Honda

Diduga Jajakan Gadis Belia ke Pejabat, IRT di Butur Jadi Tersangka

Ilustrasi PSK
Ilustrasi

ZONASULTRA.COM, RAHA– Anak perempuan dengan nama samaran Mawar (14) jadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Mawar merupakan warga Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara (Butur) Sulawesi Tenggara (Sultra).

Perdagangan manusia itu dilakoni oleh salah seorang ibu rumah tangga (IRT) inisial TB (31). Gadis belia yang masih duduk di bangku SMP ini, tubuhnya diduga dijajakan oleh TB kepada salah satu pejabat berinisial R. Oknum pejabat itu diduga merupakan wakil Bupati Butur.

Mengetahui kejadian itu, orang tua korban ED (51) mengaku geram dengan apa yang dialami anaknya. Ia pun langsung melaporkan oknum TB dan R ke Polsek Bonegunu, pada Kamis (26/9/2019) sekitar pukul 18.00 Wita. Hal itu berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/18/IX/2019/Sultra/ResMuna/SpktSekBonegunu, tertanggal 26 September 2019.

iklan zonasultra

Kasus trafficking yang dialami anaknya bermula sejak bulan Juni 2019 lalu. Kejadiannya bermula saat TB menjemput anaknya di rumah neneknya.

“Setelah sampai di rumah pelaku, anak saya langsung disuruh menunggu di kamar. Tak berselang lama, tiba oknum R dan langsung masuk kamar,” terang ED, Jumat (5/10/2019) .

Setelah itu, oknum R melakukan pelecehan seksual dan langsung menggaulinya. Puas setelah melampiaskan birahinya, R pun langsung memberikan uang sebanyak Rp2 juta. Uang tersebut diambil oleh TB dan korban hanya dibelikan pakaian satu pasang dan sepatu.

Kejadian itu, tak hanya sekali. Selang tiga hari kemudian, TB datang lagi menjemput Mawar dan membawanya. “Di rumah TB sudah ada oknum R. Anakku digauli lagi oleh R dan diberikan uang Rp500 ribu, tapi Rp200 ribu diambil kembali oleh TB,” jelasnya.

Atas peristiwa itu, ED berharap agar aparat mengusut tuntas kasus yang menimpa anak gadisnya itu. “Saya ini meminta keadilan dan harus diproses sesuai hukum yang berlaku di negara kita, jangan karena dia seorang pejabat sampai tidak ditahan,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolres Muna, AKBP Debby Asri Nugroho membenarkan adanya laporan tindak pidana perdagangan orang dan persetubuhan anak di bawah umur yang dialami salah seorang gadis asal Butur. Untuk saat ini, TB telah menjadi tersangka dan sudah diamankan.

“Benar, ada laporan perdagangan anak. Sekarang tersangka wanita berinisial TB sudah diamankan di Rutan Polres Muna. Saat ini sudah masuk tahap penyidikan,” ungkap Kapolres.

Selain perdagangan anak, Polres Muna juga menyelidiki kasus persetubuhan yang melibatkan oknum pejabat Butur. “Kita juga lagi lidik kasus persetubuhan oleh oknum pejabat,” jelasnya.

Hasil pengakuan tersangka TB, membenarkan ada oknum penjabat di Butur telah melakukan persetubuhan dengan anak di bawah umur tersebut.

Atas kejadian ini, pelaku TB dikenai pidana UU Perlindungan Anak Pasal 83 Jo Pasal 76 F UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau Pasal 88 Jo Pasal 76 I UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. TB terancam pidana 5 tahun penjara.

Sebelumnya, kasus trafficking ini berawal dari beredarnya video pengakuan korban asusila yang tersebar di media sosial. Saat ini awak Zonasultra.com, masih melakukan upaya konfirmasi ke pejabat inisial R yang diduga menjabat Wakil Bupati Butur. (B)

 


Kontributor : Nasrudin
Editor: Muhamad Taslim Dalma

1 KOMENTAR

  1. Menurut pasal 81 dan 82 UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara serta denda minimal sebesar Rp60 juta dan maksimal sebesar Rp 300 juta. Sedangkan hukuman lainnya menurut KUHP pasal 287 dan 292 menyebutkan bahwa masa hukuman terhadap pelaku pencabulan terhadap anak maksimal 9 tahun (pasal 287) dan maksimal 5 tahun (pasal 292).

    Berikut isi pasal UU dan KUHP tersebut :

    UU No.23 tahun 2002

    Pasal 81

    (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

    (2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

    Pasal 82
    Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

    Pasal 287

    (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bawa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
    (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

    Pasal 292

    Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
    logo-kompasianalogin
    DAFTAR

    x

    Tria Cahya Puspita
    Tria Cahya Puspita
    Katakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Lihat, dengar dan rasakan…menulis dengan hati.\r\nBlog : http://tidakwajar.blogspot.com/ \r\n

    SELANJUTNYA
    FOLLOW
    CATATAN
    Hukuman Bagi Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak
    17 April 2014 22:20 Diperbarui: 17 April 2014 22:20 22895 0 4

    Terkait dengan lamanya masa tahanan, minimal 3 tahun (UU No.23 tahun 2003) atau maksimal 5 tahun (KUHP pasal 292) adalah masa yang teramat singkat. Karena dampak dari perbuatan pelaku terhadap anak akan membekas dan membayangi seumur hidupnya. Tidak hanya luka secara fisik namun juga luka batin.

    Menurut saya, setidaknya minimal hukuman 15 tahun diberikan kepada pelaku tindak kejahatan seksual terhadap anak. Dengan pemikiran, anak/korban dari perilaku menyimpang tersebut sudah tidak lagi dikategorikan sebagai anak-anak ketika pelaku selesai menjalani masa hukumannya. Atau mungkin hukuman cambuk dapat menjadikan pelaku jera?

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib