iklan zonasultra

Endang Soroti Pernyataan Gubernur Terkait Penyebab Banjir

Ketua DPD Partai Demokrat Sultra, Muhammad Endang
Muhammad Endang

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Mantan Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tenggara (Sultra), Muhammad Endang SA ikut mempersoalkan komentar Gubernur Ali Mazi soal penyebab banjir yang melanda Konawe Utara, Konawe dan Kolaka Timur.

Endang sangat menyesalkan pernyataan Ali Mazi yang berkelit tentang penyebab banjir bukan karena aktivitas pertambangan dan perkebunan yang beroperasi di Bumi Oheo itu. Padahal, menurutnya, hal itu jelas-jelas penyebabnya karena dua aktivitas itu. Endang pun berguyon bahwa tak ada yang mau disalahkan, maka Tuhan saja yang disalahkan.

“Kalau tidak mau saling menyalahkan, Tuhan saja yang kita salahkan, ini salahnya Tuhan, tuhan dengan “t” kecil, salahnya air yang lewat mungkin, salahnya musim, salahnya curah hujan,” ungkap Endang sambil tertawa saat ditemui di kediamannya Rabu (12/6/2019).


Ia menyarankan, diperlukan evakuasi menyeluruh, dari sisi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), kelayakan pertambangan. Lanjutnya, mungkin saatnya kita bertanya, kemanfaatan apa yang diterima rakyat, diterima daerah di sekeliling tambang dan perkebunan.

Baca Juga : Ali Mazi: Penyebab Banjir Konut Bukan Akibat Tambang

“Adakah kontribusinya bagi pendapatan asli daerah (PAD), apakah ada kontribusinya bagi kesejahteraan rakyat terutama di sekeliling tambang dan perkebunan itu. Ini perlu dievaluasi secara menyeluruh,” tegas politisi Partai Demokrat

Mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Konawe Selatan ini menilai kalau mau mereview kembali, beroperasinya dua sektor itu di daerah ini, kata dia, diduga berdasarkan penelitian obral izin tambang dan perkebunan paling banyak di masa pelaksanaan pilkada. Karena dalam proses perizinan itu, ada tempat yang paling mudah untuk mendapatkan sponsor.

“Mungkin juga terjadi karena biaya pilkada. Kebetulan 2020 ini ada 7 Pilkada, terserah rakyat, apakah isu tambang, isu lingkungan sudah dijadikan dasar untuk menentukan pilihan atau tidak. Tapi kan selama ini tidak ada yang idealis, semua pragmatis,” tuturnya.

Kendati demikian, melihat dampak pengelolaan lingkungan yang salah sudah menjadi bencana banjir, sehingga ribuan warga mengungsi, Endang meminta kepada pemerintah untuk segera melakukan tindakan-tindakan kongkrit demi meringankan warga yang terkena dampak banjir ini.

Baca Juga : Wagub Sultra: Tambang dan Kerusakan Lingkungan Penyebab Banjir di Konut

Ia pun menawarkan dua penanganan korban banjir tersebut kepada pemerintah, yakni penanganan jangka pendek dan jangka panjang. Pertama penanganan jangka pendek, menurut dia, bagaimana misalnya memikirkan masyarakat yang sedang berada di tempat pengungsian.

Ini harus dipikirkan bagaimana konsumsi mereka, pakaian, air bersih dan kebutuhan dasar lainnya. Kemudian bagaimana rumah, bagaimana dengan padi, sawah dan tanaman-tanaman mereka yang terdampak.

“Saya imbau pada pemerintah memikirkan hal itu. Mungkin sifatnya bukan ganti rugi, tapi ada tindakan nyata yang bisa meringankan. Saya apresiasi pada Universitas Halu Oleo yang memberi kompensasi kepada mahasiswa yang berasal dari daerah terdampak banjir, tindakan dari pak rektor ini bisa dicontoh pemerintah daerah kabupaten/kota dan provinsi,” ungkapnya.

Satu lagi, solusi jangka panjang, tutur Endang, diperlukan desain, roadmap, dari pemerintah bagaimana mengantisipasi banjir dengan tindakan yang kongkrit. Misalnya membuat infrastruktur yang bisa meminimalisir, bisa mengendalikan air, kalau kemudian curah hujan tinggi.

“Diperlukan moratorium pemberian izin, baik itu tambang maupun perkebunan terutama di daerah yang rentan. Ini juga pelajaran kita perlu berhati-hati memberi izin, misalnya di daerah Konawe Selatan, di Laonti, Konawe Kepulauan dan Konawe Utara,” katanya.

Bagi Endang, ini harus menjadi warning dari yang terjadi di Konawe Utara. Ia pun mendesak Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra untuk mengadakan rapat penanganan banjir, sehingga ada konsep, apa yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota, itu kemudian yang dilaksanakan.

“Jadi ada konsep baik dari jangka pendek maupun jangka panjang. Karena jangan sampai ini tragedi yang berulang-ulang, kasian masyarakat kita,” tutup Endang. (a)

 


Kontributor: Fadli Aksar
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib