iklan zonasultra

Hari Nyepi, Landono dan Mowila Sepi Benar

Hari Nyepi, Landono dan Mowila Sepi Benar
NYEPI - Waktu menunjukkan jam 05.44 Wita. Biasanya etnis Bali yang berdomisili di Kecamatan Landono dan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sudah terlihat sibuk menuju kebun dan sawah. Tapi hari ini, Sabtu 17 Maret 2018, etnis Bali yang menganut agama Hindu, tak terlihat beraktivitas. Ada apa? (Rustam Djamaluddin/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Umat Hindu di seluruh belahan Nusantara Indonesia, saat ini merayakan hari Nyepi. Hari yang benar-benar sepi aktivitas, seperti yang dilakukan keseharian.

Pemandangan ini terlihat jelas di beberapa desa yang terdapat di Kecamatan Landono dan Mowila, Kabupaten Konsel, Sultra. Dua kecamatan ini banyak dihuni warga Bali sejak tahun 1980-an. Mereka pindah domisili dari Provinsi Bali ke Provinsi Sultra, dengan status warga transmigrasi.

Pada zaman Orde Baru era kepemimpinan Presiden Soeharto, Provinsi Bali yang mulai padat penduduknya sebagian dipindahkan ke Sultra. Etnis ini ditransmigrasikan dengan tujuan utama, mempercepat pemerataan pembangunan, khususnya sektor pertanian dalam arti luas di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Sultra.

iklan zonasultra

Dan terbukti, kehadiran warga transmigrasi dari etnis Bali, kemudian berbaur dengan transmigrasi dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, mempercepat terciptanya lumbung pangan Kabupaten Konsel (dulu masih berstatus Kabupaten Kendari, sekarang berubah menjadi Kabupaten Konawe).

Kehadiran etnis Bali di Landono dan Mowila, menjadi aset dan kekayaan sekaligus kekuatan Bangsa Indonesia, dalam menjaga kerukukanan antaragama.

Saat warga Bali yang memeluk agama Hindu merayakan Hari Nyepi, tetangga lain yang berbeda agama, terlihat sangat menghargai dan menghormatinya.

Warga Bali yang lasim terlihat sibuk mengurus usaha atau pekerjaannya di pagi hari, namun Sabtu 17 Maret 2018, tak satupun yang terlihat beraktivitas. Pintu pagar dan pintu rumah tertutup rapat. Jendela rumah yang biasanya terbuka, juga terlihat terkunci.

Tak ada suara musik atau bunyi-bunyian lain yang terdengar. Semuanya hening. Tidak terlihat asap api mengepul di dapur. Tak seorangpun warga Bali yang dijumpai di jalan-jalan, termasuk di pusat pasar Landono.

Hari Nyepi, sungguh benar sepi dari hiruk pikuk kegiatan. Nyepi jatuh pada Sabtu, 17 Maret 2018, mulai jam 06.00 Wita sampai 18 Maret 2018, jam 06.00 Wita.

Hari Nyepi dikenal istilah Catur Brata Penyepian, yakni amati geni (tiada menggunakan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Dalam nyepi, disarankan berpuasa dan jam 06.00 Wita melakukan persembahyangan dengan menyebut nama Tuhan.

Bagi yang merayakan Hari Nyepi, ini merupakan penyujian diri dari hal-hal negatif dan meningkatkan keimanan. Selain itu untuk membersihkan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Aliti (diri manusia). Sifat-sifat kesombongan manusia dapat ditekan. (*)

 


Penulis : Rustam Djamaluddin
Editor : Tahir Ose

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib