iklan zonasultra

Gerak Cepat Pemprov Sultra Atasi Corona

Gerak Cepat Pemprov Sultra Atasi Corona

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Kamis, 19 Maret 2020 Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemerintah Pusat mengumumkan tiga warga Sulawesi Tenggara (Sultra) positif terjangkit virus Corona atau Covid-19.

Informasi ini langsung dibenarkan oleh Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama RSUD Bahteramas Kendari dr. Sjarif Subijakto beberapa jam kemudian. Tiga pasien positif Corona itu adalah laki-laki 41 tahun, perempuan 32 tahun dan 25 tahun.

Meski sempat tak transparan soal riwayat perjalanan ketiga pasien positif Corona tersebut, Pemprov Sultra akhirnya membeberkan bahwa ketiganya memiliki riwayat perjalanan ibadah umrah. Dua orang merupakan pasangan suami istri asal Konawe dan satu lainnya warga Kendari.

Pasca tiga warganya ditetapkan positif Corona, Pemprov Sultra langsung bergerak cepat melakukan upaya pencegahan mewabahnya Covid-19 itu di wilayah Bumi Anoa. Salah satunya dengan menyiapkan anggaran khusus pencegahan virus Corona.

“Kita langsung mengambil langkah, termasuk mempersiapkan dana untuk kebutuhan penanganan. Seperti rapat koordinasi dan penanganan warga yang tertular. Kami sudah siapkan mulai dari tanggal 14 Maret 2020,” ungkap Ali Mazi pada media di rumah jabatannya, Kamis (19/3/2020).

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi
Ali Mazi

Awalnya Pemprov menyiapkan anggaran senilai Rp3 miliar, akhir Maret 2020 nilainya bertambah menjadi Rp25 miliar untuk mendanai percepatan penanggulangan dan pencegahan virus corona. Anggaran tersebut berasal dari dana tak terduga Pemprov Sultra yang masuk dalam APBD Sultra tahun 2020

Gubernur Ali Mazi menjelaskan, jika dana yang disiapkan itu kurang dan masih memerlukan dana untuk kebutuhan mendesak maka pihaknya akan menggunakan APBD Pemprov Sultra sebagai dana tambahan.

“Sebelumnya kan Rp3 miliar, terus kita gunakan juga dana tak terduga sehingga jadi Rp25 miliar. Tapi kalau itu juga kurang, misalnya ada kebutuhan mendesak kita akan gunakan APBD kita,” tegas Ali Mazi, Senin (30/3/2020).

Ali Mazi mengungkapkan, dana tidak menjadi masalah bagi Pemprov Sultra dalam melakukan pencegahan dan penangananan penyebaran Covid-19. Ia berharap masyarakat tak perlu khawatir dengan kesiapan anggaran daerah dalam upaya penanggulangan wabah virus corona.

Pada 1 April 2020 DPRD dan Pemprov Sultra sepakat mengalokasikan anggaran Rp300 miliar untuk penanganan dan pengendalian virus corona. Kesepakatan itu terjadi dalam rapat kerja bersama di gedung DPRD, Rabu (1/4/2020).

Wakil Ketua DPRD Sultra Muhammad Endang SA mengatakan, alokasi anggaran sebesar Rp300 miliar diperuntukkan pengadaan alat pelindung diri (APD), fasilitas kesehatan, insentif tenaga kesehatan dan aparat sipil negara lainnya serta aparat TNI/Polri yang terlibat dalam penanganan corona.

“Anggaran tersebut juga akan digunakan dalam pengadaan jaring pengaman sosial bagi kepala keluarga (KK) miskin di Sultra, seperti pengadaan sembako, terutama beras dan gula. Uang sebesar Rp300 miliar tersebut sudah siap di kas pemprov yang bersumber dari DAU, pemotongan DAK, dan SILPA,” ungkap Muhammad Endang.

Menurut Endang, Gugus Tugas Covid-19 sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun disarankan untuk terus memperbaiki kinerja terutama memperkuat koordinasi antara tim di provinsi maupun dengan tim serupa di kabupaten/kota.

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) Muhammad Endang
Muhammad Endang

“Secara pribadi kami mengapresiasi gubernur dalam menyiapkan anggaran bagi perang semesta melawan pandemi corona ini,” katanya.

Selain menyiapkan anggaran untuk penanganan corona, gerak cepat berikutnya yang dilakukan Pemprov Sultra adalah memperketat jalur masuk di Sultra, baik melalui jalur darat, laut dan udara.

Gubernur Sultra, Ali Mazi melalui Plt Kepala Dinas Kominfo Sultra, Syaifullah menjelaskan, langkah tersebut diambil sebagai upaya menangani penyebaran Covid-19. Pemprov Sultra, kata Syaifullah belum bisa mengambil tindakan lockdown lantaran keputusan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat.

“Tapi yang perlu diperhatikan tindakan proaktif dalam menjaring lalu lintas manusia pada pintu-pintu masuk, dan memberi peringatan kepada para pendatang untuk tetap di rumah. Juga membatasi kontak fisik dengan orang lain,” ujar Syaifullah.

Batasan kontak fisik, lanjutnya, untuk menghindari penyebaran Covid-19. Terlebih bagi orang yang memiliki riwayat perjalan ke daerah yang terpapar Covid-19, atau pernah melakukan kontak dengan pasien yang diindikasikan positif Covid-19.

“Karena bisa jadi orang-orang tersebut dijangkiti virus selama dalam perjalannya. Makanya kita imbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah sebagai upaya membantu pemerintah dan petugas medis memerangi virus ini,” ujarnya.

Upaya penanganan berikutnya yang dilakukan Pemprov Sultra yakni membentuk Satgas Pemuda Covid-19 dengan melibatkan mahasiswa untuk bergerak membantu pemerintah dalam melawan virus tersebut.

Ali Mazi sangat mendukung terbentuknya satgas (pemuda Covid-19), terlebih satgas tersebut membawa misi bersama, tentang pencegahaan penyebaran Covid-19.

“Mereka anak-anak mahasiswa, ada dari kedokteran, farmasi, teknik, dan beberapa fakultas lainnya, termasuk dari HMI. Ingin membantu pemerintah atau negara dalam melawan virus corona,” kata Ali Mazi.

Satgas Pemuda Covid-19 bertugas membantu pemerintah, terutama dalam mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyebaran Covid-19 di wilayah Sultra.

Pemprov Sultra juga memutuskan meliburkan proses belajar mengajar seluruh sekolah yang ada di Sultra selama 14 hari. Langkah tersebut diambil, menyusul makin masifnya penyebaran virus corona di Indonesia. Proses belajar mengajar siswa dipindahkan ke rumah masing-masing.

Proses libur sekolah itu mulai diberlakukan Senin 16 Maret 2020. Untuk seluruh tingkatan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA/ SMK, SLB. Belajar di rumah ini kembali diperpanjang terhitung mulai 29 Maret 2020 hingga 29 Mei 2020

Langkah selanjutnya adalah menggenjot pembangunan ruang isolasi baru untuk penanganan pasien virus corona di RSUD Bahteramas. Pembangunan ruang isolasi baru ini sudah dilakukan sejak 24 Maret 2020 lalu. Penyelesaiannya pun terus digenjot, walau sempat terhambat lantaran para pekerja berhenti bekerja karena takut tertular virus corona.

Kepala Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Sultra, Pahri Yamsul menjelaskan, pembangunan ruang isolasi yang bersampingan dengan ruang isolasi yang telah ada membuat para pekerja takut. Selain itu, alat pelindung diri (APD) untuk para pekerja pun minim.

Kepala Dinas Cipta Karya, Bina Kontruksi dan Tata Ruang Porvinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Pahri Yamsul
Pahri Yamsul

“Tetapi saat ini, sudah ada didatangkan pekerja baru. Karena selama ini terkendala di tenaga kerja yang takut kerja di lokasi tersebut. APD terbatas untuk tenaga kerja, sehingga mereka takut tertular dan mereka berhenti kerja,” terangnya.

Meski begitu, kata Pahri, para pekerja yang baru didatangkan kini telah dilengkapi dengan APD. Walau tidak cukup banyak, namun proses pembangunan ruang isolasi masih terus dilanjutkan. Pihaknya pun, terus berusaha untuk secepatnya merampungkan pembangunan ruang isolasi tersebut.

“Kita tetap berusaha mencari solusi untuk hal ini. Intinya kita bekerja secara cepat, sehingga gedungnya bisa dengan cepat digunakan. Saat ini tengah dalam tahap penggalian fondasi bangunan,” bebernya.

Terkait anggaran, Pemprov Sultra menyiapkan anggaran sekitar Rp4,6 miliar. Ruang isolasi yang dibangun pun, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes).

“Yang jelas kami sudah menggambar itu, dan untuk bilik-biliknya sesuai dengan Permenkes. Saya juga kurang tahu berapa banyak. Intinya kami kerja sesuai prosedur dan berharap secepatnya selesai,” tutupnya.

Gubernur Ali Mazi juga meminta warganya yang berada di perantauan, khususnya di Jakarta agar tidak pulang kampung di tengah mewabahnya virus Corona.

Ali Mazi meminta warga Sultra yang berada di Jakarta untuk tetap berada di sana hingga situasi membaik dan pulih.

“Saat ini Indonesia sedang dilanda wabah virus corona atau Covid-19, termasuk di Sultra. Jadi untuk warga Sultra kalau bisa jangan pulang dulu, tetap di daerah perantauan dulu tinggal di rumah sampai wabah bisa diatasi,” kata Ali Mazi, Senin (30/3/2020).

Hal itu, kata Ali Mazi demi mencegah penyebaran Covid-19 di Sultra. Apalagi pemerintah pusat mengimbau masyarakat agar tetap berada di rumah masing-masing dan tidak bepergiaan keluar kota.

Seruan Memakai Masker

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi
Ali Mazi

Jumlah pasien positif Covid-19 di Sultra) kembali bertambah, dari sebelumnya hanya 5 orang menjadi 6 orang, per Minggu (5/4/2020). Keadaan tersebut membuat Pemerintah Sultra menyerukan agar semua orang memakai masker saat berada di luar rumah.

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Sultra Ali Mazi tentang penggunaan masker untuk mencegah penularan virus corona dalam surat seruan Nomor : 443/1529, Senin 6 April 2020.

Surat yang ditandatangani Gubernur Ali Mazi itu berisi agar masyarakat memperhatikan, sejumlah hal penting. Seperti peningkatan kasus Covid-19 di Provinsi Sultra dan telah terjadi transmisi lokal, maka diperlukan langkah-langkah bersama pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Telah mulai terjadi keterbatasan persediaan masker medis untuk tenaga medis, maka dengan ini diserukan kepada seluruh masyarakat di Provinsi Sultra agar melakukan hal – hal sebagai berikut. Selalu menggunakan masker ketika berada atau berkegiatan di luar rumah tanpa kecuali sesuai dengan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO),” tulis Ali Mazi dalam surat edarannya.

Selain itu, Ali Mazi juga meminta, agar masker bedah, masker N95 hanya untuk petugas kesehatan di fasilitas kesehatan atau di rumah sakit (RS). Sedangkan untuk masyarakat umum, menggunakan masker kain yang dapat dicuci setiap hari.

“Masyarakat juga dapat membeli atau membuat sendiri masker kain sesuai kebutuhan, dan juga tetap mengutamakan berada di rumah, menjaga jarak aman, budayakan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan dengan sabun serta melaksanakan etika batuk dan bersin,” tutupnya.

Hingga Senin, 6 April 2020 sudah ada 6 kasus positif Corona di Sultra, satu kasus sudah dinyatakan sembuh sehingga masih tersisa 5 kasus. Dua kasus di antaranya merupakan kasus lama, dan sisanya kasus baru. Salah satu pasien kasus baru tersebut lansia yang diketahui baru pulang dari Makassar. (Adv)

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib