iklan zonasultra

DPPA Sebut Internet Jadi Pemicu Kekerasan Seksual di Baubau

DPPA Sebut Internet Jadi Pemicu Kekerasan Seksual di Baubau
Sosialisasi - Dinas PPA Kota Baubau menggelar sosialisasi digital dan internet sehat, bahaya dampak pornografi terhadap anak, Kamis (20/11/2019). Digelar di aula Kantor Wali Kota Baubau, pesertanya guru dan orang tua murid. (Risno Mawandili/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, BAUBAU – Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPA) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2019, kasus kekerasan seksual pada anak di daerah itu mencapai 67 kasus. Salah satu pemicunya adalah dampak negatif penggunaan internet.

Kepala DPPA Baubau, Wa Ode Seraya mengatakan, dibanding tahun 2018, kekerasan seksual tersebut mengalami peningkatan di mana rentan Januari – Desember 2018 tercatat ada 38 kasus.

Dikatakan Wa Ode Seraya, internet menjadi wahana belajar pornografi dan pornoaksi secara rahasia bagi anak. Meski begitu, internet tidak berdiri sendiri dalam kekerasan seksual. Ada penyebab lain, seperti pengaruh minuman keras, narkoba, juga anak kurang kasih sayang dari keluarga.

iklan zonasultra

Baca Juga : Seorang Remaja Putri di Baubau Dilaporkan Hilang

“Karena daya tarik terhadap gambar (porno) yang muncul saat membuka internet. Awalnya tertarik, dia tidak sadar bahwa itu tidak boleh, kemudian keseringan. Padahal tadinya mereka itu buka internet untuk belajar,” kata Seraya di Kantor Wali Kota Baubau, Kamis (28/11/2019).

Dinas PPA Baubau memang punya satgas (satuan tugas) untuk menangani masalah kekerasan seksual. Di dalamnya ada dinas PPA sendiri, satuan unit PPA Polres Baubau, dan badan pemasyarakatan (bapas). Mereka bertugas untuk advokasi korban hingga memulihkan kondisi mental alias rehabilitasi.

Merespon hal ini, Wali Kota Baubau, AS Tamrin mengingatkan seluruh pihak agar berperan aktif dalam penanggulangan. Katanya, pemerintah, orang tua siswa, serta guru di sekolah harus serius mengajarkan nilai-nilai moral dan etika pada anak.

Namun kata AS Tamrin, semua itu kembali kepada kesadaran sang anak sendiri.

“Semua pihak harus berkontribusi, meminimalisasi pengaruh pelecehan seksual ini,” urainya usai membuka kegiatan sosialisasi digital dan internet sehat di aula Kantor Wali Kota Baubau, Kamis (28/11/2019).

Baca Juga : Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Baubau Meningkat

AS Tamrin pun membantah kurangnya guru BK dan pendidikan agama dikaitkan dengan kekerasan seksual. Kata dia, guru bukan jumlahnya yang dibutuhkan, tapi kualitasnya.

“Intinya itu tidak boleh terpengaruh oleh budaya luar, tidak mengkonsumsi minuman keras, narkoba dan obat-obatan lain yang mempengaruhi mental,” tegasnya. (b)

 


Kontributor: Risno Mawandili
Editor: Jumriati

Loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib