iklan zonasultra

Dirjen Paud Kemndiknas Kunjungi Rumah Baca di Desa Bajo Bahari

Dirjen Paud Kemndiknas Kunjungi Rumah Baca di Desa Bajo Bahari
PERESMIAN - Dirjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud Haris Iskandar, saat membuka dengan resmi rumah baca terapung kali lakua (Nanang Suparman/ZONASULTRA.COM)

Dirjen Paud Kemndiknas Kunjungi Rumah Baca di Desa Bajo Bahari PERESMIAN – Dirjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud Haris Iskandar, saat membuka dengan resmi rumah baca terapung kali lakua. (Nanang Suparman/ZONASULTRA.COM)

 

Iklan Zonasultra

ZONASULTRA.COM, PASARWAJO – Terobosan kreatif yang dilakukan Bhabinkamtibmas Polres Buton dan Babinsa 1413 02 Pasarwajo, dalam memberantas buta aksara yang dilakukan oleh Brigadir Almuhalid dan Koptu Sutardi, mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan.

Salah satunya adalah Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dan Pendidikan masyarakat (Dikmas) Kemendiknas RI, Haris Iskandar, bersama rombongan pejabat utama Kemendiknas, mengunjungi rumah baca Bajo Bahari binaan dua personil dari TNI Polri itu Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Rabu (23/8/2017).

Dalam kunjunganya itu Haris memberikan apresiasi yang besar bagi keduanya atas terobosan yang dilakukan oleh Almuhalid dan Sutardi, untuk mengentaskan buta aksara. Atas terobosannya tersebut keduanya dipanggil oleh Presiden dalam kegiatan penghargaan penggiat literasi di Istana negara.

” Atas prestasinya tersebut, pemerintah melalui Kemendiknas, memberikan apresiasi berupa pemberian status Kampung Literasi di Desa Bajo Bahari, sehingga seluruh kegiatan belajar baik berupa sarana dan prasarana mendapat bantuan langsung dari Kemendiknas,” ujar Haris.

Kepala Desa Bajo Bahari Sinusir, mengatakan sebelum tahun 1962 dusun Bajo Bahari bernama Dusun Bajo Berese. Saat itu warga yang menyekolahkan anaknya masih sangat sedikit. Sedikitnya jumlah anak yang bersekolah dikarenakan warganya hidup berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya.

Alasan lainya karena masyarakat Desa Bajo Bahari belum memahami arti pendidikan, serta ketidakmampuan orang tua menyekolahkan anaknya ke tingkat pendidikan selanjutnya

“Anak mau kuliah bayar SPP harus patung-patungan. Pendidikan dianggap bukan hal yang penting. Sehingga dengan keberadaan rumah baca bisa mendorong warga untuk memahami pentingnya pendidikan,” terang Sinusir. (C)

 

Reporter : Nanang Suparman
Editor : Tahir Ose

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib