapatan rata-rata Per kamar) Industri VS OYO pada negara di Asia Tenggara. Persentase penurunan RevPar mitra OYO lebih rendah dibandingkan industri.

Dampak Covid-19 Tingkat Hunian Hotel Terjun Bebas, Pengusaha Hotel Harus Lakukan Ini

Data 2. Persentase penurunan RevPar di aplikasi OYO dan OTA di Asia Tenggara

Aplikasi OYO berhasil menjaga bisnisnya sedangkan OTA turun hingga 20%, kanal aplikasi OYO secara berkelanjutan memberikan RevPar yang lebih tinggi, sedangkan kanal OTA mengalami penurunan RevPar hingga 20%.

Hal tersebut diatas adalah impact dari penggunaan teknologi dalam manajemen perhotelan. Hotel akan diberikan bantuan teknologi dalam mengatasi rendahnya tingkat hunian saat masa sulit Covid-19. Pertanyaannya sekarang, apakah hotel akan bekerja sendiri atau mencari mitra dalam menghadapi pandemi Covid-19?

 

Oleh : A. Alfitra Dwifajryn, ST, M.MT
Penulis adalah lulusan Magister Manajemen Proyek, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Saat ini penulis bekerja di Perusahaan Startup Virtual Manajemen Perhotelan OYO wilayah Kendari.

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib