iklan zonasultra

DLH Ajak Masyarakat Sultra Lebih Peduli pada Lingkungan

DLH Ajak Masyarakat Sultra Lebih Peduli pada Lingkungan
FOTO BERSAMA - Plt Kepala DLH Sultra Ansar bersam para pegawainya berfoto bersama di depan kantor DLH Sultra. (Foto : Istimewa/Foto diambil pada Februari 2020)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang jatuh pada 5 Juni setiap tahunnya sejak 1972, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengajak masyarakat Bumi Anoa itu untuk lebih peduli pada lingkungan sekitar.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala DLH Sultra, Ansar mengatakan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah hari di mana kita bersama-sama mesti meningkatkan kesadaran global untuk bertindak secara positif dalam melindungi alam dan planet bumi ini.

Iklan Zonasultra

“Pernahkah kita berpikir bahwa makanan yang kita makan, udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan cuaca yang membuat planet kita dapat dihuni ini telah tersedia begitu saja? Bagaimana jika seandainya makanan tersebut telah tercemar, udara kita terpolusi, dan air kita kotor akibat perbuatan kita yang merusak lingkungan? Bagaimana jika seandainya perubahan iklim menjadikan bumi ini terlalu panas untuk dihuni?” ungkap Ansar melalui rilis ke redaksi zonasultra, Kamis (4/6/2020).

Menurutnya, kondisi pandemi Covid-19 saja telah berhasil mengubah pola hidup manusia di dunia, bagaimana jika seandainya lingkungan pun telah rusak total akibat ulah manusia itu sendiri?

Dia menjelaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Sekitar 4,8-12,7 juta ton di antaranya terbuang dan mencemari laut.

Indonesia memiliki penduduk pesisir sebesar 187,2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik.

Sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan dan menjadikan Indonesia dituduh berada di urutan kedua sebagai negara dengan jumlah sampah plastik terbanyak di lautan.

Selain dapat mencemari lautan dan mematikan hewan laut, sampah juga dapat mencemari udara jika dibakar, mencemari sungai bahkan mencemari tanah tempat hewan dan tumbuhan hidup.

Padahal, kata Ansar, ini baru sekadar sampah, belum kerusakan dan pencemaran lainnya akibat ulah manusia.

“Mungkin selama ini kita tidak menyadari dan memandang remeh satu buah sampah yang dibuang sembarangan seolah dianggap biasa-biasa saja. Padahal sampah yang dibuang sembarangan, polusi asap kendaraan maupun sampah yang dibakar, limbah atau sampah yang masuk di sungai dan laut, perusakan hutan, semuanya akan terakumulasi di alam,” kata Ansar.

Jika hal ini terus terjadi, kata dia, dampaknya bukan hanya mengenai manusia, tetapi juga hewan, tumbuh-tumbuhan dan bahkan bisa berimbas sedunia. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk sadar dari sekarang: Time for Nature!

Pemerintah menyadari masalah yang telah menjadi permasalahan nasional ini harus dikelola secara kompherenshif dan terpadu dari hulu ke hilir. Oleh sebab itu, seluruh lapisan masyarakat diimbau turut serta membantu pemerintah untuk bergerak bersama dalam menangani masalah sampah, salah satunya dengan penerapan sistem 3R (reduce, reuse, recycle) sebisa mungkin dari rumah masing-masing karena masalah sampah ini hanya bisa dilakukan apabila seluruh pihak dapat bekerja sama.

“Hal ini diharapkan mampu menjadikan lingkungan kita menjadi lebih aman sebagaimana visi-misi pertama dari Gubernur Sulawesi Tenggara, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar dapat berdaulat dan aman dalam bidang ekonomi, pangan, pendidikan, kesehatan lingkungan, politik serta iman dan taqwa,” terang Ansar.

Apalagi dengan kondisi kita saat ini, lanjutnya, di mana pandemi Covid-19 telah merebak di tengah-tengah masyarakat, imunitas tubuh mesti aman dan ditingkatkan. Peningkatan imunitas tubuh, bukan hanya dilakukan dengan cara meminum suplemen dan istirahat yang cukup, akan tetapi lingkungan yang bersih dan aman juga turut andil dalam mempertahankan daya tahan tubuh seseorang.

Apabila membuang sampah sembarangan atau memiliki lingkungan yang tidak dibersihkan, tentunya sampah tersebut akan menjadi sarang penyakit dan menjadi tempat berkembak biaknya bibit kuman. Apabila sanitasi menurun maka akan berimbas kepada menurunnya imunitas kesehatan. Dan jika imunitas ini menurun, virus akan dengan mudah menyebabkan penyakit.

“Mungkin ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk lebih peduli kepada lingkungan. Sejak terjadinya wabah Covid-19, tingkat polusi udara dan emisi global menurun drastis, orang-orang mulai lebih peduli kepada kesehatan dan kebersihan lingkungan. Bukan karena kebijakan pemerintah, tetapi seolah kita telah diberi “teguran”. Maka akankah “teguran” itu kita hiraukan?” ungkapnya.

Ansar melanjutkan, saat ini terdapat klasifikasi khusus dalam pengelolaan sampah dan limbah B3, yakni kategori limbah Covid-19 yang oleh pemerintah diklasifikasikan sebagai bagian dari Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3).

Setiap limbah medis Covid-19 baik yang berupa masker, sarung tangan, maupun baju pelindung diri harus dikelola dan dimusnahkan agar virus tersebut tidak menyebar ke orang lain. Hal ini tidak hanya berlaku untuk pihak rumah sakit saja, tetapi termasuk warga masyarakat yang melakukan isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.

Oleh karena itu, setiap sampah yang diduga mengandung limbah infeksius diwajibkan untuk dikemas secara khusus dengan memberikan label bertuliskan “limbah infeksius”. Hal ini perlu dilakukan untuk memudahkan para petugas dalam menangani limbah Covid-19 ini dan juga untuk meningkatkan kehati-hatian dalam proses pengangkutan dan pemusnahannya.

Melalui Hari Lingkungan Hidup ini, kata Ansar, hal-hal yang dapat kita lakukan adalah tetap mengamankan kebersihan di lingkungan masing-masing, tetap mengenakan masker untuk mengurangi penularan penyakit, mengurangi produksi sampah atau memanfaatkan kembali barang bekas yang masih bisa digunakan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah.

Kemudian mengurangi penggunaan plastik kresek maupun botol plastik kemasan, menghemat penggunaan listrik, menghemat dan menjaga kebersihan sumber air bersih, menanam pohon atau tanaman, menjaga hewan dari kepunahan, menjaga ruang terbuka hijau sebagai tempat resapan air, dan turut serta dalam aksi positif menjaga alam dan lingkungan sekitar.

“Mari bersama kita wujudkan Sulawesi Tenggara yang aman, maju, dan bermartabat. Kalau bukan kita yang mengamankan lingkungan kita sendiri, siapa lagi?” tutupnya. (*)

 


Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib