iklan zonasultra

Duka Pasutri Koltim, Tinggal Menumpang hingga Tidur di Tenda

Duka Pasutri Koltim, Tinggal Menumpang hingga Tidur di Tenda
PASUTRI KOLTIM - Sudah dua bulan ini, Bahroni Nur Azis (26) dan Dewi Susilawati (40) bersama anaknya tinggal di tenda, diatas lahan milik orang lain. (Foto : Samrul/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, TIRAWUTA – Memiliki rumah sendiri dan layak huni menjadi impian semua orang. Begitu halnya dengan pasangan suami-istri, Bahroni Nur Azis (26) dan Dewi Susilawati (40), warga Kelurahan Rate-rate, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Sejak menikah akhir Desember 2014 lalu, kedua pasangan tersebut belum memiliki rumah sendiri. Mereka harus berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain.

“Pertama kami tinggal menumpang di rumah tua yang ada di depan kantor Kelurahan Rate-rate, milik Alm mantri Tahir tahun 2014. Di situ kami numpang selama satu tahun. Selanjutnya kami pindah di belakang kantor kelurahan. Empat tahun kami tinggal di sana (kantor kelurahan Rate-rate),” kata Bahroni saat ditemui, Minggu (3/11/2019).

iklan zonasultra

Baca Juga : Dua Rumah Bersaudara di Desa Lembah Subur Koltim Ludes Terbakar

Saat ini, Bahroni dan Dewi menumpang tinggal di atas lahan milik Asami. Di sini mereka harus tinggal di bawah tenda bersama anaknya, Mei Ramadhani (4), Zulfikar (1) dan anak tiri Bahroni bernama Riswan Supladi (26). Sudah dua bulan lamanya mereka tinggal di tenda berukuran 4×4 meter.

Udara dingin malam hari yang masuk melalui rongga tenda sudah bukan lagi menjadi sahabat bagi keluarga ini. Tak terpikirkan lagi resiko kesehatan. Terutama bagi Mei dan Zulfikar yang masih balita. Semua dipaksa oleh keadaan.

Duka Pasutri Koltim, Tinggal Menumpang hingga Tidur di Tenda

Setiap malam, menghindari gigitan nyamuk, Bahroni menggantung kelambu. Memang, di lokasi yang ditempati cukup berpotensi serangan nyamuk, apalagi di sekitarnya terdapat rawa.

Hal lain sangat dirasakan keluarga ini adalah sarana air bersih dan media penerangan di malam hari. Untuk memperoleh air bersih, setiap pagi Bahroni harus mengambilnya di seputar pegunungan, yang berjarak dua kilometer dari tendanya.

Kalau buat mandi dan mencuci mereka mengambilnya di rawa, meskipun airnya berkeruh dan berbau zat besi. Sementara, media penerang mereka ada malam hari menggunakan lampu cas. Kadangkala menggunakan senter handphone.

Duka Pasutri Koltim, Tinggal Menumpang hingga Tidur di Tenda

Sebagai kepala rumah tangga, Bahroni bekerja serabutan. Kadang ia bekerja sebagai kuli bangunan, di kebun bahkan kadangkala bekerja sebagai tukang bangunan. Terpenting baginya adalah memperolehnya dengan cara halal.

Sehari Bahroni bisa memperoleh pendapatan sampai Rp 80.000 per hari. Upah sebesar itu lalu dipecah, 30 ribu untuk membeli susu buat Mei dan Zulfikar, sedang 50 ribunya lagi digunakan membeli keperluan dapur.

Meskipun kebutuhan sehari-hari kurang, namun Dewi tak pernah mengeluh kepada suami ketiganya itu. Ia sangat menghargai dan tak menuntut banyak. Ia lebih memilih diam, memendam atau menyembunyikan segala bentuk keinginan dalam relung hatinya.

Saat awak zonasultra.com mengajukan pertanyaan perihal kehidupannya, Dewi hanya bisa meneteskan air mata. Seolah-olah rintihan kesedihan tersebut menjadi jawaban atas penderitaan yang dialaminya.

“Saya ingin punya rumah yang layak huni untuk anak-anak kami. Saya juga ingin memiliki modal sendiri agar bisa membuka warung jualan. Saya ingin membantu suami saya dalam memenuhi kebutuhan dapur pak. Tapi mau diapa,kondisi kami begini,”ucap Dewi seraya menitihkan air mata, saat ditanya perihal yang menjadi keinginannya.

Meskipun dalam taraf garis kemiskinan, namun kedua pasangan ini mendapat bantuan dari pemerintah. Mereka terdaftar sebagai Penerima Keluarga Harapan (PKH) serta penerima bantuan beras miskin (raskin).

Duka Pasutri Koltim, Tinggal Menumpang hingga Tidur di Tenda

Baca Juga : Bayi Penderita Hidrosefalus Asal Koltim Dirujuk ke Makassar

Tinggal di tenda bukanlah menjadi babak akhir perjalanan Bahroni dan Dewi berserta anaknya. Rencana keduanya, dari tenda mereka akan memilih tinggal dan menetap di kebun, pembagian dari pemerintah Rate-rate tahun 1993 silam.

“Kami mau membuat rumah di kebun. Sambil menanam tanaman jangka pendek dan jangka panjang untuk kelangsungan hidup saya, istri dan anak-anak saya,”kata Bahroni

Bahroni maupun Dewi berharap agar pemerintah daerah sudi meringankan beban mereka, terutama memberikan bantuan perumahan saat telah menetap dikebun yang dimilikinya kelak. (A/SF)

 


Kontributor : Samrul
Editor : Abd Saban

Loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib