iklan zonasultra

Hilirisasi Iptek di Pedesaan, Balitbang Sultra Gelar Diskusi Optimalisasi Inovasi Desa

DISKUSI OPTIMALISASI INOVASI DESA - Kepala Balitbang Sultra Sukanto Toding (baju putih) memandu diskusi optimalisasi inovasi desa di aula Kantor Balitbang Sultra, Rabu (11/10/2017). Diskusi tersebut dihadiri langsung oleh Konsultan Nasional Program Pendamping Inovasi desa (PPID) Rusdin, Koordinator National Support for Local Investment Climate (NSLIC) Sultra Wa Ode Diah Fardilah Oba, dan sejumlah SKPD lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra. (RAMADHAN HAFID/ZONASULTRA.COM)

DISKUSI OPTIMALISASI INOVASI DESA – Kepala Balitbang Sultra Sukanto Toding (baju putih) memandu diskusi optimalisasi inovasi desa di aula Kantor Balitbang Sultra, Rabu (11/10/2017). Diskusi tersebut dihadiri langsung oleh Konsultan Nasional Program Pendamping Inovasi desa (PPID) Rusdin, Koordinator National Support for Local Investment Climate (NSLIC) Sultra Wa Ode Diah Fardilah Oba, dan sejumlah SKPD lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra. (RAMADHAN HAFID/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengadakan diskusi optimalisasi inovasi desa di aula Kantor Balitbang Sultra, Rabu (11/10/2017). Diskusi tersebut dihadiri langsung oleh Konsultan Nasional Program Pendamping Inovasi desa (PPID) Rusdin, Koordinator National Support for Local Investment Climate (NSLIC) Sultra Wa Ode Diah Fardilah Oba, dan sejumlah SKPD lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra.

Kepala Balitbang Sultra Sukanto Toding mengatakan, diskusi ini bertujuan untuk mengoptimalisasi kegiatan hilirisasi hasil-hasil kelitbangan Balitbang Sultra, khususnya hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di kawasan pedesaan.

Dikatakan, program inovasi desa adalah program dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatan kapasitas desa dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan desa yang berkualitas.

“Nah ini program inovasi desa memakai nomenklatur inovasi desa, yang ingin membawa dana desa untuk bisa dimanfaatkan dalam rangka inovasi. Jadi dana desa bukan hanya dimanfaatkan untuk buka jalan desa dan infrastruktur lain. Tetapi didorong juga untuk pengembangan inovasi dan inovasi itu banyak hal,” jelasnya.

Sukanto mengungkapkan, Balitbang sebagai badan yang bergerak dibidang penelitian dan pengembangan merasa perlu memberikan dukungan. Apalagi Balitbang Sultra memiliki tagline “siap untuk hilirisasi teknologi ke pedesaan”. Sehingga hasil-hasil teknologi, Iptek, atau kajian Sultra bisa dimanfaatkan desa.

Balitbang juga banyak memiliki produk-produk penelitian. Misalnya pengembangan karang ikan hias, pengembangan ikan sidat, dan pengembangan lobster yang bisa disalurkan di pemerintah desa.

“Kami memberikan topik hasil kajian penelitian kami ke pemerintah desa untuk dilaksanakan dari pada mendorong inovasi desa itu dari mereka sendiri, apalagi pengetahuan masyarakat di desa masih terbatas. Litbang menjadi sumber. Pertama dari sisi kami itu teknologi, selain membantu teknologi kita juga bantu pasarnya,” ungkapnya.

Untuk pengembangan karang hias, kata Sukanto, sudah ada desa yang akan dijadikan contoh atau model untuk pengembangan inovasi desa yakni desa di sekitar Pulau Bokori, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Selain itu, pasaran untuk karang hias ini juga sudah ada, tinggal masyarakat desa tersebut dilatih dalam hal pengembangan karang hias dan pemerintah desa tinggal sepakat dari sisi pendanaan.

Selain mendiskusikan hilirisasi Iptek di kawasan pedesaan, kegiatan ini juga mendiskusikan tentang optimalisasi produk perencanaan data dan kajian perekonomian daerah. Sukanto mengungkapkan, kajian perekonomian daerah merupakan proyek NSLIC.

Banyak aspek yang akan didorong, baik itu komoditas unggulan, pola kerja multi pihak sektor sampai kemudian hal-hal yang sifatnya rencana jangka menengah khususnya bidang ekonomi.

“Kami merasa bahwa Balitbang ingin link bersama-sama mereka memberikan dukungan, utamanya dalam rangka membangun sebuah rencana kegiatan ekonomi yang baik. Maksudnya bisa digunakan oleh semua pihak, bukan saja oleh pemerintah, tapi juga oleh swasta,” tukasnya.

Di tempat yang sama, Koordinator NSLIC Sultra Wa Ode Diah Fadillah Oba mengatakan, NSLIC tidak memberi uang ke pelaku UMKM. Tetapi hanya memberikan penguatan kapasitas pada stakeholder, tujuannya agar mereka mempunyai kemampuan untuk membina UMKM.

“Hambatan-hambatan apa yang terjadi sehingga UMKM tidak bisa berkembang. Apakah regulasi mendukung atau tidak, kita akan kaji. Kemudian kita lihat dari aspek gendernya, apakah usaha-usaha yang dikembangkan itu sudah responsif gender atau tidak dan apakah produk-produk yang dikembangkan itu sudah ramah lingkungan atau tidak,” jelasnya.

Fadillah Oba menuturkan, NSLIC telah melakukan kajian di lima kabupaten/kota di Sultra untuk membangun ikkim investasi di daerah tersebut. Kelima daerah itu adalah Kota Kendari, Kota Baubau, Bombana, Wakatobi, dan Konawe Selatan. Tetapi dari lima daerah tersebut dua daerah sudah clear, yakni Wakatobi untuk pengembangan rumput laut, kemudian Konawe Selatan untuk pengembangan ternak sapi Bali. Sementara tiga daerah lainnya masih dalam tahap pengkajian. (B)

Reporter : Ramadhan Hafid
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib