iklan zonasultra

Fotuno Sangia di Muna, Pesona Wisata Mata Air Biru dan Cerita Buaya Putih

Fotuno Sangia

ZONASULTRA.COM, RAHA – Pagi itu, riuh kicauan burung bersahutan menyapa. Gemuruh angin sepoi berkelumit bersama hawa dingin, terasa menyengat ketika memasuki wisata permandian Fotuno Sangia yang terletak di desa Kabangka, kecamatan Kabangka, kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Fotuno Sangia, keelokan dan keindahan alamnya terpatri tak terbantahkan. Salah satu obyek wisata yang berada di pulau Muna bagian barat ini menawarkan kesegaran air berwarna kebiruan, menyembur dari dalam tanah yang diklaim sedalam ribuan meter.

Permandian air tawar yang pernah terpilih sebagai lokasi pembuatan film karya anak bangsa ‘Jembatan Pensil’ yang dibintangi sejumlah artis ternama pada tahun 2017 lalu, kini menjadi buruan para pencinta wisata seantero tanah air.

iklan zonasultra

(Baca Juga : Wisata Puncak Trend di Muna, Fasilitasnya Dibangun dari Dana Desa)

Lokasinya yang cukup jauh sekitar 60 kilometer dari pusat kota Raha, bahkan melewati kabupaten Muna Barat (Mubar) membuat serpihan surga ini cukup menantang untuk dinikmati. Meski baru beberapa tahun digaungkan dan tergolong pendatang baru, eksistensinya melampaui sederet wisata lainnya di bumi sowite.

#Miliki Sumber Mata Air Biru, Kedalaman Ribuan Meter

Permandian Fotuno Sangia memiliki keunikan tersendiri. Sumber mata airnya berwarna biru terang, itu juga menjadi daya tarik bagi setiap pengunjung yang ingin menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Airnya berasal dari dalam tanah yang diklaim sedalam 1000 meter lebih.

“Pernah diukur oleh mantan bupati Muna Laode Kaimuddin bersama tetua kampung menggunakan tali tasi. Hingga 1000 meter tapi belum sampai dasar. Jadi kami pastikan kedalamannya lebih dari itu,” terang mantan kepala desa Kabangka, Gustaf Marpaung saat ditemui awak zonasultra.com, Minggu (30/6/2019) lalu.

Fotuno Sangia di Muna, Pesona Wisata Mata Air Biru dan Cerita Buaya Putih

Mata airnya berdiameter sekitar panjang 10 meter dan lebar 6 meter, sedangkan secara keseluruhan permandian ini memiliki panjang sekitar 80 meter membentuk lekukan anakan sungai, alirannya tenang naik kepermukaan mengalir menuju muara.

Kejernihannya membuat permandian ini tembus pandang ke dasar sehingga cukup aman untuk dinikmati.

Pengunjung lebih nyaman menikmati segarnya permandian, di sisi ujung dengan kedalaman hanya mencapai dua meter. Sedangkan pada bagian mata air, hanya digunakan sebagai tempat swafoto ria.

(Baca Juga : Berkunjung ke Yuranata Garden, Taman Bunga Celosia Pertama di Sultra)

Berada dalam kawasan hutan lindung Sangia seluas 10 hektar, permandian yang mengantongi daftar kunjungan terbanyak oleh para traveler di nusantara ini, bak perawan yang masih tetap terjaga kelestariannya.

“Hutannya tidak pernah diganggu. Bahkan dahan dan pohon tumbang tak dirusaki warga. Dahan itu digunakan untuk media menikmati segarnya air,” jelasnya.

#Fotuno Sangia Habiskan Rp 4,5 Miliar Untuk Bersolek

Awalnya permandian ini masih alami belum dipoles. Namun setelah adanya dana desa (DD) dan kesepakatan masyarakat sekitar, Fotuno Sangia pun bersolek.

“Awalnya saya siapkan dari Dana Desa sebesar Rp100 juta untuk bangun bronjong,” urainya.

Fotuno Sangia di Muna, Pesona Wisata Mata Air Biru dan Cerita Buaya PutihSetelah itu ada bantuan dari APBN sebesar Rp4,5 miliar. Maka dilanjutkan dengan membangun sejumlah fasilitas penunjang.

“Ada pengaspalan jalan sepanjang 850 meter dan trotoar. Kita buatkan drainase. Lalu di permandiannya kita keruk kedua sisinya untuk diperlebar. Bahkan pembuatan jalan setapak sepanjang alirannya dan pembuatan tanggul dan pot bunga untuk mempercantik,” ceritanya.

Meski habiskan anggaran miliaran rupiah, pembangunan fasilitas permandian tak menghilangkan kealamiannya.

“Bagian seberangnya tetap dibiarkan alami. Tidak ditanggul tetap menampilkan keeksotisan,” ucapnya.

#Cerita Kemunculan Buaya Putih

Fotuno Sangia menyimpan sederet cerita mistis. Namanya saja, Fotuno Sangia dalam bahasa setempat diartikan tempat yang dikhususkan atau dibesarkan. Kadang sebagain masyarakat Sangia berarti dikeramatkan.

Gustaf pun menceritakan kemunculan buaya di lokasi tersebut. Sepengetahuannya, buaya yang hidup di Fotuno Sangia sebanyak 40 ekor yang berasal dari mata air biru.

“Kemunculannya hanya waktu tertentu. Tapi itu dikeramatkan. Namun dia tidak mengganggu pengunjung yang datang, terkecuali mereka yang berniat tidak baik,” kisahnya.

Bahkan kata dia, ada buaya putih yang menjadi induk dari buaya lainnya yang hidup di tengah Fotuno Sangia.

(Baca Juga : Jelajah Muara Lanowulu, Surga Bagi Burung Air)

Keberadaan buaya juga diceritakan oleh kepala Rukun Keluarga (RK) setempat, La Karanta. Kata dia, beberapa tahun lalu masyarakat setempat menangkap seekor buaya di permandian Fotuno Sangia.

“Warga pun melepasnya kembali ke dalam mata air karena sementara mengandung. Ia dianggap bukan sebagai pengganggu tapi sebagai penjaga,” ceritanya.

Namun setelah beberapa tahun ini, sejak digaungkan sebagai lokasi wisata, kemunculannya tak pernah ada lagi. Sejumlah pengunjung pun tak lagi ragu menikmati segarnya permandian Fotuno Sangia. Salah satunya Bambang (15) dan Alfin (15) yang merupakan warga sekitar, saat sedang merasakan sensasi kesegaran dengan melakukan atraksi salto dengan media rebahan pohon tumbang.

“Tiap Minggu pagi kami datang untuk menikmati segarnya air. Tapi kalau rame ramenya itu pada waktu sore. Banyak dari kota yang datang,” tambahnya. (*)

 


Kontributor: Nasrudin
Editor: Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib