iklan zonasultra

HMI Pasarwajo Demo Tolak Festival Budaya Tua Buton

HMI Pasarwajo Demo Tolak Festival Budaya Tua Buton
DEMONSTRASI - Buton Buton, Laode Zilfar Djafar saat berdialog dengan perwakilan demonstran di aula kantor Bupati Buton Takawa terkait persoalan aksi unjuk rasa yang dilakukan HMI Pasarwajo, Kamis (16/8/2018). (Nanang/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, PASARWAJO – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Insan Cita Pasarwajo menggelar demonstrasi di halaman kantor Bupati Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (16/8/2018).

Mereka menolak pelaksanaan Festival Budaya Tua Buton yang akan digelar oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat pada tanggal 23 hingga 26 Agustus nanti.

Koordinator lapangan (korlap) aksi, Muhamad Sadam menilai, event festival Budaya Tua Buton yang memasuki tahun keenam ini tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian masyarakat Buton.

iklan zonasultra

“Hanya membuang-buang anggaran daerah,” kata Sadam dalam orasinya di depan kantor Bupati Buton.

(Baca Juga : Pemda Buton Libatkan Pelajar dalam Festival Budaya Tua)

Para demonstran juga meminta Dinas Kebudayaan Kabupaten Buton sebagai instansi teknis penyelenggara festival itu agar mampu menampilkan tarian asli daerah Buton dalam event tersebut. Sebab selama ini, festival yang digelar dengan uang rakyat itu selalu memunculkan tarian-tarian dari luar.

Selain itu, masa j uga meminta Pemda Buton untuk meninjau kembali asal usul para penari yang konon katanya melibatkan anak sekolah. Pasalnya semanjak dilaksanakannya Festifal Budaya Tau ini, para siswa sekolah itu hanya dijadikan sebagai aktor tari tersebut. Sisanya tidak diketahui asal-usulnya.

Selanjutnya, mereka juga meminta agar Bupati Buton, La Bakry mencopot Kepala Dinas Kebudayaan Buton, karena selama ini mereka nilai, kinejanya lamban dalam beberapa tahun ini.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Buton Laode Zilfar Djafar menjelaskan, penyelenggaraan festival itu merupakan ajang yang berharga bagi masyarakat setempat.

Dia pun mengakui, sebenarnya sejak awal pembahasannya, festival budaya Tua Buton telah mendapat tanggapan pro dan kontra. Namun, dia berharap agar semua pihak bisa melihat even itu ebagai ajang untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

“Selain itu, festival budaya ini juga berfungsi berfunsi sebagai aktualisasi jati diri mayarakat Buton pada umumnya. Kebudayaan juga berfungsi sebagai pembinaan karakter dalam aspek pendidikan. Sehingga masyarakat tidak kaget kalau masyarakat melihat even ini digelar di daerah lain,” jelasnya.

(Baca Juga : Pemprov Sultra Undang Presiden Jokowi Hadiri Festival Budaya Tua Buton)

Zilfar juga membantah jika even itu tidak memberikan dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat setempat. Sebab, dalam beberapa kali digelar, festival itu dinilai mampu mendongkrak pendapatan masyarakat Buton.

“Contohnya para pedagang, selama kegiatan berlangsung mereka ikut merasakan keuntungannya,” terangnya.

“Adapun terkait anak-anak pelajar yang ikut dilibatkan, tahun ini kita sudah batasi. Sebab kita coba tingkatkan kualitas tidak hanya serimonial, agar lebih bagus dan tertata,” imbuhnya.

Kendati demikian, Zilfar berjanji terhadap tuntutan demonstran kali ini, dirinya bakal menyampaikan aspirasi masa itu kepada Bupati Buton, La Bakry. (C)

 


Reporter : Nanang
Editor : Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib